Bab Seratus Tiga Puluh Tujuh: Sosok Zhang Meili
"Ayah, Ibu, selamat pagi," sapa Zhao Bi sambil tersenyum.
"Tidak pagi lagi. Aku tidak punya anak sepertimu," sahut Zhang Meili dengan ketus.
Ekspresi Zhao Yu menegang. Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, dia tahu bahwa tak lama lagi Zhang Meili akan mengaitkan masalah ini dengan genetika, lalu menyeretnya ke dalam pembicaraan. Namun, meskipun begitu, dia harus tetap berperan sebagai lawan bicara yang baik, karena jika tidak, nasibnya akan jauh lebih buruk nanti.
Maka, dengan memberanikan diri, Zhao Yu bertanya, "Ada apa? Marah lagi?"
"Tanya saja pada anakmu!" seru Zhang Meili lantang. "Sepanjang hari hanya tahu bersikap plin-plan dan penuh tipu daya. Bisanya hanya mempermainkan anak gadis orang."
"Zhao Bi, apa yang sebenarnya terjadi?" Zhao Yu memasang wajah tegas.
Zhao Bi berkata tanpa daya, "Aku benar-benar difitnah. Aku tidak melakukan apa-apa, itu hanya karangan Zhang Meili sendiri."
"Apa katamu, 'Zhang Meili'? Dengar, maksudmu kamu tidak berniat menganggapku sebagai ibu lagi, begitu? Bagus, sekarang sayapmu sudah kuat, sampai-sampai tidak mau mendengarkan kata-kataku lagi."
"Tapi bukankah Ibu sendiri yang memintaku untuk tidak memanggilmu Ibu?"
"Aku memintamu tidak memanggil, lalu kamu benar-benar tidak memanggil? Aku ini ibumu atau kamu ibuku? Bagus, kamu sekarang..."
"Berhenti, berhenti, berhenti. Aku salah, Bu," potong Zhao Bi dengan kulit kepala yang terasa tegang.
"Sebenarnya ada apa? Jelaskan padaku," desak Zhao Yu.
"Kenapa kamu membentak? Biasanya kamu tidak peduli pada anakmu, tapi kalau ada masalah, kamu tahunya cuma membentak? Apa kamu pantas jadi ayah? Aku beritahu kamu, Zhao Bi menjadi seperti ini semuanya karena ulahmu."
"Tunggu, jangan bicara dulu. Menurutmu, bagaimana lengkungan ini?" Zhao Yu menunjuk ke bagian ujung alis kanan atas.
Zhang Meili melihat ke cermin, menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu berkata, "Menurutku bisa sedikit lebih diturunkan lagi, agar terlihat lebih lembut."
"Dimengerti," Zhao Yu mengangguk dan melanjutkan menggambar dengan teliti.
Zhang Meili bertanya, "Tadi aku sampai di mana?"
"Zhao Bi menjadi seperti ini semuanya salahku," jawab Zhao Yu dengan jujur.
"Benar, semuanya salahmu!" Aura Zhang Meili seketika kembali bangkit, nyaris saja dia berkacak pinggang. "Sifatnya yang plin-plan dan tidak setia itu pasti adalah genetika yang diwariskan olehmu, Zhao Yu. Dulu aku benar-benar buta, peri cantik sepertiku bisa-bisanya tertipu olehmu. Cepat katakan, apakah kamu di belakangku sering tebar pesona dengan gadis-gadis di luar sana?"
"Aku tidak melakukannya, aku bersumpah aku benar-benar tidak melakukannya," Zhao Yu tersenyum pahit.
***
"Ayah, Ibu, kalian mau makan apa? Biar aku yang beli," sela Zhao Bi di saat yang tepat.
"Cakwe dan susu kedelai saja, susu kedelainya tambahkan banyak gula," jawab Zhang Meili.
"Aku sama dengan ibumu," tambah Zhao Yu sambil mengangguk.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Zhao Bi segera meninggalkan ruangan yang penuh kebahagiaan sekaligus kebisingan itu. Baginya, begitu Zhang Meili mulai menceramahi orang, itu adalah siksaan yang tiada akhirnya. Tidak berlebihan rasanya menyebutnya sebagai "Ratu Penyiksa" tingkat nasional.
Zhao Bi pergi ke kamar kakek dan nenek di sebelah. Setelah menanyakan keinginan mereka, dia pun keluar untuk membelikan makanan untuk semuanya.
Saat keluarga itu selesai sarapan, hari sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Zhang Meili akhirnya kembali terlihat anggun dan cantik karena dia sudah berpakaian rapi dan berdandan. Dengan dua hal itu, dia selalu bisa menampilkan sisi terbaik dirinya.
Kebetulan ada lima orang, Zhao Bi langsung menyewa sebuah mobil di agen penyewaan, dengan Zhao Yu sebagai pengemudinya. Kemudian, Zhao Bi merencanakan perjalanan hari itu. Ini sudah menjadi kebiasaan keluarga mereka saat berwisata; setiap kali pergi, pembagian tugasnya selalu seperti ini.
Tentu saja, tanpa terkecuali, Zhao Bi selalu bertanggung jawab atas berbagai urusan remeh-temeh yang melelahkan namun tidak pernah mendapat pujian. Jika berhasil, dia tidak dipuji, tetapi jika sedikit saja ada kesalahan, dia akan habis dicaci. Itulah alasan mengapa Zhao Bi selalu sangat enggan setiap kali ada rencana wisata keluarga.
Keluarga Zhao tidak pernah memusingkan rute wisata. Mereka hanya menulis nama-nama tempat wisata di atas kertas, lalu mengundinya. Ke mana pun hasil undiannya, ke sanalah mereka pergi.
"Jadi, tujuan pertama adalah Istana Kepresidenan. Ayo berangkat, tidak jauh dari sini," ujar Zhao Bi setelah melihat gulungan kertas. Dia duduk di kursi depan untuk menunjukkan arah.
Istana Kepresidenan merupakan bangunan bersejarah yang ikonik di Jinling, tempat tinggal banyak tokoh ternama. Setiap kali berwisata, saat mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti ini, saat itulah menjadi panggung bagi Kakek dan Nenek Zhao.
Kedua orang tua itu sangat berwawasan luas, terutama soal sejarah, seolah-olah mereka menyimpan ensiklopedia di kepala mereka. Kakek Zhao tampak memegang kipas kertas putih sambil mengenakan setelan Zhongshan, suaranya lantang menceritakan sejarah dari Dinasti Ming, Dinasti Qing, hingga era Republik.
Namun, kakek tidak menceritakan sejarah resmi, melainkan kisah-kisah rakyat dan legenda. Dari anekdot perjalanan Kaisar Kangxi ke selatan hingga kehidupan pribadi Hong Xiuquan. Sementara itu, Nenek Zhao bertugas sebagai komentator tambahan. Keduanya bekerja sama dengan sangat serasi.
Bahkan Zhao Bi pun hampir terhanyut mendengarkannya. Alhasil, muncullah pemandangan ganjil di Istana Kepresidenan: keluarga Zhao dengan cepat dikelilingi oleh sekumpulan wisatawan yang mendengarkan dengan antusias. Berbagai macam pertanyaan pun muncul.
Kakek menanggapi semuanya dengan luwes, menjawab dengan sangat meyakinkan, entah itu fakta atau sekadar bualan. Bukankah ini jauh lebih menarik daripada penjelasan pemandu wisata? Para pemandu wisata yang ditinggalkan hanya bisa berdiri dengan canggung sambil mencuri dengar.
Hingga waktu berlalu cukup lama dan mereka hampir menyelesaikan separuh kunjungan, kerumunan itu akhirnya bubar dengan berat hati. Kakek Zhao meminum air mineral dengan perasaan belum puas. Nenek Zhao di sebelahnya berkata, "Setiap kali kita bercerita selalu seramai ini, bagaimana kalau lain kali kita minta bayaran?"
"Apakah itu pantas?" Kakek tertegun sejenak.
Nenek menunjuk hidung kakek, "Apa yang tidak pantas? Ekonomi kita saja sedang sulit. Lagipula, kamu kalau main kartu selalu kalah, selalu kalah, dari mana lagi uang untuk menutupi kekalahanmu? Jangan sok suci, kalau tidak, kita bisa kelaparan!"
"Nenek, kita main saja dulu, soal itu dibahas nanti," Zhao Bi merasa wajahnya berkedut hebat. Dia segera merangkul bahu neneknya dan mengajaknya terus berjalan.
Dia takut jika diteruskan, neneknya akan mengeluarkan ide-ide aneh lainnya. Dua wanita yang paling sulit ditebak isi kepalanya dalam kehidupan sebelumnya adalah Zhang Meili dan neneknya. Yang pertama selalu memiliki alur berpikir yang ajaib, sementara yang kedua selalu memiliki ide yang mengejutkan siapa pun.
Setelah selesai menjelajahi Istana Kepresidenan, mereka berlima mencari restoran khas setempat untuk makan siang. Sore harinya, mereka kembali melakukan undian dan hasilnya adalah Pemandian Air Panas Tangshan. Mereka menghabiskan sore dengan berendam di sana dan tidak pergi ke mana pun lagi. Setelah merasa segar kembali, mereka pun pulang ke hotel lebih awal.
Hanya mengunjungi dua tempat dengan santai dalam sehari, itulah cara keluarga Zhao berwisata—tidak terburu-buru dan tenang. Sesampainya di hotel, keempatnya mulai bermain mahyong. Zhao Bi sama sekali tidak tertarik menonton, jadi dia segera kembali ke kamarnya sendiri.
Dia sempat berusaha mencari tahu ke mana Qiu Baiwei membawa orang tuanya berlibur, namun gadis itu bungkam dan tidak mau memberitahu rencananya. Dia takut Zhao Bi akan langsung membawa keluarganya menyerbu ke sana.
Keesokan harinya, hasil undian keluarga jatuh pada Sungai Qinhuai. Maka, sore harinya mereka langsung menuju ke sana, sekalian mengunjungi Kuil Fuzi. Meskipun saat ini adalah musim sepi wisata, namun karena akhir pekan, kawasan tepi Sungai Qinhuai tetap sangat ramai sejak pagi hari.