Bab 4 Terpedaya
Mao Mao mengintai reaksi Jiashan dari tempat tersembunyi, lalu segera terbang kembali ke sisi Xu Shanshan.
“Shanshan, burung ini benar-benar tidak mengerti. Dia baru saja menyelamatkan satu nyawa, tetapi kenapa kelihatannya malah seperti baru membunuh seseorang?”
Xu Shanshan sedang mendesis menahan perih sambil mengoleskan obat dan membalut kakinya yang terluka. Sebenarnya ia tidak berniat mencederai diri hingga separah itu, tetapi memang begitulah garis nasibnya. Setelah “tubuhnya merosot”, “keberuntungannya” pun datang merosot tepat pada waktunya.
Sandiwara yang berubah menjadi kenyataan itu bisa dianggap sebagai jawaban atas gurauan yang pernah diucapkannya sendiri.
—Menggoda Buddha hingga melanggar pantangan, menjerumuskannya ke dalam dunia fana. Itu adalah dosa; jika aku harus menderita sedikit lebih parah, memang sudah sepantasnya.
“Membuat seseorang yang terlalu kuat berpegang pada aturan dan moral memilih antara menyelamatkan satu orang dengan mengorbankan sepuluh orang, atau menyelamatkan sepuluh orang dengan mengorbankan satu orang, pada akhirnya ia tetap akan disiksa oleh suara hatinya. Sebab saat pilihan itu dibuat, berarti ia harus bertanggung jawab atas pihak yang ditinggalkan.”
Dan kebetulan, peran yang dimainkannya adalah orang yang ditinggalkan setelah “menimbang untung dan rugi”.
Mao Mao hanya memahami sebagian, tetapi berhasil menangkap hal terpenting. “Kau ingin dia bertanggung jawab atasmu?”
Xu Shanshan menyentuh ringan kepala kecilnya. “Hati manusia itu rumit. Biksu Buddha Jiashan ini tampak mudah diajak bicara dan mudah tersentuh, tetapi pada hakikatnya seorang penganut Buddha menenangkan nafsu, mengendalikan hati dengan aturan. Mana mungkin begitu mudah ditaklukkan? Ini baru pertemuan pertama.”
Mao Mao menggesekkan kepalanya pada tubuh Xu Shanshan. “Tapi burung ini merasa kasihan padamu. Luka kali ini tidak ringan.”
“Pengorbanan diperlukan untuk memperoleh imbalan. Tak perlu merasa kasihan.” Xu Shanshan menunduk memandangi kakinya yang terluka. Ini akan menjadi senjata ampuh baginya untuk berpura-pura menyedihkan kelak. Selama sesuatu itu layak dilakukan, ia tak pernah ragu-ragu.
—
Kelaparan telah melanda Jiangling selama berbulan-bulan, tetapi istana masih belum juga mengeluarkan tindakan apa pun untuk menolong daerah bencana. Sebaliknya, para bangsawan setempat bekerja sama dengan keluarga Tang di Jiangling, dengan murah hati menyumbangkan dan mengerahkan bahan makanan, jerami, pakaian, serta kebutuhan lainnya untuk meringankan beban para korban.
Namun, Kota Jiangling hampir tak sanggup lagi menolong begitu banyak pengungsi yang datang dari luar. Hal itu terlihat dari frekuensi pembagian bubur di luar kota—yang semula dilakukan setiap hari, kini hanya dilakukan dua atau tiga hari sekali.
Orang yang kelaparan sampai kehilangan akal sanggup melakukan apa saja. Belum genap setengah bulan, ikan, burung, dan binatang liar telah habis disantap. Bahkan kulit pohon, akar rumput, sayuran liar, dan segala sesuatu yang bisa dimasukkan ke mulut pun telah disapu bersih.
Ketika mengetahui bahwa di luar kota telah terjadi “saling menukar anak untuk dimakan dan memasak dengan tulang belulang”, Jiashan segera berunding dengan kepala kota untuk membuka lumbung amal.
Sebelumnya, kepala kota memberi Jiashan banyak kelonggaran dan perlakuan istimewa karena ia merupakan anggota keluarga Tang. Namun, kedudukannya tetap tidak cukup untuk menggantikan wewenang istana dalam mengeluarkan perintah.
Padi yang disimpan di lumbung amal memang dipersiapkan untuk membantu rakyat dan menanggulangi bencana pada tahun-tahun paceklik. Namun, pembukaan lumbung harus menunggu perintah resmi dari istana yang disampaikan dari tingkat atas hingga bawah. Bukan berarti pejabat setempat dapat membukanya sesuka hati.
“Lalu, mengapa kepala kota begitu lama tidak melaporkan keadaan ini kepada atasan?”
“Siapa bilang belum dilaporkan? Sudah, tetapi pihak atas tak pernah memberikan tanggapan. Aku sendiri juga berada dalam kesulitan.”
Jiashan tidak memahami alasan di balik semua itu, tetapi jelas kepala kota telah mendengar beberapa kabar. Kerutan di antara alisnya tampak dalam ketika ia berkata, “Aku khawatir negara sedang berada di ambang kekacauan. Berbagai pihak berebut kekuasaan, sehingga tak ada waktu untuk mengurusi tempat kita.”
Tak lama kemudian, Jiashan juga menerima surat rahasia tingkat tertinggi dari mata-mata keluarga Tang: Raja Ketujuh telah melancarkan pemberontakan. Keluarga kerajaan saling berebut kekuasaan pusat, mencampuri urusan pemerintahan dan menyalahgunakan wewenang. Pada saat itulah Kaisar Yue tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri tanpa sebab yang jelas. Hanya Ibu Suri Agung yang dapat tampil memimpin dan untuk sementara menstabilkan keadaan istana.
Namun, jelas bahwa Ibu Suri Agung telah lanjut usia dan tidak lagi memiliki cukup tenaga. Jika Kaisar Yue tak kunjung sadar, sementara Raja Ketujuh menguasai satu wilayah dan memaksakan pemisahan kekuasaan, jatuhnya kewibawaan kekaisaran hanyalah soal waktu.
Meski Jiashan sepenuh hati ingin menjadi seseorang yang terlepas dari dunia fana, sejak lahir ia adalah anggota keluarga Tang. Tanggung jawab telah melekat padanya, dan ia khawatir pada akhirnya tetap tak mampu melepaskan diri dari himpitan zaman kacau.
Karena hatinya tak kunjung tenang, ia duduk bermeditasi sepanjang hari. Menjelang senja, ia berjalan ke atas tembok kota. Esok hari, para biksu dari Kuil Jialan akan mengadakan penyebaran ajaran bersamanya di luar kota, agar lebih banyak orang dapat mendengar ajaran yang benar dan memperoleh pembebasan.
Meskipun hal itu tak dapat menyelesaikan persoalan di depan mata, setidaknya hati manusia dapat dimurnikan dan jiwa memperoleh penghiburan.
Di tengah renungan yang berat dan mendalam, tanpa sengaja Jiashan melihat, di samping dua kolam berliku, sesosok tubuh kurus sedang menggendong seorang anak kecil menyusuri tembok kota.
Perempuan itu berjalan dengan sangat susah payah. Pinggangnya bungkuk, satu tangannya berpegangan pada dinding, sementara salah satu kakinya pincang dan hanya kaki yang lain yang dapat digunakannya untuk bertumpu.
Tampaknya tenaganya hampir habis. Tanpa sengaja ia menendang batu yang menonjol, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh terhempas ke tanah dengan suara keras.
Kejadian itu membuat Jiashan sedikit mengernyit.
Itu seorang perempuan, tetapi tubuhnya tampak tak lebih besar daripada anak yang digendongnya. Dengan susah payah ia bangkit, memeluk anak yang tak bergerak itu ke dalam pelukannya, lalu duduk termangu di tanah.
Setelah waktu yang lama, gadis itu mengedipkan bulu matanya, seperti kupu-kupu yang meringkuk dan bergetar lembut.
Ia menundukkan pandangan, mengeluarkan setengah potong mantou kukus dari balik pakaiannya, lalu dengan hati-hati meremukkannya dan menyuapkannya sedikit demi sedikit ke mulut anak perempuan yang terpejam dalam pelukannya. Kemudian, seolah-olah kesedihan besar menyapu seluruh tubuhnya, ia tak kuasa menahan gemetar. Dari bibirnya terdengar gumaman yang terputus-putus.
“Jangan mati, kau harus bertahan hidup…”
“Aku akan memberikan semua makanan yang kumiliki kepadamu. Kumohon, jangan mati. Bertahanlah…”
Jiashan tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya, tetapi dalam keheningan yang ia saksikan, seolah-olah ada batu seberat seribu kati menekan dadanya.
Semburat senja bagaikan seorang tua penuh kasih, berusaha memberi sedikit penghiburan kepada bumi yang merana dengan cahaya keemasan yang lembut. Namun, cahaya itu tak mampu mengusir kesedihan senja yang sebentar lagi akan ditelan kegelapan dari tubuh gadis tersebut.
Jiashan merasakan kehangatan dan kesedihan yang tak berujung itu. Ia melafalkan dalam hati Sutra Penyeberangan Arwah, menemani gadis itu membisu di bawah cahaya matahari terbenam.
…Ia telah melihat bahwa anak itu sudah mati.
Pada saat yang sama, ia juga mengenali gadis itu.
Segala sesuatu tidak kekal; segala sesuatu adalah penderitaan. Tiada diri dalam segala hukum; kedamaian sempurna adalah kebahagiaan.
Saat itu, seorang lelaki paruh baya dan seorang perempuan bergegas menghampiri dengan wajah penuh amarah. Wajah mereka kurus, kulit mereka kekuningan, mengenakan pakaian kasar dan sandal jerami. Jelas mereka adalah pengungsi dari kawasan kumuh.
Begitu tiba, mereka dengan kasar menarik anak kecil dari pelukan gadis itu, lalu menendangnya hingga terjatuh.
“Cih, dari mana datangnya pencuri kecil ini? Bahkan mayat pun kau curi! Apa kau ingin mati?”
Gadis itu menahan sakit hingga keringat dingin membanjiri wajahnya, tetapi tetap mencengkeram lengan anak itu erat-erat dan tidak mau melepaskannya.
“Jangan…”
Suaranya lemah, tetapi tekadnya sangat kuat.
Lelaki itu berteriak marah, “Ini anakku! Kalau kau tidak segera melepaskannya, awas kupukul sampai mati!”
Mendengar itu, Jiashan merasa semakin tidak memahami keadaan. Mengapa gadis itu mencuri mayat anak orang lain dan bahkan berniat menyembunyikannya?
Sampai akhirnya ia mendengar gadis itu berkata,
“Jangan… jangan makan dia… Dia manusia, dia anak kalian, bukan binatang!”
Gadis itu menatap mereka dengan keras kepala dan penuh kebencian. Namun, air mata di sudut matanya terus mengalir seperti untaian mutiara. Jelas ia sangat membenci kekejaman mereka, sekaligus merasa amat berduka.
Jiashan tersentak.
Barulah ia memahami seluruh kebenaran.
Mendengar belum tentu benar, melihat barulah nyata. Saling menukar anak untuk dimakan ternyata benar-benar terjadi.
Pasangan itu bergantian memucat dan membiru mendengar perkataannya. Karena malu dan marah, mereka membentak, “Apa yang kau tahu? Kami masih hidup dan ingin terus hidup. Di zaman seperti ini… hanya dengan berhenti menjadi manusia seseorang bisa tetap hidup!”
Yang seorang menyeret tubuh itu, sementara yang lain dengan paksa melepaskan tangan gadis tersebut. Setelah berhasil, mereka menggendong mayat itu dan berlari pergi.
Tatapan dingin Jiashan beralih dari pasangan itu, lalu kembali jatuh pada gadis pincang tersebut. Bahkan untuk bangkit saja ia sudah kesulitan, apalagi mengejar mereka.
Seolah-olah setiap kali bertemu dengannya, gadis itu selalu berada dalam keadaan mengenaskan dan menyedihkan.
Namun, meski telah mengalami penghinaan dan ketidakadilan, ia tetap mempertahankan hati yang baik dan murni seperti emas. Dirinya sendiri masih tenggelam dalam lautan penderitaan, tetapi ia masih memikirkan cara melindungi orang lain dari hujan.
Anak bodoh.
Desahan Jiashan dipenuhi rasa iba dan kelembutan.