Bab Empat Puluh Enam: Thor Mengadakan Inspeksi Pasukan!
Thor adalah Dewa Petir, bukan dewa palu. Bahkan jika kekuatan dewa miliknya telah dilucuti atau disegel oleh Odin, tubuh Thor tetap secara naluriah dapat bereaksi terhadap kekuatan tersebut. Duwa mengalirkan kekuatan petir dari Mjolnir ke tubuh Thor, dan benar saja, Thor pun terbangun. Tubuhnya seolah mendapat suntikan adrenalin, proses penyembuhan luka semakin cepat.
Thor memeriksa tubuhnya dengan cepat. Melihat luka di dadanya yang mulai pulih, ia mengintip ke dalamnya.
“Tenang saja, tidak ada makhluk asing di sana. Aku sudah mengeluarkannya sejak awal,” kata Duwa sambil menarik kursi yang sudah penuh lubang bekas peluru, lalu duduk di depan Thor.
“Perang sudah berakhir? Bagaimana dengan Loki?”
“Ia melarikan diri. Baru tiba di Bumi sudah kena batunya, mungkin itu bisa membuatnya belajar. Tapi, keadaannya sekarang pasti tak baik, memakai begitu banyak sihir pasti ada akibatnya,” jawab Duwa.
Thor menghela napas lega. Selama Loki yang licik itu bisa lolos, sisanya bukan urusannya lagi. Namun, ia menatap palu petir di tangan Duwa dengan getir.
Dengan pikirannya yang lurus, Thor memang tak paham semua yang terjadi. Tapi hanya dengan melihat Mjolnir dipermainkan begitu saja oleh Duwa, hatinya sudah terasa pilu. Setelah Magneto, kini Duwa pun bisa melakukannya. Ia benar-benar terpukul dan kehilangan kata-kata.
“Manusia Midgard, aku ingin menantangmu,” ujar Thor seraya berdiri, menatap kekuatan dewanya yang perlahan menghilang dari tubuhnya, namun ia tetap teguh.
“Apa alasannya, Putra Odin?”
“Engkau telah mempermalukanku. Sebagai bangsa Asgard, kehormatan adalah segalanya.”
“Apa yang sudah kulakukan sampai mempermalukanmu?”
“Kau menggunakan ras pengikutmu untuk menjadikanku inang bagi makhluk itu.”
“Tapi aku sudah mengeluarkannya, dan kekuatan yang kujanji padamu juga sudah hilang. Bukankah itu yang kau inginkan? Kau sudah membantu Loki tanpa mempedulikan apapun, aku berhasil membuat Loki lolos. Sebagai anak Odin yang menjunjung kehormatan, begitukah caramu membalas budi—dengan menantangku bertarung mati-matian?” Duwa tersenyum ramah.
Ia memang tidak menceritakan pada Thor bahwa cara ia membantu Loki lolos ialah dengan bekerja sama dengan Magneto untuk menghajar Loki ramai-ramai hingga Loki terpaksa melarikan diri.
Thor membuka mulut, lalu berbalik dan berjalan pergi. “Baiklah, aku akan mencari tempat untuk mengakhiri hidupku.”
Duwa mengangguk pelan. Memang begitulah watak Thor. Namun baru saja ia bergerak, beberapa dokter langsung menahan Thor.
“Tunggu, setidaknya biarkan kami meneliti tubuhmu dulu!”
Duwa mengibaskan tangan, beberapa makhluk asing langsung mengusir para dokter itu, lalu ia menyuruh Raven keluar membersihkan mayat di luar. Kepada Thor, ia berkata, “Keberanianmu menghadapi kematian sudah kulihat, tapi selain itu, tanggung jawab sebagai putra Odin sama sekali belum terlihat.”
“Apa yang kau tahu! Aku telah melakukan kesalahan besar, aku bukan lagi Dewa Petir! Bahkan Mjolnir pun telah memilihmu,” ujar Thor dengan wajah penuh duka. Ia benar-benar merasa hancur.
Dewa Petir yang telah begitu bangga selama ribuan tahun, belum pernah mengalami penghinaan seperti ini!
“Kalau kehilangan kekuatan dewa saja membuatmu seperti ini, berarti selama ini kau hanya mengandalkan palu, bukan kekuatanmu sendiri. Aku belum pernah dengar, ketika Odin kehilangan tombak abadi dan zirah penghancur, ia bukan lagi Raja Dewa. Sebagai keturunan raja para dewa, tanpa Mjolnir pun kau tetap dewa. Kekuatan dahsyat itu hanya tertidur di dalam dirimu,” ujar Duwa.
Thor seharusnya baru membangkitkan kekuatannya yang sejati saat pertarungan dengan Hela, menjadi Dewa Petir versi 2.0 yang tak memerlukan palu. Namun Duwa tetap mencoba membangkitkannya sekarang, entah berhasil atau tidak.
Thor terdiam, tampak merenung. “Berikan Mjolnir padaku, aku merasa—”
“Aku tak peduli apa pendapatmu. Yang penting pendapatku. Kenapa aku harus memberikannya padamu?” Duwa menggenggam palu erat-erat.
Tentu saja tidak. Ia baru saja mendapatkan kekuatan dewa dan mengonfirmasi bahwa kekuatan itu adalah semacam energi tubuh. Berdasarkan contoh berbagai bangsa dewa di alam semesta, kekuatan ini bisa diwariskan secara genetik. Mana mungkin ia mau menyerahkan benda sehebat itu dengan mudah?
“Pinjamkan saja!” suara Thor terdengar pilu.
“Tidak,” tolak Duwa. “Aku tidak akan meminjamkan kekuatan milikku pada orang luar yang tak punya nilai bagiku.”
“Kau bisa mengangkat Mjolnir itu juga karena kau menggunakan makhluk hidup itu untuk menjangkiti tubuhku.”
Duwa mengangguk tenang. “Benar juga, tak sulit menebaknya. Tapi kau bisa menyadarinya secepat ini, sungguh mengejutkan.”
Duwa menunjuk dadanya. “Menurut penjelasanmu, para pengikutku—makhluk asing itu—punya kemampuan memperoleh sebagian materi genetik inang melalui parasitisme. Aku pun mendapatkan sebagian gennu, sehingga Mjolnir mengakuiku.”
Tak ada yang perlu disembunyikan. Lagi pula, segala rumor tentang dirinya dan makhluk asing itu sudah menyebar ke seluruh internet, berbagai spekulasi bermunculan. Akhir-akhir ini, dunia memang terasa lebih ramai, para manusia super bermunculan di mana-mana.
Bahkan jika Thor hidup tenang sebagai manusia biasa di Bumi seperti dalam alur waktu semestinya, ia tetap bisa mencari informasi tentang Duwa dari internet dan menebak apa yang terjadi. Karena itu, Duwa tak berniat menyembunyikan apapun dari Thor.
“Maksudmu apa?”
“Maksudku, tubuhku ini, kalau dibulatkan, bisa dibilang mengandung darahmu, saudaraku Thor. Dengan kata lain, Mjolnir pada akhirnya tetap memilihmu, dan karena engkaulah, ia mau tunduk padaku,” jawab Duwa dengan terus terang.
Itu bukan sesuatu yang memalukan. Ketika ia pertama kali mencoba mengangkat Mjolnir, ia memang gagal, dan Thor menyaksikan sendiri.
Kepala Thor terasa berdenging.
“Sekarang, mari kita bicarakan sesuatu yang mungkin menarik bagimu: Loki sepertinya masih ada di Bumi. Ia pasti sedang mencari kesempatan untuk bernegosiasi denganmu. Dengarkan baik-baik, lalu pikirkanlah dengan matang,” ucap Duwa seraya menoleh ke samping.
Thor ikut melihat, dan mengenali sosok itu sebagai kaum Abadi. Namun tiba-tiba wajahnya berubah drastis saat melihat tubuh makhluk Abadi itu kejang hebat, dadanya pecah, lalu muncullah makhluk asing dari dalamnya.
“Itu…!”
“Itulah makhluk asing itu. Tentu saja, aku bisa memutuskan apakah ia perlu menembus dada atau tidak, hanya dengan satu pikiran,” kata Duwa dan mengulurkan tangan. Makhluk asing kecil yang baru lahir itu langsung melesat cepat, sekejap sudah menempel di pundak Duwa.
Beberapa jam lagi, makhluk kecil itu akan tumbuh pesat menjadi dewasa setinggi dua atau tiga meter.
Baru kali ini Thor benar-benar menyadari betapa mengerikannya makhluk ini. Dengan cara parasitisme, ia mengambil materi genetik inangnya—atau lebih tepatnya, kekuatan super yang terkandung dalam gen mereka…
Thor kembali menunduk menatap dadanya yang telah sembuh. Jika Duwa tidak mengeluarkan makhluk itu, bukankah ia juga akan…?
Soal parasitisme yang menembus dada dan mengerikan itu, bagi Thor sendiri bukanlah masalah besar. Kalau pun ingin mengkritik, mungkin hanya karena dilakukan pada orang yang sudah kehilangan kemampuan bertarung. Tapi itu pun bukan perkara besar.
Thor sendiri adalah maniak perang yang brutal dan suka bertarung. Jelang perang melawan bangsa lain, kalau sedang baik hati ia akan menawarkan pilihan menyerah. Tapi saat perang belum dimulai dan lawan merasa yakin menang, mana mungkin mereka mau menyerah? Akhirnya Thor mengayunkan palunya tanpa ragu dan membantai lawan-lawannya.
Hela, kakaknya, jauh lebih kejam. Jumlah korbannya bisa menumpuk seisi daratan Asgard.
Bisa membesarkan dua anak maniak perang seperti mereka, Odin benar-benar hebat dalam mendidik anak.
“Aku sudah bilang tadi, begitu selesai melakukan parasitisme padamu, aku langsung mengeluarkan makhluk itu. Kalau tidak, kau pasti sudah mati,” ujar Duwa.
“Jangan bercanda. Meski benar-benar menembus dadaku, aku tidak akan mati. Walau kehilangan kekuatan dewa dan kemampuan regenerasi, Loki pasti akan menyembuhkan tubuhku dengan sihir,” bantah Thor.
Duwa mengangguk. Ia percaya itu. Dengan mengambil kekuatan dari dewa multisemesta, kemampuan sihir Loki memang bisa saja menciptakan organ baru di dada Thor.
Tapi harga yang harus dibayar, itu soal lain.
“Terima kasih atas keterusteranganmu. Kau adalah pejuang yang licik tapi sangat jujur. Mungkin di waktu lain kita bisa jadi sahabat. Tapi sekarang, aku tidak akan bergabung denganmu. Dewa Petir—mantan Dewa Petir, Putra Odin, takkan menjadi pengikutmu,” ujar Thor, menggelengkan kepala.
Ia bisa menangkap maksud tersirat dari ucapan Duwa. Ini adalah kesempatan kedua: jika ingin mendapatkan kembali Mjolnir, ia harus rela dijadikan inang lagi, menjadi milik Duwa.
Dulu, ia bersedia karena situasi darurat. Demi Loki, ia sudah siap mengorbankan nyawa setelah perang demi menjaga harga dirinya. Maka ia setuju.
Walaupun akhirnya tak berjalan seperti yang ia harapkan—ia dijadikan inang, tapi tidak sepenuhnya, dan ia pun tak mendapat kekuatan yang bisa membantunya di medan perang—Thor merasa serba salah, setengah-setengah dan tak tahu harus berbuat apa.
Namun kali ini, ia tidak akan pernah setuju lagi. Ia lebih rela menjadi manusia biasa dan menjaga sisa harga dirinya.
“Thor, saudaraku, kau harus tahu, beberapa hal, sekali terjadi bisa terulang berkali-kali.”
“Diam! Sekuat apapun kau di Midgard, seberapa banyak pun rahasia kuno yang kau ketahui, kau tak pantas memanggilku saudaraku! Aku sama sekali bukan saudaramu!” Thor melompat bangkit, “Sudah kubilang, tak akan pernah ada yang kedua kali!”
“Kau seperti singa yang marah karena ekornya terinjak. Lihatlah rambutmu yang kusut itu, nanti kuberikan uang, belilah dua botol sampo. Itulah awalmu menjadi manusia biasa.”
Dulu, selama masih punya kekuatan dewa, Thor cukup membersihkan tubuhnya dengan kekuatan itu.
Dengan penuh amarah, Thor meninggalkan gedung yang sudah hancur itu, diiringi tatapan para kloningan Damm yang berjaga di gedung sebelah.
Sejujurnya, Duwa tak pernah tahu sudah berapa kali gedung sebelah diganti kelompok Damm baru.
“Info penting! Thor telah pergi! Duwa tidak mencegahnya, juga tidak mengirim makhluk asing untuk membuntuti. Ini kesempatan kita!”
“Segera laporkan ke Fury!”
Para Damm pun jadi bersemangat. Beberapa yang cerdik sudah menghitung, informasi ini bakal dihargai berapa oleh Fury, karena saat ini tubuh asli mereka sedang kekurangan uang, dan para kloningan yang memantau Duwa pun tak tahu apa yang sedang dilakukan tubuh asli mereka.
Tak lama kemudian, ketika para Damm masih bingung, Thor pun kembali.
“Tuan Thor, apa yang sedang Anda lakukan?” tanya salah satu Damm yang memakai celemek dan tengah berjualan daging segar.
Thor mendongak menatap gedung di sampingnya. Benar saja, dari bawah sampai atas, tiap jendela dipenuhi wajah yang sama, mengamatinya.
Brak!
Thor memukul pintu besi yang sudah reyot, membuatnya roboh seketika.
“Selamat datang kembali, Thor Odinson. Kupikir kau sudah berdiskusi dengan Loki?” Duwa duduk santai di kursi, bahkan tak mengubah posisinya.
“Ya, keadaannya berubah,” jawab Thor.
Mata Thor sudah memerah, dan di wajahnya masih tampak bekas air mata, penuh duka dan penyesalan. Namun ia tetap menunjuk gedung sebelah dengan wajah penuh kepedihan, “Sekadar mengingatkan, di arah sana ada sekelompok orang bodoh yang mengintaimu, berhati-hatilah.”
“Mereka sebenarnya mengamati dirimu. Tapi penilaianmu tepat, profesionalisme para agen ini memang bikin geleng-geleng kepala. Entah apa yang sedang dilakukan para kloningan terbaik mereka,” gumam Duwa.
Thor menoleh ke kiri dan kanan, lalu menarik sofa yang sudah setengah hancur, langsung duduk di atasnya hingga rangkanya ambruk, tapi ia tak peduli, tenggelam dalam penderitaan. “Ayahku sudah tiada.”
“Turut berduka.”
“Kubilang, Bapak para Dewa, penguasa sembilan dunia, Raja Asgard, Odin, telah wafat!”
“Ya, aku dengar. Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau ingin aku menjelaskan bahwa ayahku juga tiada?” Duwa menunjuk dadanya dengan sangat serius.
Erika yang tadinya sedang menopang makhluk asing dengan hati-hati menggunakan kakinya yang baru tumbuh, hampir tak bisa menahan tawa mendengar itu. Ia bahkan menggores dirinya dengan pis