Bab 114 Kekayaan dan Keberanian
Xiao Wenqin menangkupkan tangan seraya berkata kepada Xie Xunfeng, "Pangeran sandera Xie, saya mendengar kabar yang membuat hati saya merasa tidak tenang. Saya datang untuk meminta pendapat Anda."
Xie Xunfeng memandang Xiao Wenqin dan bertanya, "Oh? Apa yang terjadi?"
"Saya dengar, Fu Qian, tuan muda dari Firma Dagang Huitong, telah datang!" Xiao Wenqin mengernyitkan dahi.
"Fu Qian? Apakah dia orang yang termasuk dalam Tiga Belas Tokoh Besar itu?" tanya Xie Xunfeng.
Xiao Wenqin mengangguk lalu melanjutkan, "Benar. Kabarnya, keluarga Yuan juga telah mengeluarkan dana besar untuk membeli tiket. Keluarga Fu pun melakukan hal yang sama. Padahal sebelumnya mereka bilang tidak akan datang, namun kini justru muncul. Jelas sekali, mereka berniat buruk."
Sebelum Xiao Wenqin sempat melanjutkan, Guan Chong menyela, "Tenang saja, simpan kekhawatiranmu itu. Selama ada Kakak Tertua, kau tidak perlu takut apa pun!"
Xiao Wenqin menatap Xie Xunfeng.
Xie Xunfeng tersenyum tipis dan berkata, "Pangeran Keempat, kita cukup melakukan tugas kita saja. Urusan lain, hadapi saja apa pun yang datang. Tidak perlu mencemaskan hal yang belum pasti."
Xiao Wenqin mengangguk seolah mengerti, meski sebenarnya ia tidak paham dengan kiasan yang digunakan Xie Xunfeng. Namun, kedatangannya hari ini memang hanya untuk melihat sikap Xie Xunfeng. Melihat ketenangan pria itu, Xiao Wenqin menangkupkan tangan, "Dengan ucapan Anda, saya bisa merasa lega. Kalau begitu, saya tidak akan mengganggu waktu mandi kalian lagi."
Setelah Xiao Wenqin pergi, Naga Hitam melepas kain yang menutupi wajahnya.
"Kakak, Fu Qian itu pasti datang karena urusan Lin Ru. Kita harus waspada. Meskipun dia seorang pedagang, kekayaan keluarganya sudah mencapai tingkat yang mengerikan hingga mampu mengguncang tiga negara. Bahkan penguasa tiga negara pun harus bersikap sopan padanya," peringat Naga Hitam.
Guan Chong menimpali, "Benar apa kata Naga Hitam. Yuan Yuan hanyalah ular lokal di Jiaodong, tapi Fu Qian ini berbeda. Dia benar-benar sosok yang patut diperhitungkan."
Xie Xunfeng mengangguk, "Entah dia naga atau cacing, selama tidak menggangguku, mereka bisa hidup dengan tenang. Tapi jika mereka nekat mencari masalah, kalau dia naga akan kucabut urat dan kukupas kulitnya! Kalau dia cacing, akan kuijak sampai mati!"
Mendengar ucapan itu, Guan Chong teringat kembali adegan di kuil terpencil hari itu. Bulu kuduknya meremang seketika. Mereka sama sekali tidak merasa Xie Xunfeng sedang bersikap angkuh; sebaliknya, mereka yakin bahwa apa yang dikatakannya adalah kenyataan.
"Kakak, luar biasa! Benar, siapa pun keparat yang berani mengganggu kita, biarkan mereka tahu apa artinya penyesalan!" seru Guan Chong.
...
Di saat yang sama, di sebuah rumah bordil bernama Gedung Huiyuan di Kota Longyang, di dalam sebuah ruangan besar, sekelompok pedagang sedang mengerumuni seorang pria berwajah bulat. Pria itu mengenakan pakaian sutra mewah dengan giok hijau zamrud melingkar di lehernya. Senyuman di wajahnya membuat siapa pun yang melihatnya akan sulit melupakannya.
Di ruangan itu duduk para saudagar terpandang dan kaya raya di Kota Longyang, termasuk Cai Shoucai yang juga berada di sana.
Sekelompok orang itu terus menyanjung sang pria. "Tuan Muda Fu, kehadiran Anda di Longyang adalah keberuntungan bagi kami para pedagang di sini."
"Benar, Tuan Muda Fu. Jika ada yang Anda perlukan di Longyang, katakan saja. Selama Anda meminta, kami rela melakukan apa pun, bahkan menembus api dan lautan sekalipun."
Fu Qian terus tersenyum sambil menangkupkan tangan sebagai bentuk terima kasih dan basa-basi. Ia tampak rendah hati dan tidak sombong. Di tengah sanjungan itu, pandangan Fu Qian tertuju pada Cai Shoucai. Ia berkata sambil tersenyum, "Terima kasih atas kebaikan kalian semua. Ayahku sering bilang bahwa kita yang berdagang ini memang sering dipandang rendah, jadi kita harus saling membantu. Karena kalian menghormatiku, tentu saja saya, Fu Qian, akan membalas budi kalian!"
Sanjungan kembali terdengar. Melihat Cai Shoucai tetap bersikap tenang, Fu Qian melanjutkan, "Tentu saja, jika ada yang tidak menghormatiku atau tidak menghormati saudaraku... saya tentu juga akan mengingatnya."
Suasana tetap dipenuhi pujian. Melihat Cai Shoucai tetap diam, Fu Qian tersenyum dan bertanya langsung, "Tuan Toko Cai, bukankah begitu?"