Bab 134 Hukuman Rajah
Melihat pemandangan itu, kebencian Xiao Nalan semakin menjadi-jadi.
"Dasar tidak berguna, bahkan seorang wanita saja tidak bisa kalian tangkap?" maki Xiao Nalan kepada para pengawal kekaisaran di sampingnya.
Beberapa pengawal kembali mencengkeram Xiao Yiran. Kali ini, tanpa banyak bicara, Xiao Nalan melangkah maju dan menampar wajah Xiao Yiran dua kali.
"Xiao Yiran, kau mulai berani melawanku? Masih mau cari perlindungan? Camkan ini, biarpun dewa turun tangan sekarang, itu tidak akan ada gunanya! Hari ini akan kubuat kau merasakan apa artinya hidup lebih menderita daripada mati! Kemari, lucuti semua pakaian wanita jalang ini..." perintah Xiao Nalan dengan kejam.
Para pengawal baru saja hendak melangkah maju ketika sebuah suara penuh amarah yang menggelegar terdengar dari belakang, "Berhenti! Xiao Nalan, kau benar-benar putriku yang luar biasa, ya..."
Mendengar suara itu, tubuh Xiao Nalan mendadak kaku. Ia menoleh ke belakang dan mendapati sekumpulan orang sedang berjalan masuk dengan gagah. Xiao Shentian tampak berdiri tegak dengan wajah berseri-seri, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang sekarat.
"Ayah... Ayahanda... Kau... kau..."
"Kau terkejut karena aku masih hidup? Itu harusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri, bukan? Apakah kau memberiku obat palsu?" Suara Xiao Shentian menggelegar bagaikan petir di telinga Xiao Nalan.
Pada saat yang sama, Xie Xunfeng telah menerjang masuk ke tengah kerumunan pengawal bayaran tersebut. Para pengawal itu mencoba menghalangi, namun mereka bukanlah tandingan Xie Xunfeng. Siapa pun yang mencoba menghalangi jalannya langsung dihantam telak tepat di wajahnya, membuat wajah mereka hancur seketika. Huofeng pun segera memerintahkan anak buahnya untuk melumpuhkan para pengawal itu.
Setelah diselamatkan, Xiao Yiran menatap Xie Xunfeng dengan penuh rasa terima kasih, lalu segera menghampiri Ibu Suri dengan cemas. "Ibu Suri, apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
Ibu Suri melambaikan tangan, mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa, lalu berkata kepada Xiao Yiran, "Ini semua bukan apa-apa!"
Ia menyeka air liur dari wajahnya, kemudian berjalan menghampiri Xiao Nalan. Sikap sombong Xiao Nalan seketika sirna. Lututnya lemas, ia jatuh terduduk di tanah dan terus-menerus menampar wajahnya sendiri sambil meratap, "Ibu Suri, ampunilah aku... Aku kerasukan setan... Ampuni aku, Ibu Suri... Aku pantas mati... aku pantas mati..."
Ibu Suri berjalan ke depan Xiao Nalan dan perlahan berjongkok. Dengan lembut, ia mencengkeram dagu Xiao Nalan. "Cucuku yang baik, kau tahu mengapa aku tidak menyukaimu, padahal aku langsung merasa akrab dengan Xiao Yiran?" tanya Ibu Suri datar.
Xiao Nalan menggeleng dengan tubuh gemetar hebat bagaikan daun ditiup angin.
Ibu Suri melanjutkan, "Itu karena aku pun bukan lahir dari permaisuri utama. Sama seperti Xiao Yiran, aku lahir dari seorang pelayan. Sejak kecil aku selalu ditindas oleh putri sulung sah di kediaman... Aku sangat mengerti apa yang ada di dalam pikiran orang sepertimu, dan aku lebih memahami lagi penderitaan yang dilalui Xiao Yiran sejak kecil."
Mendengar perkataan itu, Xiao Nalan gemetar ketakutan dan memohon, "Ibu Suri... Nenek... Ampuni nyawaku..."
Ibu Suri mencibir dan berkata, "Tenang saja, aku pasti akan mengampuni nyawamu. Bagaimanapun juga, kau adalah cucuku dan memiliki darah bangsawan."
Xiao Nalan terus bersujud, "Terima kasih Ibu Suri... terima kasih..."
"Bawa dia pergi, beri dia hukuman tato di wajah! Setelah itu, kirim dia ke Kerajaan Beiliang untuk dijadikan selir. Bagaimanapun, dia adalah putri sulung Kerajaan Xia kita, jadi meski harus menerima hukuman tato dan menikah dengan Kaisar Beiliang, itu sudah merupakan sebuah anugerah," ucap Ibu Suri dingin.
Mendengar itu, Xiao Nalan ketakutan dan memeluk kaki Ibu Suri sambil memohon, "Ibu Suri... jangan... aku tidak mau dihukum tato... lebih baik kau bunuh saja aku..."
Ibu Suri menghentakkan kakinya dan menendang Xiao Nalan hingga terjungkal. "Jika kau tahu akan seperti ini akhirnya, mengapa kau melakukannya sejak awal?"
Huofeng memberi isyarat agar anak buahnya menyeret Xiao Nalan pergi.
"Dasar nenek tua bangka! Bunuh saja aku! Jika kau membiarkanku hidup... aku tidak akan melepaskanmu... aku akan membalas dendam padamu... nenek tua bangka!" Xiao Nalan terus melontarkan sumpah serapah ketika ia menyadari tekad Ibu Suri sudah bulat.
"Ibu Suri, bagaimanapun dia adalah..." Xiao Yiran hendak memohon, namun Xiao Shentian segera memotongnya. Hukuman tato berarti menandai wajah seseorang, yang menandakan status sebagai budak. Jika ia dikirim ke Beiliang sebagai budak, nasibnya sudah bisa dipastikan.
"Sudahlah, betapa baik hatinya dirimu. Masih mau membelanya? Jika kami tidak datang tepat waktu, hari ini kau mungkin sudah dipermalukan hingga mati! Ini sudah termasuk kemurahan hati Ibu Suri," ujar Xiao Shentian dengan wajah muram.
Xiao Yiran menunduk, "Ayahanda, anakanda mengerti."
Xiao Shentian ingin mengatakan sesuatu lagi, namun saat melihat wajah Xie Xunfeng yang juga tampak tidak senang, ia sadar bahwa Xiao Yiran adalah sosok yang sangat berharga bagi Xie Xunfeng. Jika ia terus memarahi putrinya, Xie Xunfeng bisa saja berbalik melawannya.
Maka, raut wajahnya yang tadinya kaku dipaksa melunak, ia tersenyum tipis dan berkata dengan nada lebih ramah, "Ah, apa salahmu? Aku hanya merasa kau terlalu baik hati sehingga mudah ditindas orang lain."
Melihat perhatian ayahnya, mata Xiao Yiran seketika berkaca-kaca. Perhatian dari seorang ayah adalah hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Melihat suasana hati Xie Xunfeng mulai mereda, Xiao Shentian beralih kepada Ibu Suri dengan penuh perhatian, "Ibu, apakah Anda baik-baik saja? Aku terlambat datang..."
Ibu Suri tersenyum dan melambaikan tangan, "Tidak terlambat... tidak terlambat... kalian datang di saat yang tepat. Pergilah selesaikan urusanmu."