Bab 141: Apakah Begitu Sulit Bagimu untuk Menjadi Orang Tak Berguna?
Ekspresi Pangeran Tua Guan yang tadinya dipenuhi ketegangan dan niat membunuh kini berubah drastis, memperlihatkan ketakutan yang mirip dengan ekspresi Guan Chong.
"Ibu... tebas dia... sepertinya orang tua bangka ini... Ibu... orang tua bangka ini berniat membunuhku... Coba lihat bagaimana dia mencambukiku..." teriak Guan Chong yang terikat di pohon, sengaja memprovokasi suasana dengan suara melengking.
Wajah wanita paruh baya yang baru saja masuk itu tampak semakin masam. Sambil mengacungkan golok besar, dia langsung mengejar, "Guan Shanyue, beraninya kau mencambuk putra kesayanganku! Lihat kubabat kau sampai mati, Kanda! Berhenti di situ!"
"Istriku... kumohon dengarkan dulu penjelasanku..." Pangeran Tua Guan berlari pontang-panting mengelilingi halaman karena ketakutan.
"Kau menyakiti putra kesayanganku, sama artinya dengan menyakitiku... Sekalipun kau bersilat lidah sampai langit runtuh hari ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu... Jangan lari... Biar kutebas kau!" teriak wanita itu dengan napas tersengal-sengal setelah cukup lama mengejar sambil menyeret golok bergagang panjang.
Xie Xunfeng sebelumnya sudah banyak mendengar kisah tentang ibu Guan Chong.
Ibu Guan Chong bernama Yang Fenglian.
Di masa mudanya, dia adalah seorang jenderal wanita yang sangat termasyhur di Kekaisaran Daxia.
Bahkan sebelum Pangeran Tua Guan terkenal, Yang Fenglian sudah lebih dulu menjadi jenderal wanita yang namanya disegani di mana-mana.
Kala itu, Pangeran Tua Guan justru diangkat dan dipromosikan berkat jasa Yang Fenglian.
Hanya saja, belakangan Pangeran Tua Guan berhasil memenangkan hati Yang Fenglian berkat daya pikat dan ketulusannya.
Setelah menikah, Yang Fenglian memilih untuk tinggal di rumah mendidik anak-anak dan mengurus suami.
Sementara Pangeran Tua Guan terus bertempur di medan perang. Kendati demikian, desas-desus di dunia persilatan menyebutkan bahwa sang dewa pembunuh di medan perang itu rupanya adalah seorang pria yang takut pada istrinya.
Kini, melihat langsung pemandangan tersebut, rumor itu ternyata benar adanya.
"Istriku... Istriku, tenanglah, kumohon dengarkan aku! Setelah kau mendengarkanku, jika kau masih bersikeras ingin menebasku, silakan saja..." ucap Pangeran Tua Guan kepada Yang Fenglian.
Mendengar itu, Yang Fenglian langsung mengangkat golok bergagang panjangnya dan menempelkannya tepat di leher Pangeran Tua Guan seraya berkata, "Jika penjelasanmu tidak bisa memuaskanku, hari ini juga aku pasti akan menebasmu!"
"Kau tahu sendiri apa yang telah diperbuat oleh putramu! Putramu ikut campur membantu Baginda Kaisar menyelidiki kasus pembunuhan berencana! Dan Baginda bahkan hendak mengutusnya mewakili Daxia untuk menghadiri Pertemuan Yuedan! Katakan padaku, pantas atau tidak anak ini dihajar!" seru Pangeran Tua Guan kepada Yang Fenglian.
"Ibu, lihatlah... Bukankah yang kulakukan ini adalah urusan yang benar. Semua yang kulakukan demi mengharumkan nama keluarga Guan kita... Cepat suruh orang melepaskanku! Demi aku, jangan tebas Ayah sampai mati..." teriak Guan Chong dari tempatnya terikat di pohon kepada Pangeran Tua Guan.
Wajah Yang Fenglian seketika menggelap. Dia langsung menancapkan golok besar di tangannya ke atas tanah.
"Kanda, aku telah salah paham padamu!" kata Yang Fenglian tiba-tiba dengan nada yang sangat lembut kepada Pangeran Tua Guan.
Sesaat kemudian, Yang Fenglian merampas cambuk dari tangan Pangeran Tua Guan dan berlari menghampiri Guan Chong.
Xie Xunfeng yang berdiri di samping sambil mengamati dengan dingin hanya bisa mengerutkan kening, samar-samar bisa menebak bahwa nasib buruk sedang menimpa Guan Chong.
Namun, Guan Chong tampaknya masih belum menyadari bahaya yang mendekat.
"Ibu, untunglah Ibu datang... Kalau tidak, aku pasti sudah tewas di tangan orang tua bangka itu... Cepat lepaskan ikatan ini..."
"Melepaskannya? Bocah sialan sepertimu? Hari ini! Jangankan ayahmu yang ingin mencambukmu, aku sendiri pun akan ikut mencambukmu!" Yang Fenglian mengangkat cambuknya dan melayangkannya dengan keras ke tubuh Guan Chong.
Plak!
"Aduh... Ibu, apakah Ibu sudah gila? Aku ini Chong-mu... Aku ini Chong-mu... Tidakkah Ibu dengar apa kata Ayah tadi? Semua yang kulakukan adalah urusan besar... Kasus pembunuhan sebesar itu, aku pun ikut ambil bagian! Apakah Ibu tahu..."
"Kau masih berani membantah! Masih berani bicara! Bocah sialan, kau benar-benar menganggap angin lalu semua nasihatku, bagaimana bisa kau berbuat nekat begini? Sudah kubilang padamu, jangan ikut campur urusan benar! Jangan ikut campur urusan orang lain! Apa susahnya menjadi seorang pemuda bangsawan yang urakan dan tak berguna? Kehormatan keluarga Guan kita sudah harum berkat kakak-kakakmu, kami tidak butuh kau menyumbang jasa! Yang kubutuhkan darimu hanyalah hidup tenang sebagai seorang pemuda bangsawan yang tak berguna! Apakah itu begitu sulit?" maki Yang Fenglian, lalu kembali melayangkan tiga cambukan berturut-turut dengan penuh geram sebelum mata dan kelopak matanya memerah.
"Ibu hanya punya satu putra sepertimu! Yang Ibu inginkan hanyalah kau hidup bahagia sebagai orang tak berguna, jangan pernah terseret ke dalam pusaran konflik perebutan kuasa! Ketahuilah, pertikaian di istana kekaisaran jauh lebih berbahaya ribuan kali lipat ketimbang medan perang! Jika sampai terjadi sesuatu padamu, bagaimana cara Ibu bisa bertahan hidup..." ucap Yang Fenglian sambil melangkah maju, memeluk erat Guan Chong, dan menangis tersedu-sedu.