Bab 21: Syarat
"Jika aku bisa membuatmu berdiri tegak, sehingga kau tidak perlu lagi duduk di kursi roda selamanya, sekaligus mengubah takdirmu yang diramalkan tidak akan hidup melewati usia dua puluh lima tahun, menurutmu apakah imbalan itu cukup memuaskan?"
Saat Xiao Jinyu melontarkan kalimat tersebut, pelayan kecil di samping Xiao Xian hampir terpaku karena terkejut. Seolah-olah semua suara di sekitarnya menghilang, dan di telinganya hanya bergema suara Xiao Jinyu berulang kali.
Aku bisa membuatmu berdiri!
Aku juga bisa mengubah takdirmu yang tidak akan hidup melewati usia dua puluh lima tahun.
"Memuaskan, tentu saja memuaskan! Asalkan Tuan bisa berdiri dan hidup sehat serta panjang umur, Anda boleh meminta kami melakukan apa pun, bahkan nyawa saya pun silakan ambil!" Pelayan itu berkata dengan penuh semangat hingga meneteskan air mata haru. Seolah takut Xiao Jinyu akan menarik ucapannya kembali, ia menyambar tawaran itu dengan tergesa-gesa tanpa memedulikan apakah perkataan itu bisa dipercaya atau tidak.
Dibandingkan dengan kegembiraan pelayan tersebut, raut wajah Xiao Xian jauh lebih tenang. Entah karena didikan sejak kecil atau karena memang tidak memercayainya, pemuda itu hanya menatap Xiao Jinyu dengan tenang, tanpa ada riak emosi sedikit pun di matanya.
"Lalu, apa syarat yang kau ajukan?" tanya Xiao Xian.
Xiao Jinyu terdiam sejenak, menatap Xiao Xian, lalu tersenyum dengan anggun dan lembut. "Aku butuh bantuanmu agar namaku dikenal luas di Kota Jiankang, lalu membawaku masuk ke pusat politik Dinasti Chen Selatan, hingga akhirnya mengendalikan seluruh istana, persis seperti Gao Huan, sang penguasa otoriter Wei Timur, dan Yuwen Hu, sang perdana menteri agung dari Negara Zhou."
Persis seperti Gao Huan, penguasa otoriter Wei Timur, dan Yuwen Hu, perdana menteri agung Negara Zhou!
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, raut wajah Xiao Xian berubah. Pelayan di sampingnya pun sangat terkejut hingga tidak berani lagi bersuara!
Benar saja, syarat ini bukan sesuatu yang bisa disetujui dengan mudah. Siapakah Gao Huan dan Yuwen Hu itu? Mereka adalah orang-orang yang mengendalikan kaisar dan memegang kekuasaan tertinggi di pemerintahan. Putra Gao Huan, Gao Cheng, bahkan merampas takhta dan menghabisi seluruh anggota keluarga kekaisaran marga Tuoba. Belum lagi Yuwen Hu, perdana menteri terkuat Negara Zhou yang memaksa Kaisar Gong dari Wei Barat turun takhta. Ia tidak hanya berkuasa secara otoriter dan kejam, tetapi dalam waktu tiga tahun saja, ia berturut-turut membunuh tiga orang kaisar: Yuwen Jue, Tuoba Kuo, dan Yuwen Yu. Konon, kaisar baru yang naik takhta saat ini, Yuwen Yong, hanyalah bonekanya saja.
Kedua orang itu, jika dikatakan dengan bahasa halus, adalah pahlawan besar, namun jika dengan bahasa kasar, mereka adalah penjahat besar yang akan menanggung kutukan sepanjang sejarah.
"Pemenang adalah raja, sementara yang kalah akan dicaci. Lihatlah Gao Huan, setelah Dinasti Qi Utara berdiri, siapa lagi yang berani menyalahkan perbuatannya?"
Seolah bisa membaca pikiran lawan bicaranya, Xiao Jinyu menambahkan. Pelayan itu segera menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan tidak berani berpikir apa pun lagi.
"Bagaimana mungkin kau memiliki pemikiran seperti ini, berani mengucapkan kata-kata durhaka di hadapanku?" Xiao Xian berkata dengan nada tidak senang.
Xiao Jinyu tertawa, "Aku hanya tidak ingin di masa depan nanti, kau merasa bahwa aku sedang memanfaatkanmu."
"Kau begitu percaya diri aku akan membantumu? Tidak takutkah kau aku akan mengkhianatimu?"
"Tuan Muda Xiao, percaya atau tidak, aku bisa membaca wajah seseorang. Alismu bersih dan jernih, menunjukkan bahwa kau adalah orang yang berhati luas, tidak terpaku pada hal-hal kecil, dan memiliki kebaikan hati. Dahimu penuh dan lebar, menunjukkan asal-usulmu yang terhormat serta bakat yang cerdas. Selain itu, daun telingamu tebal, yang menandakan kau adalah orang yang sangat memegang teguh budi pekerti. Kau berhati welas asih, namun nasibmu justru tipis seperti kertas. Kau bisa bersyair pada usia tiga tahun, hafal kitab Konfusius, Mengzi, Laozi, dan Zhuangzi pada usia lima tahun, dan belajar berkuda serta memanah pada usia tujuh tahun. Sayangnya, kau jatuh dari kuda dan mematahkan kakimu. Pada usia lima belas tahun, kau terkena penyakit aneh, dan dokter meramalkan kau tidak akan hidup melampaui usia dua puluh lima tahun."
Di tengah setiap kalimat yang diucapkan Xiao Jinyu, mata pelayan itu kian membelalak, ketidakpercayaan yang luar biasa bercampur dengan kegembiraan yang tak terlukiskan.
"Benar, benar, semuanya benar! Tuan, apa yang dikatakannya tidak salah sedikit pun!" seru pelayan itu.
Benar apanya? Bukankah hal-hal seperti ini bisa dia selidiki sendiri?
Meski berpikir demikian, Xiao Xian tetap menatap Xiao Jinyu dengan terperangah. Ia mendengar wanita itu berkata, "Seorang yang berhati welas asih, bagaimana mungkin membalas budi dengan air tuba dan mengkhianati penolongnya sendiri?"
"Tahukah kau, keluarga Xiao kami adalah keturunan keluarga kerajaan dinasti sebelumnya. Bisa bertahan hidup di Jiankang di bawah kemurahan hati Kaisar Wu dari Chen saja sudah merupakan keberuntungan besar," ucap Xiao Xian tiba-tiba.
Xiao Jinyu tetap tidak terpengaruh, ia tersenyum tipis, "Aku tentu tahu, tetapi aku juga tahu bahwa mungkin dalam kurun waktu lima tahun, keluarga Xiao kalian akan dibasmi habis oleh Chen Selatan. Membiarkan keturunan keluarga kerajaan lama tetap hidup hanyalah untuk menunjukkan kemurahan hati sang raja. Namun, sejak zaman dahulu, raja mana yang bisa menoleransi benih yang sewaktu-waktu bisa bangkit kembali di dalam wilayah kekuasaannya? Fu Jian dari Qin Awal memang membiarkan keluarga Murong tetap hidup, namun akhirnya Qin Awal justru dimusnahkan oleh marga Murong. Sejak saat itu, para raja dari generasi ke generasi menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran."
Setelah Xiao Jinyu selesai bicara, wajah pelayan itu berubah pucat pasi, dan Xiao Xian pun terdiam tanpa menyahut lagi.
Setelah cukup lama, ia bertanya, "Apa yang ingin kau lakukan?"
Mengucapkan kalimat itu berarti ia telah menyetujui syarat tersebut.
Xiao Jinyu tersenyum tipis dan menjawab, "Aku ingat setiap bulan Maret, Kota Jiankang mengadakan acara diskusi sastra. Namun, acara seperti ini biasanya hanya diadakan di kalangan keluarga bangsawan, dan tempatnya selalu berpindah-pindah setiap tahun. Aku membutuhkan surat undangan untuk menghadiri perjamuan tersebut."
"Ini langkah pertamamu?"
Xiao Jinyu mengangguk.
Xiao Xian terdiam sejenak, lalu tiba-tiba menghela napas, "Sebenarnya ini adalah hal yang sangat mudah. Tanpa imbalan pun, aku akan membantumu."
Xiao Jinyu tersenyum.
"Itulah bukti kebaikan hatimu, Tuan Muda. Namun, aku bukanlah orang yang suka meminta-minta, apalagi menganggap kebaikan orang lain sebagai sesuatu yang lumrah," ujarnya.
Xiao Xian tertegun. Hatinya terasa agak pedih. Tidak suka meminta dan tidak menganggap kebaikan orang lain sebagai hal lumrah, berarti dia tidak ingin berutang budi pada keluarga Xiao-nya, bukan?
"Apakah kau membenci keluarga Xiao-ku?" tanya Xiao Xian tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan itu, Xiao Jinyu justru tampak terkejut, matanya berkilat cerah.
"Mengapa aku harus membenci keluarga Xiao-mu?"
Ia bertanya sambil terkekeh. Tidak ada kebencian sedikit pun di matanya, melainkan keterbukaan yang sangat tulus dan jernih.
Kejernihan dan keterbukaan itu seolah mengalir seperti mata air ke dalam hati Xiao Xian, menimbulkan rasa malu yang mendalam.
Di tengah keheningan singkat yang canggung, Xiao Xian tidak tahu harus berkata apa, sampai tiba-tiba ia mendengar Xiao Jinyu bertanya, "Tuan Muda Xiao, jika diurutkan berdasarkan silsilah, bukankah aku harus memanggilmu paman?"
Xiao Xian mendongak seketika, menatap Xiao Jinyu dengan tenang. Cahaya bulan yang lembut menyelimuti wajah gadis itu bagaikan kain sutra tipis, memberikan rona emas samar pada kulitnya yang sebening kristal. Meski usianya baru menginjak empat belas atau lima belas tahun, paras "pemuda" ini sudah memiliki pesona yang tak tertandingi di dunia. Entah bagaimana jadinya saat ia dewasa nanti, pasti akan mampu memikat hati dan mengguncang jiwa banyak orang.
Meski memiliki paras yang begitu memikat, perangai yang terpancar dari dirinya tidaklah murahan atau rendah, melainkan sebuah keanggunan yang tidak pasaran dan membuat orang tidak berani meremehkannya. Perangai seperti ini, bahkan di kalangan keluarga bangsawan berdarah biru seperti mereka, jarang sekali bisa dibentuk.
Melihat Xiao Xian terdiam cukup lama, Xiao Jinyu kembali tersenyum, "Apakah Tuan Muda masih ingat rupa ibuku? Aku ingin meminta Tuan Muda melukiskan wajah ibuku untukku."
Angin bertiup, menyibak sehelai rambut di dahinya, membuat senyum di wajahnya tampak lebih jenaka dan cerah.
"Tentu saja aku ingat."
"Fenghuang, ambilkan dua batang kuas, dua lembar kertas, dan tinta," perintah Xiao Jinyu tiba-tiba.
Fenghuang menyahut, lalu berlari masuk ke dalam rumah. Tak sampai seperempat jam, sesuai perintah Xiao Jinyu, ia menaruh masing-masing dua lembar kertas dan dua batang kuas di depan Xiao Jinyu dan Xiao Xian.
"Silakan," Xiao Jinyu memberi isyarat dengan tangan.
Xiao Xian mengangguk, mengangkat kuasnya, dan mulai melukis dengan penuh konsentrasi. Setelah lukisannya selesai, tepat saat ia merasa heran mengapa Xiao Jinyu meminta dua kuas dan dua kertas, ia menoleh dan melihat lukisan lengkap lainnya sudah tergeletak di hadapannya.
Lukisan itu hanyalah gambar sederhana bunga plum, anggrek, bambu, dan krisan. Namun, dari sudut pandang Xiao Xian, lukisan itu tampak hidup. Bunga plum yang mekar dan daun bambu yang seolah baru saja tumbuh memberikan kesan dinamis seolah-olah segala sesuatu di dunia sedang bangkit kembali.
"Ini lukisan buatanmu?" tanya Xiao Xian terperangah.
Xiao Jinyu menjawab sambil tersenyum, "Ya, satu lukisan kutukar dengan satu lukisanmu. Kuharap Tuan Muda tidak keberatan."
Sambil berkata demikian, ia menyerahkan lukisannya kepada Xiao Xian. Pada saat yang sama, Xiao Xian pun menyerahkan lukisan wajah ibu gadis itu ke tangannya.
Setelah melihat gambar sang ibu, Xiao Jinyu merasa puas. Ia tersenyum dan berkata, "Terima kasih." Kemudian ia memerintahkan anak laki-laki itu, "Fenghuang, ambilkan satu kendi arak untuk Tuan Muda!"
"Baik!"
Anak laki-laki itu menyahut, lalu segera mengambil satu kendi arak dari dalam rumah dan menuangkannya ke dalam cangkir untuk Xiao Xian.
"Tuan Muda kami tidak pandai minum arak. Lagipula, dokter sudah berpesan bahwa karena penyakit yang dideritanya sejak lama, Tuan tidak boleh minum alkohol," pelayan di sampingnya segera memperingatkan.
"Arak biasa tentu tidak boleh, tetapi arak milikku ini bisa mengusir racun di dalam tubuh Tuan Muda."
"Apa maksudmu? Maksudmu, Tuan Muda kami bukan sakit, melainkan ada racun di dalam tubuhnya?" pelayan itu terkejut.
Xiao Jinyu tidak menjelaskan lebih lanjut, ia hanya berkata kepada anak laki-laki itu, "Fenghuang, malam sudah larut dan udara terasa dingin, antar Tuan Muda pulang! Sekalian selesaikan orang-orang yang berada di luar halaman!"
Orang-orang di luar halaman?
Saat pelayan itu masih kebingungan, tiba-tiba terdengar teriakan keras. Sosok anak laki-laki itu melesat dengan kecepatan kilat melompati dinding halaman, dan tak lama kemudian, terdengar jeritan bertubi-tubi dari luar.
Pada saat itu, Xiao Jinyu kembali menatap Xiao Xian, "Tiga hari lagi, aku akan kembali ke kediaman keluarga Xiao untuk menepati janjiku."