Bab Tiga Puluh Lima: Pemilihan Dimulai
Ketika Jon keluar dari ruang es yang berukuran lima kaki panjang, lima kaki lebar, dan lima kaki tinggi, lututnya terasa lemas, dan janggut hitamnya dipenuhi embun beku. Bahkan untuk berjalan pun ia harus ditopang. Di dalam ruang es, tidak bisa berdiri tegak ataupun berbaring lurus, membuat orang selalu berada dalam posisi yang tidak nyaman. Penyiksaan semacam ini sudah bisa disebut sebagai siksaan berat. Jika ia tinggal sedikit lebih lama lagi, Wen Liang mungkin bisa melihat seperti apa rupa manusia yang membeku menjadi es.
Wen Liang memerintahkan agar belenggu di tangan Jon dilepaskan. Ia dibawa ke kamar Dean untuk menghangatkan diri di depan perapian. Wen Liang tersenyum dan berkata, “Sudah siap menjadi Komandan Tertinggi Pasukan Penjaga Malam?”
Jon yang sedang menghangatkan kedua tangannya di atas perapian terlihat terkejut, “Aku? Tidak mungkin.”
Wen Liang mengangkat alisnya, “Kau tidak mungkin? Apa kau ingin menyerahkan jabatan itu pada Bowen, si juru masak yang hanya bisa mengaduk panci? Atau Carter, kapten penjaga Eastwatch yang bahkan tak bisa bergaul dengan orang lain? Atau Sir Dennis, yang biasa-biasa saja dan sudah tua?”
Jon dengan tajam menyadari bahwa Wen Liang sama sekali tidak menyebutkan nama Janos.
“Bagaimana dengan Janos Slynt?” tanya Jon.
Wen Liang menjawab dengan tenang, “Sudah kubunuh.”
“Apa?! Kau... membunuh saudara Penjaga Malam tanpa alasan adalah pelanggaran besar!” Jon agak emosional.
“Tak ada jalan lain. Aku memang tak suka melihat wajahnya. Paling-paling aku hanya tidak bisa jadi Komandan Tertinggi Penjaga Malam. Tak terlalu parah. Kebanyakan orang, seperti kawanan domba, baru patuh jika kau memegang cambuk. Kau mengerti?”
Jon menghela napas, tidak lagi mempermasalahkan orang yang sudah mati itu, lalu bertanya tentang hal yang lebih penting, “Tapi kita masih belum punya pijakan kuat. Untuk jadi Komandan Tertinggi dengan lancar, harus mendapatkan persetujuan dua pertiga saudara, bukan? Itu mustahil. Aku yakin ada saudara yang bahkan belum tahu namaku.”
“Itu tak perlu kau khawatirkan. Aku sudah mengatur semuanya. Kau hanya perlu menyetujui syarat perdamaian yang kubicarakan setelah kau diangkat.”
Jon kembali terkejut, “Kau berhasil?”
Wen Liang mengangguk dan mengingatkan, “Tentu saja. Mulai sekarang, kau dan Ygritte bisa bersama terang-terangan. Tapi tetap berhati-hatilah terhadap belati yang menusuk dari kegelapan. Tidak semua saudara Penjaga Malam setuju dengan keputusanku membiarkan orang liar masuk ke selatan Tembok.”
Jon merenung sejenak. Wajahnya, terkena cahaya bara api, bergantian terang dan gelap.
“Jika, maksudku jika, aku bisa jadi Komandan Tertinggi Penjaga Malam, aku akan menyetujui semua isi perdamaianmu. Aku sepakat dengan pandanganmu, membiarkan orang liar tinggal di selatan lebih menguntungkan daripada mereka tetap di utara.”
“Kalau begitu, sudah kita sepakati. Malam ini setelah kau jadi Komandan Tertinggi, aku akan segera mengonfirmasi dengan Mance. Harusnya kita bisa selesai sebelum Stannis datang…”
“Apa? Stannis? Pasukannya akan datang?” Jon heran, kenapa Wen Liang tahu hal itu.
Wen Liang dalam hati menyesal, tanpa sadar ia mengucapkan hal itu karena terlalu bersemangat. Namun wajahnya tetap tenang, “Karena Mance melihat kedatangan pasukan Stannis lewat mata warg. Kalau tidak, dia tidak akan semudah itu menerima syarat kita.”
Jon mengangguk, ia tahu ada warg yang bisa melihat lewat sudut pandang elang, dan ia pernah menyaksikannya sendiri. Mendapat informasi dari kejauhan adalah hal yang biasa. Sama seperti dirinya yang kadang dalam tidur bisa berpindah ke sudut pandang Ghost. Menurut orang liar, ia adalah seorang warg serigala. Biasanya bakat seperti ini hanya muncul pada orang yang memiliki darah Leluhur. Ini membuktikan bahwa darah keluarga Stark memiliki asal yang sama dengan orang liar.
Setelah Jon menyetujui, Wen Liang berbalik dan berkata kepada Dean yang tampak bosan di kamar, “Malam ini mungkin kami butuh bantuanmu.”
“Bagus! Aku sampai bosan di sini, rasanya bulu tumbuh di badan.”
Sam yang sedang membaca buku sejarah Tembok mengangkat kepala dan berkata, “Beberapa hari ini aku mempelajari sejarah Tembok, kutemukan bahwa soal pembangunannya ditulis tidak jelas. Hanya disebutkan ‘Pembangun’ Brandon yang mendirikan Tembok ini. Tidak ada satu kata pun tentang sihir di Tembok. Tapi dari detail kecil, aku menemukan bahwa pembangunan Tembok kemungkinan juga memanfaatkan kekuatan Dewa Lama, yang kalian sebut orang liar. Sama misteriusnya dengan Horn of Winter yang konon bisa meruntuhkan Tembok. Horn of Winter mungkin memiliki kekuatan besar untuk mengusir sihir.”
Mendengar ini, Wen Liang tak bisa tidak mengagumi kecerdasan Sam, memang pantas masuk universitas Ivy League. Dalam beberapa hari, ia sudah bisa menganalisis banyak hal dari buku-buku itu. Hanya saja, semua ini kisah lama, tak ada yang bisa membuktikan benar atau tidaknya.
“Sam, jangan jadi kutu buku terus. Jarang-jarang dapat dunia dengan waktu yang berjalan berbeda. Kau tak mau coba hal baru? Kudengar wanita liar di sana sangat menarik. Kalau kau bisa menjinakkan mereka, mereka akan patuh kepadamu.”
Mata Dean bersinar penuh semangat mencoba.
“Kalau begitu aku harus ceritakan sebuah kisah. Aku punya teman yang pernah berpikir seperti itu, tapi keesokan paginya, ia mendapati alatnya terpotong separuh.”
Wen Liang melihat ketiga temannya secara refleks merapatkan kaki, lalu tertawa terbahak-bahak. Kisah itu diceritakan kepadanya oleh Raja Gombal, tapi setelah ia mengalami sendiri, ia menyadari kisah itu kemungkinan besar hanya bualan. Setidaknya Val beberapa hari kemudian sangat patuh kepadanya. Semua gaya bisa dilakukan.
“Seram sekali. Di sini selain laki-laki, cuma ada pelacur tua dari desa Mole’s Town. Susah-susah dapat wanita liar muda, ternyata perilakunya sangat barbar. Ah, kasihan ‘adik kecil’ku,” keluh Dean.
Waktu berlalu begitu saja dalam obrolan santai mereka berempat. Tak lama, malam pun tiba.
Di aula malam itu, semua orang sangat serius, karena ini adalah pemilihan penting bagi Penjaga Malam. Ada sebuah panci besi besar berwarna hitam di sudut dekat perapian, dengan dua pegangan besar dan tutup berat. Setelah semua orang berkumpul, Maester Aemon membisikkan sesuatu kepada Samwell di sampingnya. Sam pun menyeret panci ke meja.
Lalu Maester Aemon berseru, “Sekarang boleh mengajukan calon Komandan Tertinggi.”
“Bowen Marsh.”
“Carter Pyke.”
“Sir Dennis.”
“Dan Jon Snow.”
“Siap untuk pemungutan suara.”
Saat itu Samwell membuka tutup panci yang berat. Tiba-tiba seekor burung gagak berbulut hitam mengkilap terbang keluar dari dalamnya. Setelah keluar, ia berputar-putar di aula dan bersuara keras.
“Aku kenal burung gagak ini, ia yang paling tua milik Lord Mormont.”
Setelah terbang beberapa putaran, gagak itu tampak lelah dan langsung hinggap di meja Jon. Ia berseru, “Snow! Snow! Snow!” Lalu membuka sayapnya, terbang ke bahu Jon.
Adegan ini seolah-olah, secara takdir, jiwa Lord Mormont memilih Jon sebagai Komandan Tertinggi.