Bab 103: Hanya Bertanya, Berani atau Tidak

Dewa Naga Jalan Ekstrem Yi Yue 3348kata 2026-04-01 00:07:27

Seperti yang dikhawatirkan oleh Niu Han Sheng, peristiwa perkelahian itu menggemparkan para petinggi, bahkan menarik perhatian Kepala Akademi Dao Timur, Ling Kui, dan Kepala Jurusan Pengendalian Roh, Feng Jiuxiao, yang turun tangan sendiri untuk meminta penjelasan dari Jurusan Penyelidikan Langit.

Selama lima hari berturut-turut, Bu Zeqiu pergi ke Puncak Kaisar. Di hadapan Kepala Akademi Ling Kui dan para kepala jurusan lainnya, ia berhadapan langsung dengan Feng Jiuxiao. Feng Jiuxiao terus mendesak, tetapi Bu Zeqiu membalas dengan menunjukkan bukti kesaksian tertulis yang telah ditandatangani oleh para murid lawan. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Akhirnya, Jurusan Disiplin turun tangan dan menyelidiki masalah ini secara menyeluruh.

Setelah beberapa hari penyelidikan, Jurusan Disiplin memutuskan bahwa kedua belah pihak sama-sama bersalah dan mengusulkan agar perkara ini disudahi saja. Bu Zeqiu pun setuju untuk tidak menuntut lebih jauh. Namun, Feng Jiuxiao menuntut agar kuda roh dikembalikan, sedangkan Bu Zeqiu menuntut pengembalian batu roh yang dulu telah dirampas. Kedua belah pihak kembali berdebat tanpa titik temu.

Saat para kepala jurusan sibuk bertengkar, para murid tidak tinggal diam. Dipimpin oleh Long Xiaobai, Jurusan Penyelidikan Langit yang biasanya malas-malasan berubah drastis, semua mulai berlatih dengan giat. Dengan persediaan batu roh yang melimpah, sumber daya latihan pun cukup. Setiap hari mereka bermeditasi, melatih energi, dan menyerap batu roh dengan penuh semangat.

Harus diakui, bakat Ye Qingfeng dan kawan-kawan memang biasa-biasa saja. Meski sudah berusaha keras, kemajuan mereka tidak begitu terlihat. Banyak prinsip dasar latihan yang masih mereka pahami setengah-setengah.

Melihat keadaan itu, Long Xiaobai mendapat ide baru: mendirikan Perkumpulan Tanya Dao. Konsepnya sederhana, setiap sore setelah latihan, semua murid berkumpul, saling berbagi masalah yang dihadapi dalam berlatih atau pengalaman yang didapat, lalu berdiskusi bersama.

Meski bentuknya sederhana, di Akademi Dao Timur, bahkan di seluruh Negeri Abadi, ini adalah gagasan baru yang mengguncang tradisi. Sebab, di Dunia Naga Suci yang menjunjung kekuatan, siapa pun enggan membagikan pengalaman latihan berharga pada orang lain. Bahkan sesama saudara seperguruan pun saling waspada, karena entah kapan bisa saja berubah menjadi musuh.

Hasil Perkumpulan Tanya Dao langsung terasa. Banyak murid yang kemampuannya meningkat pesat, walau masih jauh dari terobosan tingkatan. Hal ini cukup membuat Long Xiaobai pusing, karena semua murid Jurusan Penyelidikan Langit masih tertahan di Tingkat Kecerdasan Roh. Tanpa seorang ahli yang benar-benar kuat, nama jurusan mereka tetap diremehkan.

Adapun lebih dari lima puluh ekor kuda roh itu, tak ada seorang pun di jurusan yang memahami cara melatihnya. Lagipula, kuda-kuda itu punya tuan asli; begitu ada yang mendekat, mereka langsung meringkik dan memberontak. Apa yang tadinya menjadi keuntungan malah berubah jadi beban, tak ada yang berani memakainya, apalagi mengendarainya. Mana mungkin mengembalikannya ke Jurusan Pengendalian Roh?

Buntu akal, Long Xiaobai akhirnya menggigit bibir dan menyerahkan semuanya kepada Heitan.

Tak disangka hasilnya luar biasa! Dalam beberapa hari, Heitan justru menjadi pemimpin para kuda roh itu. Atas perintah Heitan, para murid Jurusan Penyelidikan Langit boleh menunggangi mereka. Namun timbul masalah baru: siapa pemilik sah kuda-kuda itu?

Masalah kepemilikan masih bisa dinegosiasikan, yang lebih pelik adalah setiap bulan kuda roh perlu diberi makan batu roh. Siapa yang harus menanggung biaya ini?

Ye Qingfeng dan kawan-kawan akhirnya menyadari, adik seperguruan mereka, Long Xiaobai, memang istimewa. Ia sangat perhitungan, sedikit pun tak mau rugi.

Menurut logika mereka, kawanan kuda itu milik Heitan, dan Heitan adalah milik Long Xiaobai. Maka biaya batu roh untuk kawanan kuda harusnya jadi tanggung jawab Long Xiaobai.

Tapi Long Xiaobai mati-matian menolak. Alasannya jelas: ia hanya menunggangi Heitan, kenapa harus mengurus yang lain? Heitan sudah membantu melatih kuda-kuda itu, masak tak dapat upah? Ia malah menuntut Ye Qingfeng dan kawan-kawan menanggung batu roh untuk Heitan juga.

Akhirnya, setelah debat panjang, disepakati bahwa kawanan kuda roh dipelihara bersama oleh jurusan, dan setiap orang membayar satu batu roh per bulan kepada Long Xiaobai sebagai tanda terima kasih.

Hari itu, Long Xiaobai tengah memimpin latihan ketika tujuh atau delapan orang melayang turun dari langit. Mereka adalah sesepuh Shen Chang dari Jurusan Pengendalian Roh beserta murid-muridnya, diiringi sesepuh Qi Zheng dari Jurusan Disiplin.

Tampak jelas mereka datang dengan niat tidak baik, wajah mereka penuh amarah. Mereka langsung masuk ke paviliun menemui Bu Zeqiu.

“Huh!” Ye Qingfeng mengejek, “Apa-apaan ini? Sudah tiga kali sesepuh dari Jurusan Pengendalian Roh datang mencari guru kita, memang pantas?”

Qin Mu juga ikut kesal, “Iya, cuma gara-gara sedikit barang kok ribut. Dulu mereka juga sering ambil punya kita! Kalau tahu begini, dulu harusnya kita tahan saja si Gu Biao dan gengnya, biar tahu rasa!”

Li Ping mengusulkan pada Long Xiaobai, “Saudara Long, kau paling cerdik, coba pikirkan cara supaya mereka kapok. Kesehatan guru kita sudah kurang baik, begini terus tidak baik.”

“Iya, Saudara Long, beri kami saran,” yang lain pun ikut mendesak.

Long Xiaobai menatap punggung Shen Chang dan rombongannya yang baru saja masuk, lalu tersenyum pada teman-temannya, “Sudahlah, lanjutkan latihan. Kalau kemampuan kita meningkat, guru juga akan lebih percaya diri saat berunding.”

Setengah jam kemudian, Niu Han Sheng keluar dari paviliun. Long Xiaobai dan yang lain segera mengerubunginya.

“Bagaimana, Kakak Niu?” tanya mereka.

Niu Han Sheng tampak marah dan menghela napas berat, “Shen Chang itu memang kurang ajar. Dia menekan guru karena tahu guru sudah tua dan lemah, selalu pakai alasan kuda roh untuk mengatur-atur. Guru kita itu kepala jurusan, tapi dia sama sekali tidak hormat, bahkan tak mau memanggil guru dengan gelar yang pantas. Kalau saja aku tak takut menambah masalah, sudah kuhajar dia!”

Saat itu, Shen Chang dan rombongannya juga keluar. Bu Zeqiu mengiringi mereka di sisi, tubuhnya membungkuk dan wajahnya menampilkan senyum lelah. Jurusan Pengendalian Roh kali ini bersikap sangat keras, jadi Bu Zeqiu hanya bisa mengulur waktu, berharap masalah ini bisa berlalu seiring waktu.

Shen Chang berjalan paling depan, langkahnya penuh percaya diri, seolah-olah ia tuan rumah di Jurusan Penyelidikan Langit. Bahkan para muridnya pun memandang rendah pada Bu Zeqiu.

“Bahkan guru kita pun mereka remehkan, benar-benar tak tahu diri,” desis Long Xiaobai dalam hati. Ia memberi isyarat pada Niu Han Sheng dan Ye Qingfeng. Yang pertama segera menjemput gurunya dan berbisik, sementara Ye Qingfeng dan kawan-kawan memotong jalan di depan Shen Chang.

Merasa ada yang tidak beres, Shen Chang berhenti dan melirik tajam ke arah Ye Qingfeng dan kawan-kawan. Saat hendak berbicara, tiba-tiba terdengar suara lantang dari belakang:

“Sesepuh Shen!”

Ternyata itu suara Long Xiaobai.

Shen Chang sudah sering datang, jadi tentu mengenal Long Xiaobai. Ia tersenyum sinis, “Long Xiaobai, ada urusan apa, ingin meminta maaf padaku?”

Long Xiaobai tak menggubris sindirannya, langsung berkata, “Kau datang berkali-kali, bukankah cuma ingin mengambil kembali kawanan kuda roh itu?”

“Hah!” Shen Chang mencibir, “Apa urusan seorang sesepuh sepertiku harus dilapor padamu?”

Long Xiaobai menanggapi dengan tenang, “Terus terang saja, akulah pemilik kuda-kuda itu sekarang. Minta pada guruku pun percuma, walau beliau setuju, aku belum tentu mau. Jadi kalau aku tidak izinkan, kau tetap tak bisa membawanya pergi.”

Sebagai seorang sesepuh, Shen Chang terbiasa dipandang tinggi. Tak pernah ada murid yang berani berbicara seperti itu. Ia pun marah besar, “Long Xiaobai, berani menentang sesepuh, tak takut kalau aku menghukummu?”

Long Xiaobai berbalik dan memberi hormat pada Sesepuh Qi Zheng dari Jurusan Disiplin, “Salam hormat, Sesepuh Qi. Saya hanya berbicara sesuai masalah dengan Sesepuh Shen, tidak ada kata-kata yang tak sopan. Jika Sesepuh Shen bertindak tanpa alasan, saya yakin Jurusan Disiplin yang adil tidak akan diam saja.”

Dengan sebuah pujian, Qi Zheng pun tak bisa terang-terangan memihak Shen Chang. Ia tersenyum kikuk, “Jurusan Disiplin selalu adil. Siapa pun yang melanggar aturan, tanpa memandang jabatan atau kekuatan, pasti akan kami tindak.”

Long Xiaobai mengangguk, “Saya tahu itu. Saya juga kenal baik dengan Sesepuh Lü Zhong dari jurusan Anda, jadi saya percaya pada keadilan Jurusan Disiplin.”

Shen Chang tiba-tiba menyela, “Long Xiaobai, apa maksudmu sebenarnya? Aku tak punya waktu main-main denganmu.” Nada bicaranya jelas menunjukkan kejengkelan.

Kau memanggilku, tapi malah mengobrol ke sana kemari dengan Qi Zheng, mengabaikanku sebagai sesepuh?

Bukan cuma Shen Chang yang bingung, Bu Zeqiu juga tak mengerti apa yang direncanakan Long Xiaobai. Namun karena sudah diingatkan Niu Han Sheng, ia memilih diam dan menunggu, penasaran dengan langkah yang akan diambil muridnya.

Long Xiaobai lalu berkata, “Maaf kalau membuat Sesepuh Shen salah paham.”

Ia kemudian menoleh kepada Qi Zheng dan mengeraskan suara, “Sesepuh Qi, saya ingin bertanya. Jika dua pihak membuat taruhan, dan salah satu kalah, bukankah harus menerima kekalahan dan menepati perjanjian?”

Qi Zheng langsung menjawab, “Tentu saja harus ditepati.”

Long Xiaobai kembali bertanya, “Kalau tidak ditepati, apakah Jurusan Disiplin akan bertindak?”

“Pasti kami tindak. Tapi Long Xiaobai, sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?” Qi Zheng juga mulai bingung. Ia merasa seperti sedang dijebak, tapi tak tahu di mana letak masalahnya.

Akhirnya Long Xiaobai menatap Shen Chang dengan serius, “Sesepuh Shen, di hadapan Sesepuh Qi dari Jurusan Disiplin, saya menantang Anda bertaruh. Jika Anda menang, kawanan kuda roh boleh Anda bawa pergi, saya tak akan menghalangi. Tapi jika Anda gagal, berarti Anda kalah dan Jurusan Pengendalian Roh tak boleh lagi mempermasalahkannya. Saya hanya ingin tahu, berani atau tidak?”

Ternyata ini maksudnya, pikir Shen Chang. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan Long Xiaobai. Namun sebagai sesepuh, ia bukan anak muda yang mudah terpancing. Ia tak akan sembarangan menyetujui tantangan hanya karena dipancing.

“Kau, seorang murid, menantangku bertaruh? Aku ingin tahu, apa yang ingin kau mainkan? Katakan saja,” jawab Shen Chang, tetap tenang.

Long Xiaobai diam-diam memaki dalam hati, lalu dengan lantang menjawab, “Kami di Jurusan Penyelidikan Langit selalu adil, tak akan menantang hal yang kami kuasai sendiri. Anda adalah sesepuh Jurusan Pengendalian Roh, paling ahli dalam menaklukkan kuda roh. Maka kita bertaruh… ya… bertaruh apakah kawanan kuda ini mau ikut dengan Anda atau tidak.”

Bertaruh seperti ini? Belum sempat Shen Chang menjawab, para muridnya sudah tertawa bangga. Menantang sesepuh Jurusan Pengendalian Roh adu menaklukkan kuda roh? Bukankah itu cari mati namanya?

Kabar bahwa Long Xiaobai murid jenius dan ahli di Daftar Awan hanya isapan jempol, ternyata ia tolol juga!

Shen Chang sampai ikut tersenyum geli, menatap Long Xiaobai dengan penuh arti, “Long Xiaobai, kau yakin ingin bertaruh soal ini?”