Bab 135: Gejolak Tersembunyi di Kalangan Murid Langit Timur
“Ada urusan apa mencariku?” tanya Sio Zhang sambil menatap langit dengan acuh tak acuh.
Baru setelah Sio Zhang bertanya, Liu Xian berani membuka mulut.
“Departemen Hukum Abadi adalah yang terdepan di antara enam departemen utama. Setiap orang dari departemen lain selalu menunjukkan hormat ketika bertemu kami. Namun, kemarin saat aku pergi ke Departemen Awan Pengembara, aku mendengar seseorang terus-menerus menghina departemen kita. Aku maju untuk berdebat dengannya, tetapi dia bukan hanya tidak mau mendengarkan, malah semakin menjadi-jadi dan akhirnya menyerangku. Sebenarnya kekuatanku lebih tinggi darinya, tetapi dia menyerang secara licik. Aku tidak sempat bersiap dan akhirnya terkena tipuannya. Di depan para murid dari berbagai departemen, aku dikalahkan olehnya.”
“Kau ingin aku membelamu?” ujar Sio Zhang dengan tenang.
Melihat Sio Zhang mulai tergerak, Liu Xian diam-diam bersukacita. Dengan wajah dipenuhi kemarahan yang benar, ia berkata, “Kakak Seperguruan Sio, aku kalah karena kemampuanku memang tidak sebaik dia. Jika yang dihina hanya diriku, aku masih bisa menerimanya. Namun, dia juga bersikap tidak hormat terhadap departemen kita. Itu sama sekali tidak bisa dimaafkan! Kakak Sio, departemen kita memiliki puluhan ribu praktisi. Dengan menghina departemen kita, dia berarti menghina semuanya. Maaf jika aku bicara terus terang, Kakak Sio. Engkau adalah murid unggulan departemen kita, tetapi dia bahkan tidak menganggapmu penting.”
Akhirnya Sio Zhang tidak lagi menatap langit. Ia menoleh kepadanya dengan tatapan dingin.
“Siapa dia?”
Hati Liu Xian dipenuhi kegembiraan. Setelah berpanjang lebar membujuk, ia akhirnya berhasil menggerakkan Sio Zhang. Ia sudah membayangkan Sio Zhang menghajar Long Xiaobai hingga tunggang-langgang. Saat itu, ia dapat memanfaatkan kesempatan untuk ikut menyerang, bahkan membunuh Long Xiaobai.
Kemenangan sudah di depan mata. Ia tidak boleh menunjukkan kegembiraan. Tenang, tetap tenang.
Liu Xian mengingatkan dirinya sendiri secara diam-diam. Kemarahan di wajahnya semakin kentara. Sambil mengertakkan gigi, ia berkata, “Long Xiaobai dari Departemen Penakluk Langit.”
Long Xiaobai?
Sio Zhang benar-benar terkejut. Baru saja ia menyelidiki berbagai perbuatan Long Xiaobai dan memikirkan orang itu, kini seseorang datang mengadukannya. Long Xiaobai benar-benar terkenal ke mana-mana!
Sio Zhang memastikan sekali lagi, “Long Xiaobai dari Kota Pemetik Bintang?”
Liu Xian tertegun, lalu tersadar. Kakak Seperguruan Sio di hadapannya juga berasal dari Kota Pemetik Bintang. Mungkin saja ia bahkan mengenal Long Xiaobai.
Gawat. Jika benar demikian, bukankah ia telah masuk ke sarang penyamun? Jangan berharap bisa membereskan Long Xiaobai, bahkan belum tentu ia masih dapat bertahan di Akademi Dao Langit Timur.
Namun, perkataannya sudah sampai sejauh ini. Ia tidak punya pilihan selain melanjutkannya.
Dengan gelisah, Liu Xian bertanya hati-hati, “Benar dia. Apakah Kakak Sio mengenalnya?”
“Dia adalah putra dari keluarga lawan Klan Sio,” jawab Sio Zhang dengan acuh tak acuh.
Lawan? Syukurlah, syukurlah!
Liu Xian diam-diam mengusap keringat dengan lega. Keadaan benar-benar berubah secara tak terduga. Kalau begitu, peluangnya membujuk Sio Zhang untuk bertindak bertambah sepuluh persen.
“Karena dia adalah musuh Kakak Sio, ada beberapa hal yang akan kukatakan terus terang.”
Liu Xian berkata, “Long Xiaobai benar-benar bukan orang baik. Mengandalkan sedikit kemampuannya, dia berulang kali membuat keributan. Kelak, dia pasti akan menjadi bencana besar bagi akademi. Jika Kakak Sio menghukumnya sekarang, bukan hanya menguntungkan akademi dan menyingkirkan masalah di masa depan, tetapi juga membantu keluarga Kakak menyingkirkan satu rintangan. Aku pun akan selalu mengingat kebaikan Kakak Sio dan mempersembahkan sepuluh ribu batu roh.”
Setelah selesai berbicara, Liu Xian menunggu jawaban Sio Zhang dengan penuh hormat. Ia yakin perkataannya tadi telah disampaikan dengan jelas, tulus, dan menyentuh hati. Sio Zhang pasti akan terbujuk.
Namun, jawaban Sio Zhang berikutnya bagaikan seember air dingin yang menyiram habis semua angan-angannya.
“Pergi.”
Sio Zhang mengucapkannya dengan dingin, tanpa menyisakan sedikit pun belas kasihan.
“Kakak Sio…”
Liu Xian hendak membantah lagi, tetapi Sio Zhang tidak memberinya kesempatan.
“Departemen Hukum Abadi, Akademi Dao Langit Timur, Klan Sio—apa hubungannya semua itu denganku? Aku adalah diriku sendiri. Aku berdiri dengan angkuh di atas dunia. Mengapa aku harus bertindak hanya karena masalah sepele?”
“Tetapi…”
“Haruskah kuulangi untuk kedua kalinya?”
Sio Zhang menatapnya dengan dingin. Seketika, aura gelap dan mengerikan yang seolah-olah berasal dari neraka menyelimuti Liu Xian.
Jiwanya seakan direnggut. Di telinganya terdengar lolongan banyak hantu penasaran, sementara di depan matanya muncul gambaran mengerikan tentang neraka.
Liu Xian ingin melarikan diri. Ia tidak tahu apakah kedua kakinya melemas karena ketakutan atau menjadi seberat timah cair, tetapi bagaimanapun juga, ia tidak mampu menggerakkan langkah.
Ia ingin berteriak, namun tak mampu mengeluarkan suara.
Seolah-olah telah melewati puluhan tahun, ketika gambaran mengerikan itu akhirnya menghilang, ia baru menyadari bahwa dirinya telah terkulai di tanah. Seluruh tubuhnya bermandikan keringat dingin hingga pakaiannya basah kuyup.
Liu Xian benar-benar sedang sial.
Sebelumnya, ia telah dilempar keluar dari halaman oleh satu telapak tangan Long Xiaobai. Kini, ia langsung dikalahkan oleh satu tatapan Sio Zhang.
Saat kalah di tangan Long Xiaobai, ia masih memiliki keberanian untuk memikirkan balas dendam. Namun, setelah kalah di tangan Sio Zhang, ia sama sekali tidak berani melawan.
Liu Xian berusaha membuka mata. Ia melihat Sio Zhang memandangnya dari atas dengan sikap yang sangat angkuh. Bahkan keberanian untuk bangkit pun telah lenyap.
Padahal, sejak terkena serangan hingga saat ini, semua itu hanya berlangsung sekejap!
Sio Zhang tidak mengatakan apa-apa. Diamnya sendiri sudah merupakan sikap.
Liu Xian melarikan diri dengan berguling dan merangkak. Kali ini, ia benar-benar menyaksikan dan merasakan sendiri kengerian Sio Zhang.
Orang ini memang sungguh angkuh!
…
Departemen Pengendalian Roh.
Shen Chang, yang sudah lama tidak muncul, membawa sebuah gulungan dan berjalan cepat memasuki kamar Shen Nanxing.
“Paman, ada urusan apa?”
Shen Nanxing masih menulis di atas meja tanpa menghentikan penanya. Ia menundukkan kepala dan bertanya.
Shen Chang mendekat dan melirik kertas itu.
“Masih menulis surat tantangan?”
Terhadap keponakannya ini, Shen Chang benar-benar tidak berdaya.
Sejak berulang kali gagal menantang Long Xiaobai dan akhirnya menjadi bahan tertawaan Akademi Dao Langit Timur, Shen Nanxing seperti kerasukan. Setiap hari ia terus menulis surat tantangan dan mengirim satu surat setiap hari. Tak peduli bagaimana ia dibujuk, ia tetap tidak mau berhenti.
“Sebentar lagi selesai.”
Shen Nanxing terus menulis dengan cepat.
Shen Chang diam-diam menghela napas. Setelah keponakannya selesai menulis, barulah ia berkata, “Aku datang untuk memberitahumu sesuatu. Tanah Jahat Jurang Tenggelam telah dibuka. Menurut aturannya, para murid yang masuk ke sana diperbolehkan saling berebut dan bertarung. Menurut informasi yang kuterima, Long Xiaobai juga akan memasuki Tanah Jahat Jurang Tenggelam. Namamu sudah kulaporkan kepada departemen. Saat itu, kau bisa bertarung dengannya dan mewujudkan keinginanmu.”
Wajah Shen Nanxing langsung berseri-seri.
“Bagus sekali! Akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menghajar Long Xiaobai.”
Shen Chang mengangguk dengan tatapan penuh kasih sayang. Perubahan keponakannya menjadi seperti sekarang juga bermula darinya.
Awalnya, semua itu dilakukan demi membalaskan dendamnya. Kini, tujuannya adalah menghapus gangguan batin yang menghantuinya.
Shen Chang menepuk bahunya dan berpesan, “Tanah Jahat Jurang Tenggelam akan resmi dibuka tiga hari lagi. Persiapkan dirimu dengan baik selama waktu ini.”
Tatapannya jatuh pada surat tantangan di atas meja. Dengan makna tersirat, ia berkata, “Surat ini tidak perlu dikirim lagi.”
Shen Nanxing berpikir sejenak, lalu meremas kertas itu hingga menjadi gumpalan. Ia mengambil kertas baru, menggenggam pena, dan mencelupkannya ke dalam tinta.
“Aku harus menulis surat yang lain.”
…
Pada saat itu, Long Xiaobai sedang berkultivasi di dalam kamar. Kedua tangannya terus mengambil batu roh dari Tulang Penciptaan, memurnikannya dengan teknik khusus, lalu menyerapnya ke dalam tubuh.
Setelah menembus tingkat kultivasi berkat roh binatang Raja Singa Gunung Besi, ia belum sempat menstabilkan kekuatannya. Kini persediaan batu rohnya sangat melimpah, sehingga kultivasinya pun berjalan amat lancar.
Dalam waktu kurang dari setengah hari, ia telah memurnikan dua ribu batu roh. Jika orang lain mengetahui kecepatan kultivasinya, mereka pasti akan sangat terkejut.
Duk, duk, duk.
Terdengar ketukan di pintu.
Sesaat kemudian, suara Niu Hansheng terdengar.
“Adik Seperguruan Long, Ren Shaoming datang. Dia terus berteriak dan memaksa ingin bertemu denganmu. Kami tidak mampu menahannya. Apakah kau ingin menemuinya?”