Volume Pertama Bab 17: Percakapan Malam
Halaman (1/3)
Melihat usia Su Xi yang masih muda, Kaisar tidak memintanya untuk melayani di ranjang malam itu. Begitu tirai sutra diturunkan, pelita pun telah dipadamkan, menyisakan cahaya rembulan samar yang menembus kertas jendela.
Su Xi berbaring menyamping dan dengan sukarela meringkuk dalam pelukan Kaisar.
Kaisar belum mengantuk. Dalam suasana hati yang tiba-tiba ingin tahu, ia bertanya, “Kau mengatakan bahwa baru beberapa waktu lalu dirimu diangkat sebagai anak Su Zong. Jadi, apakah kau masuk istana untuk mengikuti seleksi perempuan istana atas kemauanmu sendiri?”
Su Xi tertawa lirih. “Hamba tentu saja bersedia.”
Bagaimanapun, semua itu adalah hasil perhitungannya sendiri. Mana mungkin ia tidak bersedia?
“Yang Mulia mungkin tidak tahu, ibu hamba dahulu hanyalah seorang gadis petani dari Kabupaten Long’an. Karena kecantikannya, ia dirampas dan dipaksa menjadi selir.”
“Ibu tiri sah hamba mengira ibu hamba yang menggoda ayah, lalu diam-diam menyimpan kebencian. Ketika kandungan ibu hamba telah berusia delapan bulan, ia memaksa ibu hamba berlutut selama empat jam. Akibatnya, kandungan ibu hamba terguncang dan akhirnya ia meninggal saat melahirkan.”
Satu kehamilan, dua nyawa melayang...
Su Xi perlahan memejamkan mata. Semua hal itu dapat diketahui selama seseorang menyelidikinya dengan sungguh-sungguh, maka ia pun menceritakannya dengan jujur.
Namun, dosa-dosa yang dilakukan keluarga Lin sebenarnya jauh lebih banyak daripada itu.
Pada tahun ketika ibunya baru masuk ke kediaman keluarga Su, kakek dari pihak ibu datang untuk membawa putrinya pulang. Namun, para pelayan kejam di bawah keluarga Lin mematahkan kakinya. Walaupun segera mendapat pengobatan, ia tetap tak terhindarkan dari cacat pincang seumur hidup.
Ketika Su Xi berusia lima tahun, tepat saat ibunya kembali mengandung, sepupu laki-laki tertuanya datang dengan alasan mengantarkan hadiah karena ingin menemui ibunya. Namun, ia dipukuli hingga tewas oleh para pengikut Su Cheng. Setelah itu, jasadnya diseret pergi dan dibuang ke pemakaman liar...
Semua itu dilihatnya dengan mata kepala sendiri.
Ia melihat salah seorang pengikut tersebut menyeret jasad sepupu tertuanya, tetapi saat itu ia masih terlalu kecil dan sama sekali tidak mampu menyelamatkan siapa pun.
Ketika akhirnya ia mengikuti mereka sampai ke pemakaman liar, sepupunya itu sudah tak bernapas lagi.
Hari itu hujan turun dengan deras. Ia hanya mampu menggali lubang seadanya untuk menguburkan jasad tersebut.
Ia hendak pergi ke rumah kakeknya, tetapi di tengah perjalanan ditemukan oleh orang-orang keluarga Lin. Setelah ditangkap dan dibawa pulang, ia dipukuli habis-habisan oleh keluarga Lin, sehingga semakin mustahil baginya untuk melarikan diri.
Su Cheng dan keluarga Lin sama-sama pantas mati!
Seandainya bukan karena ibunya menyuruhnya untuk tetap hidup dengan baik, ia pasti sudah mencuri racun tikus yang ditaburkan di sudut dapur dan meracuni mereka hingga mati. Namun, ibunya benar. Orang-orang seperti Su Cheng dan keluarga Lin tidak layak ditebus dengan nyawanya.
Ia harus bersabar sedikit lebih lama...
Biarlah untuk sementara kedua orang itu terus bertindak sewenang-wenang di Kabupaten Long’an selama beberapa tahun lagi. Begitu waktunya tiba, ia pasti akan membuat mereka membayar hutang darah dengan darah!
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Mendengar itu, Kaisar menjadi tertarik. “Kalau begitu, bukankah kau sangat membenci ayah dan ibu tiri sahmu?”
Su Xi menjawab terus terang, “Tentu saja hamba membenci mereka. Karena itulah ketika mereka mengangkat hamba sebagai anak Paman Tertua, hamba melakukannya dengan sukarela. Masuk istana pun merupakan kehendak hamba sendiri.”
“Jadi, jangan melihat Taman Yunyan ini sebagai tempat yang kecil. Setelah hamba merapikannya dan menanami halaman di luar dengan bunga serta pepohonan yang indah, tempat ini juga tidak akan kalah dari tempat lain,” ujarnya, berbohong demi menyenangkan hati lawan bicara.
Halaman itu sudah terbelah menjadi dua. Sebanyak apa pun bunga dan pepohonan indah yang ditanam, tetap tidak akan mengubah tata letaknya yang sempit.
Namun, ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Bagaimanapun, ketika berada di Kabupaten Long’an, tempat tinggalnya bahkan jauh lebih buruk daripada Taman Yunyan.
Mungkin karena memiliki nasib yang serupa, Kaisar tidak tertarik membicarakan bunga dan pepohonan. Sebaliknya, ia bertanya dengan penuh semangat, “Jadi, bagaimana kau berencana membalas mereka?”
Kaisar bukanlah putra kandung Ibu Suri.
Ibu kandungnya berasal dari kalangan rendah. Ia meninggal saat melahirkan dirinya karena persalinan yang sulit, sementara Kaisar sebelumnya juga tidak menyukainya. Karena itu, sejak kecil ia hidup dengan sangat menderita di istana dan kerap ditindas para kasim serta pelayan istana.
Namun, ia bukan orang lemah yang rela disembelih sesuka hati. Para pelayan yang pernah menindasnya tidak ada satu pun yang berhasil melewati musim dingin berikutnya.
Kemudian, ketika Kaisar sebelumnya menua dan para pangeran lain bertarung mati-matian demi takhta, ia sesekali diam-diam mengipasi api pertikaian mereka. Saat semua orang menyadarinya, hampir seluruh pangeran yang lebih tua telah tewas. Sebaliknya, ia menjadi pangeran tertua sekaligus calon yang paling pantas untuk mewarisi takhta.
Belakangan, demi membuat asal-usulnya tampak lebih terhormat, ia memilih Selir Shu pada masa itu, yang kini menjadi Ibu Suri, sebagai ibu kandung resminya. Pada usia dua belas tahun, ia naik takhta sebagai Kaisar.
Para pejabat istana melihat usianya yang masih muda dan berusaha menindasnya, menganggapnya sebagai boneka mereka. Namun, bagaimana keadaannya sekarang?
Ia menggenggam seluruh kekuasaan. Semua kendali militer Negara Xuan berada di tangannya. Di hadapan para pejabat, dialah satu-satunya orang yang berhak mengambil keputusan.
Karena itu, seseorang memang harus berhati kejam.
Namun jelas sekali, gadis lemah yang saat ini berbaring di sisinya bukanlah orang yang berhati kejam. Kalau tidak, bagaimana mungkin Su Cheng dan keluarga Lin masih bisa hidup sampai sekarang?
Su Xi tidak tahu mengapa Kaisar tertarik pada cara ia membalas dendam. Setelah berpikir sejenak, ia menjawab dengan hati-hati, “Hamba sudah menemukan caranya.”
Mengenai cara tersebut, tentu saja ia tidak menjelaskannya lebih lanjut.
Kaisar tertawa rendah dua kali setelah mendengarnya, tetapi tidak terus bertanya. Ia malah berkata, “Selir kesayanganku sungguh jujur. Tidakkah kau takut aku akan membenci dirimu yang pendendam dan tak mau mengalah ini?”
Bukankah laki-laki biasanya menyukai perempuan yang polos dan baik hati?
Walaupun tidak dapat melihat ekspresi Kaisar, dari suara tawanya Su Xi tahu bahwa ia tidak marah. Maka, ia berpura-pura tidak mengerti dan balik bertanya, “Bukankah Yang Mulia suka mendengar kejujuran?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Mata Kaisar menyipit. Ia mengangkat tangan dan mengelus kepala Su Xi, lalu bertanya dengan suara lembut, “Jadi maksudmu, kau tidak akan pernah membohongiku?”
Para penguasa sejak dahulu memang penuh kecurigaan. Dengan nada yang tegas sekaligus tulus, Su Xi berkata, “Benar. Hamba tidak akan membohongi Yang Mulia.”
Entah itu benar atau tidak, Kaisar sangat puas dengan sikap Su Xi. Sudut bibirnya terangkat. “Malam sudah larut.”
Sudah waktunya tidur.
Setelah terbangun keesokan harinya, Kaisar tidak dapat menahan rasa sesal karena terlalu banyak bicara malam sebelumnya. Sepertinya ia telah sedikit memperlihatkan sifat aslinya.
Su Xi bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia bangun dengan hormat untuk membantu Kaisar berganti pakaian, lalu mengantarnya sampai ke gerbang Taman Yunyan.
Setelah sosok itu pergi menjauh, ia berbalik dan mengembuskan napas lega. Sifat Kaisar tampaknya agak... aneh. Namun, itu bukan hal penting. Selama ia berhasil meninggalkan kesan dalam hati Yang Mulia, semuanya sudah cukup.
Ada begitu banyak perempuan di istana. Ia harus menunjukkan sesuatu yang berbeda agar dapat menarik perhatian Yang Mulia.
Adapun risikonya... segala sesuatu memang memiliki risiko. Selama imbalannya lebih besar daripada risikonya, semua itu layak dilakukan.
Su Xi mendongak menatap langit. Ia harus pergi ke Istana Kunning untuk memberi salam lagi...
Hanya saja, karena Yang Mulia bermalam di kediamannya kemarin, ia mungkin kembali membuat banyak orang iri dan dengki.
Ternyata dugaannya benar. Selir Agung Zhao mengabaikan larangan Kaisar dan pagi-pagi sekali datang pula ke Istana Kunning untuk memberi salam.
Selir Agung Zhao duduk tegak di bawah posisi Permaisuri. Ia menatap Su Xi dari tempat yang lebih tinggi, dengan kilatan kebencian melintas di matanya. Ia menyindir, “Aku dengar Yang Mulia bermalam di kediaman Selir Su tadi malam?”
Su Xi terlebih dahulu melirik Selir Agung Zhao dengan takut-takut, kemudian mengangguk kecil. “Menjawab pertanyaan Yang Mulia Selir Agung, Yang Mulia Kaisar memang bermalam di kediaman hamba tadi malam.”
Begitu mendengar jawabannya, Selir Agung Zhao menepuk meja dan berdiri sambil memarahi, “Kurang ajar! Kau hanya seorang selir rendahan tingkat tujuh, tetapi berani membiarkan Yang Mulia bermalam di tempatmu!”
Kaisar bermalam di Taman Yunyan saja sudah cukup membuat orang iri. Namun, ia bahkan menyantap makan malam di sana. Siapa di seluruh istana yang tidak tahu bahwa selain makan di kediaman Permaisuri, Kaisar tidak pernah menyantap hidangan di kediaman istana lainnya?
Selir Su telah menjadi pengecualian!
Permaisuri melirik Selir Agung Zhao dari sudut matanya. Biasanya, ia pasti sudah berusaha menengahi keadaan. Namun, hatinya juga sangat tidak puas karena Kaisar bermalam di Taman Yunyan, sehingga ia membiarkan Selir Agung Zhao melampiaskan amarahnya.
Halaman (3/3)