Jilid Pertama Bab 53 Mati
Bai Zhi kini telah diturunkan, hanya saja tangan dan kakinya masih terikat. Ia meringkuk di atas tanah dengan napas yang lemah.
Ru Er menatapnya dengan kilatan cahaya samar di matanya, lalu berjalan mendekat. Memunggungi kedua pelayan kasim kecil itu, ia berjongkok di sisi Bai Zhi dan tiba-tiba berkata, "Dia sudah tidak sadarkan diri, haruskah aku langsung menuangkan bubur ini ke mulutnya?"
Mendengar itu, seorang kasim kecil berjalan masuk, menendang kaki Bai Zhi, dan melihat Bai Zhi mengerang kesakitan namun tubuhnya tetap tidak bergerak. Tanpa ambil pusing, ia berkata, "Tuangkan saja. Kasim Gu sudah berpesan, orang ini untuk sementara belum boleh mati."
"Nona Ru Er, apakah butuh bantuan kami?"
"Tidak perlu, hanya menuangkan semangkuk bubur saja. Dia toh tidak bisa melawan, kalian pergilah makan sana," tolak Ru Er.
"Baiklah." Kasim kecil itu tidak curiga. Ia berbalik dan berjalan keluar, lalu duduk bersama satu orang lainnya di ambang pintu, merobek paha ayam, dan mulai makan.
Melihat mereka tidak lagi memerhatikan ke arah sini, Ru Er membenamkan satu jarinya ke dalam bubur putih dan mengaduknya. Bubuk putih yang menempel di ujung jarinya larut ke dalam bubur. Ia segera menarik jarinya, lalu melanjutkan mengaduk beberapa kali dengan sendok.
Ia mengulurkan tangan untuk mencubit pipi Bai Zhi. Secara tidak sadar, Bai Zhi terpaksa membuka mulutnya. Bubur putih yang hangat dituangkan ke dalam mulutnya. Tenggorokan Bai Zhi bergerak, dan secara refleks ia menelan seluruh bubur putih tersebut.
Setelah semangkuk bubur putih itu habis dituangkan, Ru Er segera melepaskan tangannya, bangkit, lalu berjalan keluar. Ia melirik kedua kasim kecil yang sedang sibuk makan dan berkata, "Aku sudah menuangkan bubur itu ke dalam mulutnya. Jaga orang itu baik-baik."
"Baik, serahkan pada kami di sini. Nona Ru Er, cepatlah kembali," kata kasim kecil itu sambil melambaikan tangan.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Besok pagi aku akan datang lagi mengantarkan makanan untuk kalian." Ru Er tersenyum penuh arti sambil membawa kotak makanan yang sudah kosong dan beranjak pergi.
Setibanya di kamar, ia mencuci bersih kotak makanan dan mangkuk tersebut dengan air sebelum beristirahat.
Keesokan paginya, Ru Er tepat waktu kembali untuk mengantarkan makanan bagi kedua kasim kecil itu.
Sarapan pagi itu cukup sederhana, hanya beberapa buah bakpao daging besar dan tiga mangkuk bubur daging. Salah satu mangkuk itu diperuntukkan bagi Bai Zhi. Ru Er menyajikan makanan tersebut, lalu merapikan mangkuk dan piring kemarin. Sambil berlalu, ia berkata dengan nada santai, "Kalian cepatlah makan. Setelah selesai, aku bisa sekalian membawa mangkuk dan piring ini kembali untuk dicuci."
"Baiklah, baiklah, kami makan sekarang!" Kedua kasim kecil itu meraih bakpao daging dan mulai melahapnya dengan rakus. Satu gigitan bakpao, satu suapan bubur, mereka makan dengan sangat cepat.
Ru Er mengambil semangkuk bubur daging dan berkata, "Nah, kalian periksa dulu mangkuk bubur ini, aku akan membawanya masuk untuk dia."
"Baik." Sambil mencuri waktu, seorang kasim kecil mengeluarkan jarum perak dan mengaduknya beberapa kali di dalam bubur daging, lalu menariknya keluar dan melihatnya. "Sudah, silakan Nona Ru Er bawa masuk."
Ru Er mendorong pintu dan melangkah masuk. Bai Zhi masih mempertahankan posisi berbaringnya seperti kemarin, hanya saja dadanya sudah tidak lagi berombak naik turun.
Ia berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk memeriksa napas Bai Zhi. Setelah memastikan bahwa orang itu benar-benar sudah mati, sudut mata dan alisnya tak kuasa terangkat penuh kemenangan. Namun, saat ia berbalik, ia langsung mengubah ekspresinya menjadi panik.
"Gawat, dia mati!"
Mendengar itu, kedua kasim kecil tersebut buru-buru berlari masuk. Melihat Bai Zhi yang berwajah pucat pasi, mereka mengulurkan tangan untuk meraba nadi wanita itu, membuat wajah mereka seketika memutih. "Ma... mati?"
"Bagaimana bisa mati?"
Dengan cemas Ru Er bertanya, "Apakah ada orang yang masuk semalam?"
Kedua kasim kecil itu menggelengkan kepala dengan panik. "Tidak ada! Kami berdua berjaga secara bergiliran dan bahkan tidak berani memejamkan mata sedetik pun. Tidak mungkin ada orang yang bisa masuk ke dalam kamar ini!"
Dengan ekspresi muram, Ru Er berkata, "Aku akan pergi melaporkan hal ini kepada Kasim Gu dulu, kalian berdua tetaplah berjaga di sini."
"Baik!" Kedua kasim kecil itu langsung menyetujui.
Ru Er meletakkan mangkuk bubur di tangannya ke lantai, lalu berbalik dan berlari keluar.
Tidak lama kemudian, Kasim Gu pun tiba.
Melihat jenazah yang sudah kaku itu, ekspresi Kasim Gu sama sekali tidak terlihat baik. Ia menatap kedua kasim kecil yang tampak ketakutan, lalu berkata dengan suara dingin, "Beginikah cara kalian menjaga orang?"
Kasim kecil itu buru-buru menjelaskan, "Kasim Gu, kami berdua sama sekali tidak bermalas-malasan. Selain Anda dan Nona Ru Er, sama sekali tidak ada orang lain yang masuk ke kamar ini!"
Kasim Gu berjongkok dan membalikkan jenazah tersebut. Melihat bibir Bai Zhi yang kebiruan, ia tidak bisa menahan kerutan di keningnya. "Dia mati karena diracun."
Ia mendongak menatap Ru Er. Ru Er tampak jelas panik, buru-buru melambaikan tangan dan berkata, "Kasim Gu, kemarin aku hanya mengantarkan semangkuk bubur putih untuknya, lagipula di ambang pintu mereka berdua sudah memeriksa racunnya!"
Kedua kasim kecil itu mengangguk membenarkan. "Kami benar-benar sudah memeriksanya, bubur itu sama sekali tidak beracun."
Kasim Gu tidak berkata apa-apa lagi. Sudut bibirnya tertarik sinis. "Sudahlah, masalah ini akan aku selidiki sendiri. Kalian bertiga ikuti aku di belakang dan tidak diizinkan meninggalkan sisiku barang setengah langkah pun."
Ru Er dan kedua kasim kecil itu buru-buru menjawab, "Baik."
Begitu hendak diselidiki, tindakan Kasim Gu sangat cepat. Ia menggeledah kamar ketiga orang itu hingga jungkir balik, lalu meminta Ru Er mengeluarkan kotak makanan hari kemarin serta mangkuk bekas bubur putih untuk diperiksa dengan cermat.
Namun, tetap saja tidak ditemukan apa pun.
Dengan tatapan setajam panah, Kasim Gu menatap Ru Er yang betisnya bergetar ketakutan, lalu menginterogasinya, "Selain dirimu, apakah ada orang lain yang pernah memegang kotak makanan itu?"
Dengan wajah pucat pasi, Ru Er menjawab, "Ada. Awalnya Zhu Er yang hendak mengantarkan makanan kepada mereka, tetapi dia bilang sedang datang bulan dan perutnya sakit, jadi dia menyerahkan kotak makanan itu kepadaku dan menyuruhku untuk menggantikannya mengantar..."
"Zhu Er..." gumam Kasim Gu dalam hati. Kemarin ia memang hanya memerintahkan seseorang untuk mengantarkan makanan, tanpa menunjuk siapa yang harus mengantarnya.
Namun, di Paviliun Barat ini, pelayan istana yang sedang senggang hanyalah Ru Er dan Zhu Er.
Dengan kata lain, pelayan bernama Zhu Er ini juga memiliki kecurigaan yang sangat besar.
Kasim Gu memanggil beberapa orang untuk bersama-sama menggeledah kamar Zhu Er hingga jungkir balik. Akhirnya, di balik lantai yang longgar di dekat sudut dinding, mereka menemukan sebungkus racun.
Setelah diperiksa oleh tabib istana, dipastikan bahwa bungkusan racun tersebut sama persis dengan racun yang merenggut nyawa Bai Zhi. Kasim Gu pun langsung memerintahkan agar wanita itu segera ditangkap.
Ru Er menyaksikan seluruh proses penangkapan Zhu Er, melihat wanita itu ditekan ke tanah dan dihukum pukul papan, tanpa ada sedikit pun gejolak di matanya.
Racun itu memang milik Zhu Er, ia hanya kebetulan mengambilnya untuk dipakai.
Sementara itu, Zhu Er sendiri adalah mata-mata dari istana lain. Setelah ditangkap tanpa alasan yang jelas dan dihantam beberapa kali dengan papan hukuman hingga nyaris meregang nyawa, ia buru-buru mengaku bahwa racun itu memang miliknya.
Namun, ia mati-matian tidak mengakui bahwa dirinyalah yang meracuni Bai Zhi hingga tewas.
Hanya saja, Kasim Gu sama sekali tidak peduli apakah Zhu Er benar-benar pembunuhnya atau bukan. Menyimpan racun saja sudah merupakan kejahatan yang layak dihukum mati, maka wanita itu pun disiksa hingga tewas di bawah hukuman tongkat.
Ru Er sendiri tidak bernasib mujur sepenuhnya. Ia juga masih memiliki kecurigaan pada dirinya, tetapi keterlibatannya tidak terlalu dalam dan tidak ada bukti kuat yang menudingnya. Kasim Gu tidak bisa mengeksekusinya tanpa alasan yang sah, sehingga ia mengirim Ru Er kembali ke Kota Terlarang, diserahkan ke bagian pengurus pelayan istana untuk dididik ulang.
Namun, Bai Zhi pada akhirnya tewas terbunuh, membuat mereka gagal mendapatkan barang bukti untuk menjerat Selir Zhao.