Bab Lima Belas: Tahun-tahun yang Berlalu dengan Tenang
Waktu berlalu bagaikan air, tak terasa sudah empat tahun lagi yang terlewati.
Di sebuah halaman dalam kompleks Keluarga Jiang.
“Ibu, apakah Kakak masih berlatih pedang di Pegunungan Bambu? Sudah hampir tengah hari, waktunya makan,” tanya seorang gadis kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pada ibunya, Qin Wei.
“Kakakmu itu seharian berlatih pedang, biasanya tidak pulang saat tengah hari. Bawa saja Paman Teng bersamamu dan tanyakan pada kakakmu!” Senyum tipis terlukis di wajah Qin Wei.
Beberapa tahun ini, meskipun di hati ia merasa iba dengan kerja keras putranya, namun ia tetap sangat bangga pada anaknya itu.
Selama bertahun-tahun, nama Jiang Han sebagai anak ajaib di Keluarga Jiang telah diakui, bahkan hampir didewakan. Seluruh keluarga besar yakin Jiang Han adalah salah satu pendekar terkuat di sepuluh besar, hanya di bawah para Guru Bela Diri, padahal Jiang Han baru berusia sebelas tahun.
Anak-anak lelaki yang seusia dengannya dan memiliki bakat berlatih, kebanyakan belum mampu membentuk Pola Bela Diri. Bahkan dua anak paling menonjol dari generasi ini, Jiang Zhanyu dan Jiang Shanhailing, baru saja masuk tahap pendekar.
...
Di dalam hutan bambu di Pegunungan Bambu.
Daun-daun bambu berjatuhan ke tanah.
Seorang pemuda berbaju putih berdiri di tanah lapang di pinggir hutan. Tingginya seukuran rata-rata orang dewasa, namun sorot matanya sangat tajam. Setiap langkahnya penuh keyakinan dan kekuatan, membawa aura menakutkan yang hanya dimiliki para ahli pedang sejati.
“Kakak, pulang makan, yuk!”
Suara polos seorang gadis kecil terdengar dari kejauhan.
“Xiaoyu.” Jiang Han tersenyum, lalu dengan gerakan secepat kilat melempar pedang perangnya ke batu besar di sampingnya hingga batu itu bergetar keras dan muncul retakan-retakan lebar.
Adiknya, Jiang Yu, hampir berusia empat tahun. Seperti dirinya, adiknya juga cerdas sejak kecil.
“Kakak, pulanglah makan! Ibu membuat banyak makanan enak hari ini,” kata Jiang Yu dengan penuh semangat.
“Kamu duluan saja makan, nanti kalau keburu dingin malah tidak enak,” jawab Jiang Han sambil tersenyum.
“Kakak, kau selalu di belakang gunung. Apa tidak bosan? Aku ingin sekali kau ajak aku ke Kota Hong jalan-jalan,” gumam gadis kecil itu pelan.
Jiang Han hanya tersenyum. Adiknya itu masih kecil namun sangat aktif. Sejak ayah mereka pernah mengajaknya ke Kota Hong, ia terus-terusan ingin pergi lagi.
“Teng, nanti antar Xiaoyu pulang ya,” Jiang Han berkata kepada lelaki tinggi yang sejak tadi diam di belakang. “Katakan pada ibu, sore ini aku berlatih tinju di Pegunungan Bambu, malam baru pulang.”
Setelah berkata demikian, Jiang Han berbalik masuk ke dalam hutan, menanggalkan jubah putihnya. Di balik tubuh yang tampak biasa, otot-ototnya membentuk garis yang sangat jelas.
Setelah bertahun-tahun berlatih, tubuhnya kini sekuat baja.
Kemudian, Jiang Han mulai menginjak dedaunan, berlatih jurus Tinju Jejak Langit di tengah hutan. Dalam samudra kesadaran jiwanya, samar-samar tampak sembilan bayangan berlari kencang.
Daun-daun menempel di lengan, setiap gerakan pukulannya membawa kekuatan misterius, seolah dirinya telah menyatu dengan alam.
“Baik, nanti saya antar Nona Yu pulang,” jawab Wang Teng, dalam hati terkejut. Tinju Tuan Muda keenam kini semakin hebat. Dua tahun pertama ia masih bisa mengimbangi Jiang Han, kini hanya Jiang Zheng yang masih bisa bertarung dengannya.
“Kakak nakal, aku pulang sendiri saja!” Xiaoyu menjulurkan lidah pada Jiang Han lalu berlari menuruni gunung.
Jiang Han mendengar suara adiknya dan tersenyum, kemudian melanjutkan latihan sembilan jurus tinju di hutan bambu. Walau tampak santai, tenaga dalam tubuhnya mengalir halus seperti air.
Setahun lalu, teknik tinjunya telah mencapai tingkat ‘penyatuan manusia dan kekuatan’ seperti yang sering dikatakan ayahnya.
Tapi itu belum cukup. Kendati sudah menguasai tubuh dan ilmu pedang dengan sangat baik, ia merasa masih kurang dalam pengendalian kekuatan seluruh tubuh. Ia masih selangkah lagi menuju tahap Kesempurnaan Mutlak.
Hanya jika mampu mengendalikan kekuatan tubuh secara utuh, barulah pedang bisa digunakan seturut kehendak, dan ia pantas disebut Guru Pedang Sejati!
Selama setahun ini, ia berlatih tinju dan pedang tanpa henti, ingin menembus batas kesempurnaan, namun selalu terasa ada yang kurang. Tapi Jiang Han mulai meraba ambang batas itu; perasaan mengendalikan tenaga sesuai kehendak, penguasaan mutlak atas tubuhnya.
Lima tahun berlatih tinju, lima tahun berlatih pedang.
Bertahun-tahun, sendirian, ia tak pernah menyerah sedetik pun, bahkan di musim dingin paling menusuk, ia tetap naik gunung dengan baju tipis untuk berlatih.
Lima tahun latihan, setara dengan puluhan tahun latihan orang biasa.
Jiang Han menarik tinju, mengambil pedang perang yang menancap di batu besar. “Tapi, kenapa kekuatan qi-ku hingga kini belum mencapai tingkat Guru Bela Diri?”
Jiang Han mendongak ke hutan bambu yang lebat, lalu menendang beberapa batang bambu dengan gerakan secepat kilat.
Ketika daun-daun bambu berjatuhan, ia mulai memainkan jurus pedangnya. Pedangnya melesat laksana kuda liar, secepat kilat, cahaya pedang menari-nari dalam radius tiga meter di sekitarnya. Dalam hitungan detik, seluruh daun bambu jatuh ke tanah, setiap helai terbelah dua dengan sangat rapi di tengah.
Menurut perhitungan ayahnya, Jiang Zheng, seharusnya pada usia tujuh tahun ia sudah menyentuh ambang Guru Bela Diri, dan usia dua belas tahun mencapai puncaknya.
Namun, qi dalam tubuhnya selalu lemah. Meski telah berlatih keras lima tahun, ia baru mencapai puncak pendekar, masih jauh dari tingkat Guru Bela Diri.
Kakeknya, Jiang Yangshan, sedikit khawatir, tapi ayahnya menyuruh Jiang Han untuk terus berlatih tanpa banyak memikirkan hal itu.
Fungsi utama teknik qi adalah menyerap energi alam dan memperkuat tubuh, hingga tubuh berevolusi menjadi lebih kuat. Bila tubuh cukup kuat, ia menjadi wadah yang mampu mengubah energi alam berlebih menjadi qi sejati.
Semakin kuat tubuh, semakin banyak qi yang bisa ditampung, maka tingkat kekuatan pun ikut meningkat.
Tubuh Jiang Han, selama bertahun-tahun menyerap darah monster dan mandi ramuan, ditambah penyerapan energi alam yang konstan, telah mencapai tingkat yang sangat luar biasa dan terus berkembang. Namun energi alam yang sangat banyak itu terserap habis sehingga qi dalam tubuhnya sangat lemah, hampir tak berarti dibanding kekuatan raganya.
“Sebenarnya, apa cairan darah ungu yang dulu kutelan itu? Apakah keistimewaan tubuhku karena setetes darah ungu itu?”
“Kini, kekuatanku mungkin sudah setara dengan kekuatan sepuluh ribu kati, pendekar puncak biasa pun tak sanggup menahan satu tebasanku,” pikir Jiang Han. “Namun tubuhku masih terus berevolusi dan menjadi lebih kuat.”
“Sudahlah, yang penting kekuatan tubuh terus bertambah, tak perlu dipikirkan terlalu jauh,” gumam Jiang Han, lalu memikirkan hal lain. “Ayah selalu berkata ‘latihan seribu kali akan membawa pada kesempurnaan’, tapi sudah setahun aku belum benar-benar merasakan pencerahan itu.”
“Terus berlatih tanpa hasil juga bukan jalan keluar.” Jiang Han menyarungkan pedangnya. “Orang bilang, ‘membaca ribuan buku, menjelajahi ribuan mil’. Mungkin aku harus pergi keluar, bertarung dan menempah diri melawan monster untuk benar-benar mencapai kesatuan kekuatan.”
Di ambang hidup dan mati, selalu ada rasa takut yang luar biasa.
Namun di sanalah pelajaran terbesar ditemukan.
...
Sore hari tiba.
Di dalam keluarga Jiang, asap dapur mengepul, menandakan waktu makan malam.
“Ayah, Ibu, aku pulang!” Jiang Han meletakkan pedangnya dan melangkah masuk ke halaman rumah.
Dari dalam, ayahnya, Jiang Zheng, tersenyum tipis. “Han’er, tinggal menunggu kamu saja. Hari ini, ibumu memasak hidangan kesukaanmu, daging kepala babi.”
Jiang Han melangkah masuk ke ruang makan. Saat itu, Jiang Zheng, Qin Wei, dan adiknya, Jiang Yu, sudah duduk di meja, makanan tersaji sangat mewah, namun tak seorang pun mulai makan. Jelas mereka menunggu Jiang Han pulang.
“Ibu, kalian tidak usah menunggu, bisa mulai makan lebih dulu,” ujar Jiang Han, duduk dan mengelus kepala Xiaoyu. “Lihat, adik sudah lapar.”
“Aku belum lapar, mau tunggu kakak makan bersama,” ujar Xiaoyu polos.
“Hahaha!”
Seluruh keluarga pun tertawa bersama.
Hati Jiang Han terasa hangat. Ia berkata, “Ayah, Ibu, mari kita mulai makan.”
Usai makan malam, adiknya diajak pelayan untuk bermain.
Di ruang kerja.
“Ayah, aku ingin masuk pasukan penjaga, berangkat ke Pegunungan Utara,” kata Jiang Han kepada ayahnya yang berdiri di dekat jendela, sementara ibunya duduk di samping.