Bab Lima Puluh Empat: Sang Pertapa
Keesokan harinya...
Zhang Heng berangkat menuju Padepokan Awan Biru.
Jika dihitung-hitung, Padepokan Awan Biru merupakan bagian dari aliran Yujing, konon sudah ada sejak zaman Dinasti Tang, berarti telah berumur lebih dari seribu tahun. Pernah mengalami pasang surut, meski tak seterkenal Perguruan Gunung Mao, Istana Guru Langit, Aliran Dao Sejati, Sekte Cahaya Ilahi, ataupun Padepokan Awan Putih, namun di wilayah antara dua ibukota, padepokan ini termasuk besar dan memiliki banyak pengikut.
Sayangnya hari ini Zhang Heng datang kurang beruntung, tepat saat hujan musim gugur turun.
Ketika Zhang Heng tiba di Padepokan Awan Biru, hujan semakin deras, jarak sepuluh meter saja pandangan sudah tak jelas.
“Saudara dermawan, karena hujan, jalanan di gunung licin. Kepala padepokan kami sudah memerintahkan, hari ini untuk sementara tidak menerima tamu sembahyang. Jika Saudara tidak ada tempat berteduh, di sebelah kiri dua ratus meter ada sebuah penginapan, cukup katakan Anda adalah pengikut padepokan, boleh bermalam untuk berteduh dan bisa mendapat semangkuk wedang jahe gratis,”
Melihat Zhang Heng berjalan mendekat, seorang biksu muda yang berjaga di bawah paviliun gerbang gunung menyangka ia seorang umat yang datang menunaikan nazar.
“Saudara, aku bukan umat yang datang menunaikan nazar,” kata Zhang Heng sambil memberi penghormatan. “Tolong sampaikan pada kepala padepokan, katakan Zhang Heng dari Gunung Mao ingin bertemu.”
“Gunung Mao?” Biksu muda itu mengenakan mantel hujan dari jerami, usianya sekitar lima belas atau enam belas tahun. “Ada buktinya?”
“Kau kenal liontin giok ini?”
Zhang Heng melepas liontin giok Gunung Mao dari lehernya.
Begitu melihatnya, biksu muda itu segera memberi hormat, “Qingyangzi menyapa Kakak.”
Shangqing, Yujing, Taiqing, ketiganya satu keluarga dalam Dao. Zhang Heng berasal dari Sekte Shangqing Gunung Mao, sedangkan biksu muda dari Padepokan Awan Biru aliran Yujing. Sebenarnya mereka satu perguruan.
“Tolong Kakak sampaikan ke atas, katakan Zhang Heng dari Gunung Mao ingin bertemu.”
Zhang Heng melirik hujan deras, lalu mengambil dua keping uang perak dari kantong di pinggangnya. “Nanti kau turun, mampirlah ke rumah makan, pesan semangkuk sup daging untuk menghangatkan badan.”
“Terima kasih, Kakak!” Melihat uang, biksu muda itu sumringah, “Kakak tunggu sebentar, paling lama sebatang dupa aku sudah kembali.”
Selesai berkata, biksu muda itu mengenakan caping, lalu berjalan menanjak ke gunung dengan mantel hujan.
Zhang Heng memandangi punggungnya.
Seandainya tak melanggar tata krama, ia ingin langsung naik saja, jauh lebih praktis. Sayangnya, itu tak sopan.
Ia datang untuk menemui kepala padepokan, kalau langsung naik, kepala padepokan mendengar kedatangannya, mau keluar menyambut atau tidak?
Pagi-pagi begini, siapa tahu baru bangun tidur, belum sempat berbenah, keluar menemui tamu malah jadi kehilangan muka.
Kalau tak mau menemui, tamu sudah sampai, menunggu di aula setengah jam, kesannya jadi terlalu tinggi hati.
Berhubungan sesama insan Dao, apalagi sering bertemu, salah sedikit malah bisa jadi permusuhan.
Karena itu, kecuali sudah sangat akrab, setiap kali datang ke gunung orang, tak pernah langsung masuk, pasti memberitahu dulu. Kalau tuan rumah tak mau menemui, ada saja alasannya. Kalau mau menemui, akan mengutus orang menjemput ke bawah, sementara tamu naik ke atas, tuan rumah bisa bersiap-siap.
Tak lama, sebatang dupa kemudian.
Biksu muda itu melompat-lompat menuruni gunung, dengan bangga berkata pada Zhang Heng, “Kakak, tadinya kepala padepokan kami masih ingin tidur lagi, tapi aku langsung membangunkannya.”
Zhang Heng sempat kikuk.
Ia sadar memang datang di saat yang kurang tepat.
Di hari hujan, siapa pun malas beraktivitas, siapa yang tak ingin berlama-lama di tempat tidur?
Tapi ia tak bisa menunda. Sejak tiba di wilayah Tianjing, hatinya selalu gelisah, lebih baik segera urus urusan dan cepat-cepat ke Gunung Changbai.
“Kepala padepokan kalian, orangnya seperti apa?” tanya Zhang Heng sambil memayungi diri, berjalan di samping biksu muda itu.
“Kepala padepokan?” Biksu muda itu berpikir sejenak dan menjawab, “Suka kebersihan, agak narsis, tapi aslinya baik, dan sangat pandai berdagang.”
“Pandai berdagang?” Zhang Heng tertegun.
Kepala Padepokan Awan Biru pandai berdagang, itu pujian?
Bukankah seharusnya disebut berilmu tinggi, laksana pertapa?
Menahan keterkejutannya, Zhang Heng tak bertanya lagi.
...
Padepokan Awan Biru terletak di atas gunung.
Dari paviliun hujan di kaki gunung, ada tepat tiga ratus enam puluh lima anak tangga menuju ke atas, sesuai dengan ilmu rasi bintang.
Setelah menapaki semua anak tangga itu, gerbang Padepokan Awan Biru pun tampak.
Sekilas, pemandangan padepokan ini amat indah, bangunannya banyak.
Sayang karena hujan deras, hampir semua aula tertutup, para tamu maupun biksu pun tak kelihatan.
“Kakak, kepala padepokan menunggu di Aula Tiga Kesucian, silakan masuk. Aku harus kembali ke bawah untuk mengarahkan para pengikut.”
Setiba di depan Aula Tiga Kesucian, biksu muda itu memberi penghormatan lalu berpamitan.
Zhang Heng membalas hormat, lalu memandangi papan nama bertuliskan ‘Aula Tiga Kesucian’.
Terpikir ucapan biksu muda tadi, kepala padepokan orangnya suka kebersihan, maka ia melipat payung minyak dan meletakkannya di luar, mengetukkan kaki menghilangkan air di sepatu, baru masuk.
“Kebajikan dan Berkah... Hormat pada Sang Dewa Agung!”
Baru saja Zhang Heng melangkah masuk, terdengar sapaan kehormatan.
“Kebajikan dan Berkah untuk Sang Dewa Agung,” Zhang Heng berhenti, memberi hormat pada patung Tiga Kesucian yang dipuja di aula.
Selesai memberi hormat, ia memandang ke dalam.
Di depan patung Tiga Kesucian, ia melihat seorang pertapa muda berusia sekitar tiga puluh tahun, mengenakan jubah putih, rambut disanggul dengan tusuk giok putih.
“Hamba Outchenzi, kepala Padepokan Awan Biru. Boleh tahu keperluan apa yang mengantarkan Tuan ke mari?”
Outchenzi mengibaskan debu sutranya, sikapnya tenang dan berwibawa, tampak jelas seorang pertapa sejati.
“Hormat pada Kepala Padepokan,”
Zhang Heng menghormati status Outchenzi, segera memberi salam, “Aku Zhang Heng, murid Gunung Mao, mohon maaf telah datang tanpa undangan, semoga Kepala Padepokan tidak keberatan.”
Setelah itu ia masuk ke pokok persoalan, “Kepala Padepokan, boleh tahu di Padepokan Awan Biru ini, adakah leluhur bernama Yue Qi?”
“Siapa?!”
Debu sutra di tangan Outchenzi terlempar ke belakang, menghantam tempat lilin, bahkan tempat lilin di depan patung Tiga Kesucian pun ikut terlempar jatuh.
“Kepala, ada apa?” Zhang Heng mengerutkan dahi, tak menyangka reaksi Outchenzi sebesar itu.
“Penyakit tremor, kau pasti belum pernah dengar, penyakit saraf yang membuat tangan gemetar, kata dokter Barat begitu,” jawab Outchenzi sekilas, lalu berubah serius, “Zhang Heng, dari mana kau dengar nama itu?”
“Begini,”
Zhang Heng menurunkan keranjang bambunya, mengeluarkan sebuah kotak, “Ini adalah alat magis yang kebetulan kudapat, berupa gunting emas, di atasnya terukir nama Yue Qi dari Awan Biru.”
“Kukira sebutan Awan Biru mungkin berkaitan dengan padepokanmu, jadi saat lewat ke utara aku ingin memastikan. Kalau memang alat ini milik Padepokan Awan Biru, sebagai sesama insan Dao, tentu harus kukembalikan pada pemilik asalnya.”
“Awan Biru Yue Qi, gunting!!”
Wajah Outchenzi berubah-ubah.
Ketika Zhang Heng mengira sudah menemukan orang yang tepat, ia justru mendengar Outchenzi berkata, “Tak pernah dengar, di Padepokan Awan Biru tidak ada leluhur bernama Yue Qi, dalam daftar alat magis kami juga tak ada gunting.”
“Jadi...”
“Jadi, simpan saja itu untukmu,”
Zhang Heng hendak berkata lagi, namun Outchenzi memotong, “Mungkin memang sudah takdir alat itu jatuh ke tanganmu, ada pepatah, pemberian langit jangan ditolak. Oh ya, aku ada urusan lain yang harus diurus, hari ini maaf tak bisa menjamu lebih lama. Nanti silakan kau turun gunung.”