Bab 145: Ksatria Naga
Karena kemunculan Qilin di Pegunungan Luofeng, banyak praktisi dari Benua Tianyuan berbondong-bondong datang ke sana. Siapa pun yang ingin pergi ke Pegunungan Luofeng harus melewati Pegunungan Tianyuan, dan untuk memasuki Pegunungan Tianyuan, mereka biasanya harus melalui perbatasan Negara Chu.
Akibat masuknya berbagai macam praktisi dalam jumlah besar, perbatasan Negara Chu tiba-tiba diliputi oleh arus bawah yang bergolak. Ditambah lagi dengan menghilangnya Zhuge Chengfeng, tokoh terkuat yang secara terbuka menjadi pelindung Negara Chu, dunia kultivasi Negara Chu pun kehilangan kekuatan untuk menggentarkan dunia kultivasi dari negara-negara lain.
Oleh karena itu, Negara Chu terpaksa mengerahkan pasukan dalam jumlah besar ke perbatasan untuk meredam kekacauan demi menjaga keamanan ketertiban umum di sana. Karena situasi yang bergejolak inilah pernikahan antara Bai He dan sang putri kecil terpaksa ditunda.
Baru dalam beberapa hari terakhir, seiring dengan menghilangnya binatang suci Qilin, para praktisi dari berbagai penjuru benua akhirnya berhenti berdatangan, bahkan mulai menarik diri dari perbatasan Negara Chu. Situasi bergolak di Negara Chu akhirnya mulai stabil, tetapi pada saat ini, perayaan ulang tahun Kaisar Chu yang keenapuluh sudah semakin dekat.
Awalnya, Chu Han berencana agar Bai He dan sang putri kecil segera melangsungkan pernikahan. Namun, cedera yang dialami Zhuge Chengfeng serta kembali memanasnya insiden Qilin membuat situasi di Negara Chu menjadi tidak menentu untuk sementara waktu. Tanpa pilihan lain, mereka terpaksa menunda pernikahan keduanya selama hampir sebulan penuh.
Kini, karena perayaan ulang tahun keenapuluh Chu Han sudah di depan mata, jika Bai He dan sang putri kecil dipaksa menikah sebelum hari ulang tahun tersebut, tentu hal itu tidak sesuai dengan kepatutan.
Oleh karena itu, tanggal pernikahan Bai He dan sang putri kecil sekali lagi harus ditunda, diundur hingga setelah perayaan ulang tahun keenapuluh Chu Han. Meskipun demikian, tanggal pastinya belum diputuskan secara resmi, mungkin karena rasa khawatir akan munculnya masalah lain.
Suatu hari, angin sepoi-sepoi membawa kehangatan dan cuaca cerah menyelimuti langit.
Bai He baru saja selesai sarapan dan bersiap untuk pergi ke Gedung Arsip Kekaisaran.
Meskipun dalam beberapa bulan terakhir ia hampir telah merampungkan seluruh buku tentang kultivasi di kedua gedung arsip istana tersebut, berbagai ulasan mengenai ilmu lain di dalamnya—seperti astrologi, strategi militer, sejarah, prinsip seni bela diri, maupun kitab-kitab Taoisme—memberikan wawasan yang sangat mendalam bagi Bai He.
Meskipun tidak secara langsung meningkatkan kekuatan kultivasinya, hal tersebut sangat besar manfaatnya bagi peningkatan ranah dan pandangan hidup Bai He.
Namun, tepat ketika Bai He hendak pamit kepada ibunya, Nyonya Gu, sang putri kecil tiba-tiba datang berkunjung.
"Yuer, hari ini aku sebenarnya berencana pergi ke Gedung Arsip Kekaisaran."
Melihat sang putri kecil, Bai He berkata dengan sedikit kebingungan.
"Aku tahu hari ini adalah jadwalmu membaca buku, tetapi Sima Lingkong telah kembali hari ini, dan dia berada di Kediaman Qishi. Dia adalah seorang ksatria naga. Meskipun kita pernah melihat naga barat di Pegunungan Tianyuan dulu, kita belum pernah benar-benar menyentuhnya, kan? Temani aku pergi melihatnya, ya, kumohon!"
Sang putri kecil tahu bahwa orang yang dicintainya adalah seorang yang sangat teliti dalam mengatur waktu. Kapan waktu untuk menemani ibu dan dirinya berjalan-jalan, serta kapan waktu untuk membaca buku di Gedung Arsip Kekaisaran, semuanya telah diatur dengan sangat jelas.
Hari ini, seharusnya menjadi hari bagi Bai He untuk membaca di gedung arsip. Namun, ia mendengar kabar bahwa Sima Lingkong, yang selama ini berlatih di bawah bimbingan seorang pertapa agung di Benua Barat, telah kembali dan bahkan membawa serta seekor naga barat. Mendapatkan kesempatan langka untuk melihat naga secara langsung, sang putri kecil sungguh tidak ingin melewatkannya.
Akan tetapi, jika ia pergi seorang diri, ia merasa sedikit takut pada wanita tua menyeramkan tetangga Chen Nan di Kediaman Qishi. Terlebih lagi, jika tidak ditemani oleh Bai He, ia merasa kunjungan itu tidak akan menyenangkan. Oleh karena itu, sang putri kecil datang ke kediaman Bai He untuk memintanya menamani pergi bersama.
"Bai He, pergi saja sana menemani Yuer bermain. Berkultivasi tidak perlu terburu-buru seperti ini!"
Melihat sang putri kecil memegang lengan Bai He sambil memohon dengan wajah yang begitu menggemaskan, Nyonya Gu berkata sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, Ibu."
Bai He mengangguk, lalu mengelus kepala sang putri kecil.
"Baiklah, baiklah, hari ini aku akan menemanimu pergi melihatnya, tetapi jangan dijadikan kebiasaan ya."
Bai He tidak memiliki kesan yang terlalu mendalam terhadap nama Sima Lingkong. Namun, begitu mendengar sebutan "ksatria naga", ia langsung teringat. Tokoh itu pastilah ksatria naga dalam cerita asli yang bersaing dengan Chen Nan untuk memperebutkan Nalan Ruoshui, yang juga merupakan putra dari Jenderal Agung Huwei Sima Changfeng di Kota Pingyang kediaman saat ini.
Meninggalkan Kediaman Bai, Bai He dan sang putri kecil melintasi sebagian besar kota kekaisaran sebelum akhirnya tiba di depan sebuah rumah mewah yang sangat luas, yaitu Kediaman Qishi.
Keduanya berjalan perlahan memasuki Kediaman Qishi. Suasana di Kediaman Qishi pada hari itu tampak begitu meriah. Banyak pertapa yang biasanya berlatih secara tertutup di halaman kecil mereka kini keluar untuk beraktivitas. Setibanya melihat sang putri kecil dan Bai He, para pertapa tersebut tersenyum dan mengangguk memberi salam, yang disambut dengan senyuman dan anggukan pula oleh Bai He dan sang putri kecil.
Setelah bertanya kepada salah seorang pertapa, Bai He baru memahami alasan di balik meriahnya Kediaman Qishi hari itu. Semua itu dikarenakan kepulangan sang ksatria naga, Sima Lingkong. Sebagian besar pertapa di Kediaman Qishi memiliki rasa penasaran yang sama seperti sang putri kecil—mereka belum pernah melihat naga barat secara langsung. Hari ini, ketika tiba-tiba mendengar kabar bahwa seorang ksatria naga dari barat akan membawa naganya untuk tinggal di Kediaman Qishi, tentu saja mereka dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang besar.
Mengikuti arus kerumunan, keduanya melintasi paviliun demi paviliun, melewati berbagai taman batu buatan dan kebun bunga, hingga akhirnya tiba di depan arena pertarungan di dalam kompleks tersebut.
Saat itu, arena pertarungan telah dipadati oleh banyak orang, di mana Chen Nan dan Nalan Ruoshui juga berada di tengah-tengah kerumunan tersebut.
Nalan Ruoshui mengenakan pakaian berwarna biru air, tampak bagaikan anggrek di lembah sepi yang anggun, bebas, serta memancarkan aura surgawi yang tenang dan terbebas dari keduniawian. Sementara itu, Chen Nan mengenakan pakaian berwarna kuning kecoklatan dengan wajah biasa-biasa saja, berdiri dengan tenang di sisi Nalan Ruoshui. Di dekat mereka berdua, berdiri pula seorang lelaki tua dengan rambut dan janggut yang putih seluruhnya.
"Chen Nan, Nona Ruoshui, kalian juga ada di sini rupanya!"
Sambil berjalan perlahan mendekati mereka, Bai He menyapa.
"Menantu Bai He, Yang Mulia Putri Yuer, mengapa kalian juga datang ke sini?"
Melihat Bai He dan sang putri kecil, Nalan Ruoshui tidak dapat menahan diri untuk bertanya.
"Kami tentu saja datang untuk melihat naga milik Sima Lingkong! Lagipula, aku juga tidak tahu apakah orang itu membawakanku hadiah atau tidak..."
Sang putri kecil bergumam pelan.
"Gadis kecil, apakah kau bahkan tidak berniat untuk menyapa orang tua ini?"
Melihat sang putri kecil seolah mengabaikannya, lelaki tua berambut dan berjanggut putih itu mendengus sambil meniup janggut dan membelalakkan matanya karena pura-pura kesal.
"Senior Guai Tua, bukankah aku baru saja melihatmu? Menyapa sekarang pun belum terlambat!"
"Bai He, ini adalah Senior Guai Tua!"
Sang putri kecil tersenyum ceria sambil mengenalkannya kepada Bai He.
"Senior Guai Tua!"
Bai He tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada Guai Tua.
"Jadi kaulah kekasih kecil si gadis Yuer, Bai He? Begitu melihatmu sekarang, kau benar-benar seorang pemuda yang luar biasa tampan dan berbakat!"
Guai Tua menepuk pundak Bai He sambil tertawa lepas tanpa beban, namun di dalam hatinya ia merasa sangat terkejut.
Semula ia mengira bahwa pemuda tetangganya yang selalu menyembunyikan kekuatannya, Chen Nan, sudah bisa dianggap sebagai salah satu pemuda jenius papan atas di daratan. Namun, jika dibandingkan dengan pemuda di hadapannya ini, jaraknya masih terpaut sangat jauh.
Bahkan dengan tingkat kultivasinya sendiri, ia tetap tidak mampu menembus dan membaca kekuatan Menantu Bai ini. Dengan demikian, tingkat kultivasi Menantu Bai paling tidak berada di atas ranah tingkat ketiga!
Setelah saling bertukar salam, orang-orang mulai melangkah masuk ke dalam arena pertarungan.
Setibanya di bagian tengah arena pertarungan, tampak terbaring seekor makhluk yang berukuran sangat besar sekaligus tampak ganas.
Itu adalah seekor naga barat yang seluruh tubuhnya tertutup sisik berwarna hijau tua, dengan panjang lebih dari dua puluh meter, memiliki sepasang tanduk di kepalanya, taring yang mencuat keluar, serta wajah yang tampak mengerikan. Di bagian perutnya tumbuh sepasang sayap daging yang besar, membuat penampilannya terlihat begitu buas.
Di dekat naga tersebut berdiri seorang pemuda berpostur tinggi. Pemuda itu berwajah tampan dengan tubuh tegap, dan fisik yang kokoh memancarkan kekuatan eksplosif yang penuh dengan keindahan maskulin.
Melihat pemuda itu, raut wajah Nalan Ruoshui tanpa sadar menampilkan secercah ekspresi yang tidak biasa.
"Lihat, Bai He, dialah ksatria naga yang pernah kuceritakan kepadamu, putra dari Jenderal Agung Huwei Sima Changfeng, Sima Lingkong. Selama sepuluh tahun ini ia berlatih bersama seorang pertapa agung di Benua Barat, dan kini telah pulang setelah menuntaskan ilmunya. Ia telah dianugerahi gelar sebagai seorang pertapa terhormat oleh Ayah Baginda, dan hari ini secara resmi mulai menetap di Kediaman Qishi."
Sang putri kecil memperkenalkan Sima Lingkong kepada Chen Nan dan Bai He yang belum mengenalnya.
"Apakah untuk menjadi seorang pertapa terhormat saja harus dianugerahi gelar kekaisaran?"
Meskipun mendengar bahwa pemuda itu adalah putra dari Jenderal Agung Huwei, namun Chu Yuer dan Bai He di sampingnya saja masing-masing adalah seorang putri dan menantu kekaisaran, sehingga Chen Nan tentu saja tidak merasa status Sima Lingkong begitu istimewa. Sebaliknya, ia justru merasa cukup penasaran mengapa Sima Lingkong menerima penganugerahan gelar sebagai pertapa terhormat.
"Tentu saja, setiap pertapa terhormat menikmati perlakuan setingkat pejabat tinggi negara, bagaimana mungkin tidak dianugerahi gelar resmi? Tentu saja kau adalah pengecualian, karena kau dianugerahi gelar pertapa terhormat hanya karena mampu menarik Busur Houyi. Namun, kau kini telah kehilangan seluruh kultivasimu, dan entah kapan kau akan bisa memulihkannya kembali. Kau ini... ah..."
Mendengar perkataan Chen Nan, Nalan Ruoshui tidak dapat menahan diri untuk meliriknya sekilas, namun saat berbicara, ia menghela napas dengan ekspresi yang tampak sedikit sedih.
"Alangkah baiknya jika kau adalah seorang ahli bela diri yang tak tertandingi!"
Nalan Ruoshui berbisik pelan.
Meskipun suaranya sangat lirih bagaikan dengungan nyamuk, suara itu tidak luput dari pendengaran Bai He dan Chen Nan, yang indra spiritualnya telah pulih sepenuhnya.
Karena pengaruh kehadiran Bai He, perlakuan yang diterima Chen Nan di Negara Chu jauh lebih baik daripada dalam kisah aslinya. Meskipun ia tetap bertemu dengan para tokoh aneh, untuk sementara ia tidak memiliki niat meninggalkan Negara Chu. Mendengar perkataan Nalan Ruoshui, Chen Nan tampak merasa sedikit salah tingkah.
Sementara itu, di dalam hati Bai He terbersit suatu pikiran. Tampaknya alur cerita pada akhirnya tetap kembali pada jalur semula, di mana Nalan Ruoshui tetap jatuh hati kepada Chen Nan.
Namun, dengan keberadaan dirinya saat ini, Kaisar Chu Han belum tentu akan bersikeras menikahkan Nalan Ruoshui kepada Sima Lingkong seperti dalam kisah aslinya. Kendati demikian, ia sendiri harus memastikan Chen Nan mengikuti alur cerita yang seharusnya. Tampaknya ia harus melakukan sesuatu...
Pikir Bai He dalam hati.