Bab 146: Sima Lingkong dan Chen Nan
Kediaman Qi Shi, Arena Pertarungan.
Meredakan kesedihan di lubuk hatinya, Nalan Ruoshui menatap naga hijau barat di dalam arena, lalu berkata dengan takjub, "Naga ini sungguh perkasa. Aku belum pernah melihat makhluk sebesar dan sekuat ini."
"Tidak perkasa sama sekali! Perut buncit ini, bagaimana pun kulihat, rasanya mirip seperti kadal bertubuh gendut yang memiliki sayap. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan naga dewa timur kita!" seru sang putri kecil menyela, langsung melayangkan protes.
"Lagi pula, sebenarnya ukuran ini belum bisa dikatakan besar. Dulu, aku dan Bai He pernah melihat seekor naga hijau dengan panjang mencapai seratus meter di kedalaman Pegunungan Tianyuan, wilayah perbatasan barat. Dibandingkan dengan naga hijau itu, naga ini hanyalah cucu naga atau bahkan bayi naga," tambah Chen Nan.
"Benarkah? Sungguh ada naga sebesar itu?" Tanya Nalan Ruoshui dengan ekspresi penuh keraguan di wajahnya.
"Naga barat berukuran seratus meter itu bukan apa-apa. Kami bahkan pernah melihat naga timur yang panjangnya juga mencapai seratus meter..."
Namun, sebelum sang putri kecil sempat merampungkan kalimatnya, Bai He dengan sigap membekap mulutnya. Identitas Hong Lian adalah sebuah rahasia, dan dengan begitu banyak orang di sini, hal tersebut sama sekali tidak boleh diucapkan sembarangan.
Menyadari dirinya hampir melakukan kesalahan, sang putri kecil menatap Bai He dengan pandangan memelas. Baru setelah itu Bai He melepaskan tangannya dari mulut sang putri kecil.
Tepat saat Nalan Ruoshui berniat menanyakan ucapan sang putri kecil barusan, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari samping mereka.
"Kwek-kwek, bocah ini benar. Apa yang ia lihat adalah naga raksasa. Ukuran panjang naga raksasa umumnya mendekati seratus meter, sedangkan makhluk ini hanyalah seekor naga terbang biasa yang panjangnya hanya sekitar dua puluhan meter. Tingkatannya bahkan hanya sedikit lebih tinggi daripada naga darat yang tidak bisa terbang."
Bai He menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang wanita tua yang kurus kering sedang berjalan perlahan mendekati mereka.
"Ah! Nenek sihir tua itu datang!"
Melihat wanita tua itu berjalan ke arah mereka, sang putri kecil menjerit kaget dan langsung bersembunyi di balik punggung Bai He. Tidak peduli seberapa berani dirinya, ia paling takut pada nenek sihir yang selalu mengekorinya dan berkeinginan menjadikannya murid ini.
"Senior Nenek Sihir."
"Senior Nenek Ilmu Hitam."
Melihat wanita tua itu mendekat, Chen Nan dan Nalan Ruoshui bergantian memberi salam.
"Hmm."
Wanita tua itu mengangguk kecil. Setelah melotot tajam ke arah sang putri kecil yang bersembunyi di belakang Bai He, ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Naga barat dibagi menjadi lima tingkatan, secara berurutan adalah naga darat, naga terbang, naga sub-raksasa, naga raksasa, dan naga suci."
"Selain naga darat yang tidak bisa terbang, keempat tingkatan naga lainnya semuanya dapat terbang."
"Naga darat memiliki panjang sekitar sepuluh meter, naga terbang sekitar dua puluh meter, sedangkan naga sub-raksasa berkisar antara empat puluh lima hingga enam puluh meter, dan panjang naga raksasa minimal berada di atas sembilan puluh meter."
"Mengenai naga suci, aku sendiri belum pernah melihatnya. Namun, kudengar naga suci adalah jenis naga langka yang istimewa, di mana kekuatan besar yang mereka miliki tidak selalu berbanding lurus dengan ukuran tubuhnya."
"Pengetahuan Nenek Sihir sungguh luar biasa luas." Mendengar penjelasan wanita tua itu, Nalan Ruoshui memuji dengan penuh kagum.
"Kwek-kwek, gadis Nalan ini memang tahu tata krama dan mengerti bahwa aku dipanggil Nenek Sihir, tidak seperti si bocah Chen dan pria tua bangka itu, serta dirimu, gadis kecil!" Mendengar perkataan Nalan Ruoshui, wanita tua itu mengangguk puas. Namun, ketika menyebut Chen Nan dan Iblis Tua Racun, nada bicaranya kembali menggerutu, tak lupa diakhiri dengan lirikan tajam kepada sang putri kecil.
"Nenek adalah tokoh terkemuka di Benua Barat. Hanya saja Chen Nan, Senior Iblis Tua Racun, dan Yang Mulia Putri Kecil belum mengetahui kehebatan Senior, jadi mohon agar Senior tidak memasukkannya ke dalam hati," ujar Nalan Ruoshui sambil tersenyum.
"Hehe, wanita tua sepertiku mana pantas disebut tokoh terkemuka, aku hanya tinggal sedikit lebih lama di Benua Barat saja," sanggah wanita tua itu merendah sambil menggelengkan kepala.
"Duh, mendengar ucapan gadis Nalan, hatiku sungguh merasa senang. Berbeda dengan gadis kecil Chu Yu itu, setiap kali melihatku tidak pernah ada perkataan baik yang keluar dari mulutnya, selalu saja ingin kabur. Aku benar-benar tidak habis pikir, di bagian mananya diriku ini terlihat menakutkan baginya!" ucap wanita tua itu dengan nada penuh kejengkelan.
"Yu'er bukan takut pada Senior, ia hanya tidak suka mempelajari ilmu sihir. Tabiat Yu'er memang suka bergerak aktif, bahkan dalam hal berlatih bela diri pun ia melakukannya setengah-setengah, mana mungkin ia bisa tekun mendalami ilmu sihir," kata Bai He sambil tersenyum kepada wanita tua itu.
"Oh, jadi kau adalah tunangan yang dijodohkan kaisar untuk gadis Yu? Hmm, mata sang kaisar rupanya cukup jeli. Bocah, kau lumayan juga, jauh lebih hebat daripada si bocah Chen itu, kwek-kwek!" Wanita tua itu memandang Bai He seraya tertawa terbahak-bahak.
Di tengah percakapan mereka, kesatria naga Sima Lingkong di dalam arena sedang menerangkan sesuatu kepada para penonton di sekitarnya, membuat orang-orang menyimak dengan penuh antusias.
Setelah berbicara cukup lama, Sima Lingkong merasa tenggorokannya mulai kering. Ia baru saja memerintahkan seseorang untuk membawakan secangkir air guna membasahi kerongkongannya, ketika mendongak, pandangannya justru langsung bersitatap dengan Nalan Ruoshui.
"Ruoshui!"
Melihat Nalan Ruoshui tidak jauh darinya, Sima Lingkong berseru kaget dan penuh sukacita, lalu menerobos kerumunan orang dan berjalan menghampiri kelompok Bai He.
"Tuan Sima, harap jaga sikap!"
Melihat Sima Lingkong yang semakin mendekat, kening Nalan Ruoshui langsung berkerut.
"Ruoshui, kau juga datang rupanya. Jika kau ingin melihat naga terbang, aku bisa membawanya langsung ke kediamanmu, untuk apa kau repot-repot datang ke tempat ini."
Sima Lingkong seolah mengabaikan ucapan Nalan Ruoshui, ia berbicara dengan nada penuh perhatian dan kasih sayang, bahkan berniat meraih tangan Nalan Ruoshui.
"..."
Alis Nalan Ruoshui semakin mengerut dalam. Menatap Sima Lingkong, ia tiba-tiba menggenggam tangan Chen Nan dan bersembunyi di balik punggung pemuda itu.
Tiba-tiba digenggam oleh tangan lembut Nalan Ruoshui, Chen Nan tertegun sejenak.
"Tidak perlu, aku hanya menemani Chen Nan datang untuk melihat-lihat saja," ucap Nalan Ruoshui dengan nada dingin.
"Siapa dia?"
Melihat Nalan Ruoshui berlari bersembunyi di balik punggung Chen Nan, kedua mata Sima Lingkong memancarkan seberkas cahaya dingin, lalu bertanya dengan nada kaku dan tajam.
"Dia adalah orang yang bisa dipercaya untuk menyerahkan seluruh sisa hidupku."
Ekspresi Nalan Ruoshui tampak sangat tenang.
Namun, Chen Nan tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka dirinya justru dijadikan sebagai perisai oleh Nalan Ruoshui!
Ada perasaan tidak nyaman di dalam hatinya. Nalan Ruoshui jelas sudah mengenal pria berotot ini sejak lama, dan sekarang terang-terangan menjadikannya tameng, membuat Chen Nan merasa dimanfaatkan. Kendati demikian, ia tidak tega melepaskan genggaman tangan Nalan Ruoshui, sebab ia dapat merasakan bahwa Nalan Ruoshui sama sekali tidak memiliki perasaan suka terhadap pria tersebut.
"Enyah!"
Kemarau amarah berkobar di dada Sima Lingkong. Sambil mengatupkan gigi dengan gemas, ia membentak Chen Nan, bersiap untuk melancarkan serangan fisik.
Chen Nan baru saja hendak melangkah maju ketika menyadari tangannya dicengkeram erat oleh Nalan Ruoshui. Ia menoleh dan mendapati sepasang mata Nalan Ruoshui yang jernih bagai air musim gugur kini dipenuhi dengan permohonan.
*Jangan, kau bukan tandingannya!*
Itulah arti yang terbaca oleh Chen Nan dari pancaran mata Nalan Ruoshui. Tepat saat ia hendak mengerahkan seluruh kemampuannya yang sesungguhnya, tiba-tiba terdengar suara lain dari samping.
"Bagus ya! Sima Lingkong, setelah kembali kau tidak berani datang menghadap dan melapor kepada sang putri ini, itu saja sudah keterlaluan, dan sekarang kau bahkan berani mengabaikan keberadaanku?!"