Seratus Empat Puluh Dua: Dormammu, Mari Kita Membuat Kesepakatan (Bagian Kedua)
"Jadi, Dormammu, mari kita buat kesepakatan!"
Suara Pachi melesat cepat menembus telinga Dormammu melalui transmisi sihir. Saat mengucapkan kata-kata itu, sebersit senyuman misterius tampak jelas terukir di sudut bibir Pachi.
"Kesepakatan?"
Namun, Dormammu sama sekali tidak menyadari ekspresi Pachi. Mendengar ucapan itu, ia justru tak kuasa menahan tawa terbahak-bahak. Sambil tertawa, ia pun berkata, "Penyihir, kau pikir aku akan membuat kesepakatan tanpa jaminan apa pun denganmu?"
Tawa menggelegar itu membuat kepala besar Dormammu bergetar pelan. Sekalipun gerakan Dormammu tampak begitu kecil, di mata Pachi hal itu terasa bagaikan longsoran gunung dan hempasan ombak tsunami. Tawa yang memekakkan telinga itu menghantam gendang telinga Pachi, menimbulkan rasa tidak nyaman yang amat sangat.
Demi melancarkan rencananya, Pachi menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya. Ia sedikit mengernyitkan alis lalu bersuara untuk memotong tawa Dormammu.
"Dormammu."
Menatap kepala Dormammu yang sebesar gunung, Pachi lekas membuka mulut dan berkata, "Aku bahkan belum menyebutkan apa bentuk kesepakatannya, kenapa kau sudah begitu tidak sabar? Jangan-jangan kau takut aku sedang memasang perangkap untukmu?"
"Takut padamu?"
Mendengar suara Pachi yang kini berubah semakin lantang, tawa Dormammu terhenti seketika. Susul-menyusul, ia mendengus mengejek seraya tertawa keras, "Penyihir kecil, lelucon macam apa yang sedang kau bicarakan?"
"Meskipun tingkatanmu saat ini sudah tidak jauh berbeda dariku, bagaimana mungkin kau bisa mendatangkan bahaya bagiku di dalam Dimensi Kegelapan milikku ini? Takut padamu? Kau ini benar-benar terlalu banyak berpikir."
"Tapi, kenapa kau tidak mendengarkan dulu kesepakatan apa yang akan aku tawarkan padamu?" Tanpa menunggu Dormammu merespons, Pachi kembali menyambung ucapannya.
"Penyihir..."
Suara gemuruh yang memekakkan telinga itu perlahan mereda, dan tawa Dormammu pun ikut meredup.
Begitu Dormammu kembali tenang seperti semula, ia tampak membelalakkan sepasang mata raksasa berwarna ungu gelap, menatap lekat-lekat ke arah Pachi yang melayang di udara dengan penuh kecurigaan, lalu berujar perlahan, "Jika kau tidak bisa membantuku pergi ke Bumi, apa lagi yang kau rasa berharga untuk kuincar? Kesepakatan? Sungguh lelucon yang konyol!"
"Belum tentu..."
Pachi menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Aku rasa ada beberapa hal yang bahkan jauh lebih menarik minatmu daripada sekadar melahap Bumi."
"Lebih menarik minatku daripada melahap Bumi?"
Nada suara Dormammu menyiratkan sedikit rasa remeh. "Hal semacam itu memang ada, namun sudah sangat jelas itu bukanlah sesuatu yang bisa kau lakukan."
"Bagaimana bisa tahu kalau tidak mencobanya lebih dulu?"
Pachi balik bertanya. Namun, sebelum Dormammu sempat menjawab, ia kembali melanjutkan kata-katanya, "Dormammu, tidakkah akhir-akhir ini kau merasa Dimensi Kegelapanmu terasa terlalu tenang? Tidakkah kau ingin mencari tahu apa sebenarnya penyebab di balik semua ini?"
Begitu kalimat dengan nada bicara yang aneh itu terluncur dari mulut Pachi, kobaran api kelam di sekeliling tubuh Dormammu mendadak bergolak hebat. Perkataan Pachi membuatnya samar-samar menebak sesuatu, tetapi Dormammu tidak berani memastikan apakah apa yang dikatakan Pachi itu benar-benar sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
"Hm?"
Sepasang mata jahat berwarna ungu gelap menatap tajam ke arah Pachi. Dormammu buru-buru membuka lebar mulutnya yang menyerupai lubang hitam, lalu berseru bertanya, "Penyihir, apa sebenarnya yang telah kau perbuat?"
Melihat reaksi Dormammu, Pachi tak kuasa menahan senyum kecilnya. Mendengar pertanyaan itu, ia sama sekali tidak terlihat tergesa-gesa dan tetap mempertahankan pembawaannya yang santai, lalu menjawab perlahan, "Apa yang telah kuperbuat? Sejujurnya, tadinya aku pikir aku hanya melakukan hal sepele saja. Tapi sekarang sepertinya aku telah melakukan sesuatu yang luar biasa besar."
"Beberapa waktu lalu, aku menelusuri jejak yang ditinggalkan oleh 'Kitab Cagliostro' yang kudapatkan dari Ancient One, hingga aku berhasil mencapai dunia dari ketiga musuh bebuyutanmu itu. Awalnya aku mengira aku bisa melakukan percakapan yang sopan dengan Mereka, tetapi..."
Di tengah kalimatnya, nada suara Pachi tiba-tiba berubah drastis. "Jelas sekali bahwa Mereka tidak sesahabat yang kubayangkan. Dalam bentrokan antara aku dan Mereka, aku berhasil merobek celah di dunia Mereka, eh... dan kebetulan aku juga menjatuhkan sebuah batu kecil."
Selesai berkata demikian, Pachi melirikkan matanya sejenak untuk mengingat-ingat kembali ucapannya barusan. Setelah memastikan tidak ada kekeliruan, ia langsung menambahkan satu kalimat lagi.
"Yah... kurasa memang seperti itulah kejadiannya."
Dormammu mendengarkan perkataan Pachi dalam diam hingga akhirnya terjerumus ke dalam keheningan. Dunia kegelapan yang sunyi senyap itu diliputi ketenangan tanpa menyisakan suara sedikit pun.
Setelah berlalu cukup lama, sepasang mata Dormammu akhirnya berpijar kembali. Mata ungu gelapnya menatap lekat-lekat ke arah Pachi, dipenuhi dengan rasa takjub yang mendalam.
"Menelusuri dunia Vishanti dan kawan-kawan, bahkan merobek celah di dunia Mereka lalu menjatuhkan sebutir batu kecil..."
Meskipun Pachi menceritakannya dengan nada ringan seolah tanpa beban, Dormammu dapat membayangkan betapa sengitnya pertarungan yang telah ia lewati melawan Vishanti dan yang lainnya. Terlebih lagi, batu kecil yang disebutkan Pachi itu jelas tidak semudah dan sesederhana yang ia ucapkan.
Cukup melihat bagaimana Vishanti dan yang lainnya selama kurun waktu yang begitu panjang menutup mata atas tindakannya mencaplok berbagai dimensi lain, hal itu sudah sangat membuktikan segalanya.
Bisa dibayangkan seberapa besar kerusakan yang telah ditimbulkan Pachi pada dunia Mereka.
Lagipula, Dormammu memang sempat mendengar samar-samar tentang musuh kuat yang mendatangi dunia para dewa sihir seperti Vishanti dan kawan-kawan.
Meskipun Dormammu hampir menghabiskan seluruh waktunya di dalam Dimensi Kegelapan, dibandingkan dengan pihak lain, jaringan informasinya sama sekali tidak tertutup. Bagaimanapun juga, di dalam dimensi-dimensi alam semesta yang tak bertepi, meskipun para pengikutnya tidak terlampau banyak, jumlahnya tetap saja tergolong masif.
Mengandalkan para pengikut tersebut, meskipun Dormammu tidak bisa dibilang mengetahui setiap sudut kejadian di alam semesta, ia tetap mengetahui hal-hal penting tertentu.
Hanya saja, justru karena alasan inilah, tatkala mendengar berita semacam itu keluar dari mulut Pachi, Dormammu tanpa sadar merasa diliputi oleh keraguan yang pekat. Ia hampir tidak dapat membayangkan metode seperti apa yang digunakan Pachi hingga mampu memicu akibat sebesar itu.
Seorang penyihir yang beberapa waktu lalu masih begitu lemah, meskipun mendadak melompat ke tingkat yang setara dengan dirinya dalam waktu singkat, Dormammu tidak pernah percaya bahwa Pachi memiliki modal untuk berhadap-hadapan secara langsung dengan Vishanti.
Perlu diingat bahwa selama tahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya, akibat kegemarannya melahap dimensi lain, ia sudah terlalu sering berurusan dengan trio Vishanti, Hoggoth, dan Agamotto.
Terlebih lagi, karena Vishanti dan yang lainnya memiliki jumlah anggota yang banyak, bentrokan Dormammu dengan Mereka tidak pernah sekalipun mendatangkan keuntungan baginya, bahkan ia justru sering kali direpotkan dan diganggu oleh ulah Mereka.
Oleh karena itu, sekalipun benak Dormammu dipenuhi sejuta tanda tanya, ia sama sekali tidak mengira Pachi sedang memperdayanya dengan masalah ini, karena fakta tetaplah fakta. Jika Pachi berniat membohonginya, ia tentu akan mencari alasan yang jauh lebih baik dan tidak perlu membuat-buat alasan yang dipenuhi begitu banyak celah.
Keraguan di dalam hatinya kian menumpuk. Setelah terdiam cukup lama, Dormammu akhirnya tidak mampu menahan diri untuk tidak bersuara dan bertanya.
"Penyihir, bagaimana persisnya kau bisa melakukan hal itu?"
"Bagaimana cara melakukannya?"
Menyambut tatapan menyelidik dari Dormammu, Pachi tak kuasa melepaskan senyum kecil. "Aku rasa hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesepakatan kita, bukan? Sebaiknya kita tetap fokus membahas isi kesepakatan kita saja!"
Selesai Pachi merampungkan kalimat tersebut, Dormammu kembali terdiam seketika.
Wajahnya yang dipenuhi guratan-guratan silang menyilang bak alur perbukitan tampak tanpa ekspresi, hanya sepasang mata ungu gelapnya saja yang tiba-tiba berkedip-kedip tidak menentu, memperlihatkan gestur seolah-olah ia sedang berpikir dan menimbang-nimbang sesuatu.
Setelah sekian lama berlalu, sepasang mata Dormammu baru kembali memancarkan kilau cahaya.
Menatap lekat-lekat sosok Pachi yang melayang di hadapannya, suara menggelegar itu pun mengema seketika: "Baiklah, Penyihir, kurasa kau memang memiliki kualifikasi dan modal untuk bertransaksi denganku. Jadi, katakanlah apa keinginanmu..."
Mendengar ucapan tersebut, sudut bibir Pachi pun kembali terangkat naik perlahan.