Bab 144 Memungut Sebuah Buku Berjudul “Dewa Terbang dari Langit Luar”
Lin Anzhi dan Huang Rong menatap Ling Lingfa, menunggu lelaki itu mengungkapkan identitasnya.
“...Itu rahasia!” jawab Ling Lingfa dengan wajah penuh misteri.
“Kawan, kalau seseorang memukul orang lain di Bianliang, biasanya bagaimana pihak berwenang menanganinya?” tanya Lin Anzhi dengan senyum dan suara yang sangat lembut.
Ling Lingfa menjawab asal-asalan, “Mudah saja, keluarkan sedikit perak.”
Lin Anzhi menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan sepuluh liang perak dan meletakkannya di tangan Ling Lingfa.
“Hei, untuk apa kau memberiku uang?” Ling Lingfa merasa bingung.
Lin Anzhi merapatkan kedua tangannya. Bunyi gemeretak terdengar dari ruas-ruas jarinya, sementara senyumnya membuat bulu kuduk Ling Lingfa meremang.
“Ini biaya pengobatanmu!”
Lin Anzhi mengangkat tinjunya, hendak menghajar Ling Lingfa. Lelaki ini benar-benar minta dipukul. Lin Anzhi bersumpah, belum pernah seumur hidupnya ia begitu ingin menghajar seseorang!
“Apa yang kalian lakukan?”
Saat tinju Lin Anzhi baru saja menyentuh pakaian Ling Lingfa, seorang perempuan keluar. Ia memandang Huang Rong dan Lin Anzhi, lalu menatap Ling Lingfa.
“Suamiku, siapa mereka? Apa yang sedang kalian lakukan?”
“Dua orang teman sedang bercanda denganku.”
“Dari mana uang di tanganmu itu?”
“Mereka yang memberikannya.”
“Kenapa mereka memberimu uang?”
“Ya, kenapa mereka memberiku uang?” Ling Lingfa menatap Lin Anzhi, memberi isyarat agar ia menjawab.
Lin Anzhi tercekat. Ia tentu saja tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya ingin menghajar suami perempuan itu habis-habisan dan uang tersebut adalah biaya pengobatannya.
“Ini... uang penginapan. Ya, uang penginapan.” Dalam keadaan terdesak, Lin Anzhi segera menemukan alasan. “Aku dan Rong’er baru tiba di Bianliang dan belum punya tempat tinggal. Kau juga tahu, penduduk Bianliang terlalu banyak. Semua penginapan sudah penuh. Karena itu kami teringat kepada Afa. Kata orang, sekalipun saudara sendiri, urusan keuangan harus diperhitungkan dengan jelas. Meskipun aku dan Afa berteman, aku tak mungkin makan dan tinggal gratis di rumahnya. Anggap saja uang ini sebagai sedikit tanda ketulusanku.”
Perempuan itu menerima uang tersebut dengan ragu-ragu, lalu bertanya kepada Ling Lingfa, “Suamiku, benarkah begitu?”
Ling Lingfa hendak mengatakan bukan, tetapi Lin Anzhi sudah mengangkat tinjunya. Terpaksa ia mengubah jawabannya.
“Benar, memang begitu. Lihat, kau setuju atau tidak?”
Perempuan itu menjawab lugas, “Mengapa tidak setuju? Lagi pula, rumah kita banyak. Aduh, Adik, wajahmu cantik sekali! Pakaianmu juga indah. Kalau kau memakainya seperti itu, benar-benar cocok denganmu. Kelihatannya juga sangat berkelas...”
Sebelum Ling Lingfa sempat berbicara lagi, perempuan itu sudah menghampiri Huang Rong dan menariknya ke sana kemari untuk mengamatinya. Ia membicarakan wajah, pakaian, lalu kulit Huang Rong, sampai kepala Huang Rong terasa berputar. Sebelum orang-orang lain sempat bereaksi, ia sudah menarik Huang Rong masuk ke dalam rumah.
Lin Anzhi memandang Ling Lingfa dengan penuh simpati.
Ling Lingfa mengangkat bahu. “Istriku...”
“Benar-benar istimewa,” komentar Lin Anzhi. “Kalian memang pasangan yang ditakdirkan bersama!”
Berkat campur tangan Nyonya Fa, Ling Lingfa terhindar dari hukuman fisik. Lin Anzhi dan Huang Rong pun tinggal di rumah mereka. Semakin lama mengenal keluarga itu, Lin Anzhi semakin tercengang. Keluarga ini benar-benar istimewa. Namun, keistimewaan seperti itu belum tentu dapat diterima semua orang. Di mata orang biasa, menyebut mereka orang gila mungkin justru lebih tepat.
“Adik, kosmetik apa yang kau pakai? Kulitmu bagus sekali... Cara memadukan pakaianmu juga sangat berkelas. Maukah kau membantuku memilih paduan pakaian? Besok toko pakaian di depan rumahku sedang mengadakan diskon. Bagaimana kalau kita pergi membeli pakaian bersama?”
Sejak memasuki rumah, Nyonya Fa terus menarik Huang Rong dan berbicara tanpa henti. Huang Rong sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menyela. Untuk pertama kalinya, ia merasa kecerdasannya tidak cukup, sebab ia benar-benar tidak mampu mengikuti irama bicara Nyonya Fa.
“Istriku, kita kedatangan tamu. Kau tidak mau memasak?” Melihat Huang Rong berada dalam kesulitan, Ling Lingfa terpaksa membuka suara.
Setelah diingatkan, Nyonya Fa tampaknya baru teringat bahwa ia masih memasak di dapur. Ia pun berlari secepat kilat menuju dapur.
Begitu Nyonya Fa pergi, Lin Anzhi dan Ling Lingfa kembali merasa canggung.
“Tadi kau bilang, kau menemukan alat pengisap asap dapur?” Lin Anzhi membuka pembicaraan lebih dahulu.
Begitu mendengar soal penemuan, wajah Ling Lingfa segera menjadi bersemangat.
“Alat pengisap asap dapur ciptaanku dapat menyedot asap dan minyak dari dapur ke luar, sehingga pakaian tidak kotor terkena asap. Prinsipnya sangat sederhana...” Ling Lingfa terus menjelaskan dengan penuh semangat, bahkan mengeluarkan gambar rancangan.
Lin Anzhi memperhatikan gambar itu, lalu menggeleng. “Penemuanmu memang dapat menyedot asap, tetapi tidak praktis!”
Ling Lingfa seolah menerima penghinaan besar. “Kau bilang penemuanku tidak bagus?”
Lin Anzhi tidak banyak bicara. Ia mengambil pena dan menggambar alat pengisap asap dapur yang paling sederhana—sebenarnya hanya sebuah kipas angin primitif.
“Ini baru alat pengisap asap dapur. Lihat, kalau gagang di bawah diputar, benda ini akan berputar cepat. Susunlah sesuai arah ini. Begitu berputar, alat ini dapat mengeluarkan asap dapur...”
Ling Lingfa memandangi gambar rancangan Lin Anzhi, lalu menepuk meja keras-keras. “Ini mirip kipas angin ciptaanku, hanya saja memiliki satu bilah tambahan...”
“Kau juga menemukan kipas angin?” Lin Anzhi kembali terkejut. “Ternyata kau benar-benar penemu ulung!”
Ling Lingfa tertegun. Tiba-tiba ia menangis dan memeluk Lin Anzhi, air matanya mengalir tanpa henti. Bertahun-tahun sudah berlalu. Selain istrinya, akhirnya ada juga orang yang mengakui dirinya!
Ling Lingfa yang begitu bersemangat menganggap Lin Anzhi sebagai sahabat sejati. Ia memamerkan semua hasil penemuannya satu per satu. Huang Rong sama sekali tidak tertarik pada semua itu. Ia pergi ke dapur untuk membantu Nyonya Fa memasak. Lin Anzhi, sebaliknya, sangat bersemangat, terutama ketika melihat ranjang pijat yang diciptakan Ling Lingfa dengan tenaga tikus sebagai penggeraknya...
“Afa, kau benar-benar seorang jenius!” Lin Anzhi memberikan penilaian yang tegas.
Ling Lingfa begitu terharu hingga menarik Lin Anzhi untuk menyembelih ayam, membakar kertas persembahan, dan mengangkat sumpah persaudaraan.
Lin Anzhi tidak menolak permintaan Ling Lingfa. Ia menyukai orang aneh yang memiliki semangat menjelajah ilmu pengetahuan seperti itu. Begitulah, dalam waktu kurang dari satu jam sejak mereka berkenalan, keduanya malah menjadi saudara angkat. Hal itu membuat Nyonya Fa dan Huang Rong, yang sedang memasak di dapur, sangat terkejut.
Untuk merayakan persaudaraan mereka, Huang Rong memasak sendiri satu meja penuh hidangan. Aromanya membuat siapa pun menelan ludah berulang kali. Nyonya Fa bahkan ingin mengangkat Huang Rong sebagai gurunya agar dapat belajar memasak.
“Adikku, menurut pengamatanku, kau dan adik iparmu adalah orang-orang dunia persilatan. Hari ini kita telah menjadi saudara. Sebagai kakak, aku tidak memiliki hadiah berharga untuk diberikan kepadamu. Jadi, terimalah kitab rahasia ini.”
Dengan sungguh-sungguh, Ling Lingfa menyerahkan sebuah buku kecil kepada Lin Anzhi.
Pada awalnya Lin Anzhi tidak terlalu memperhatikannya. Dengan pandangannya, bagaimana mungkin ia tidak tahu bahwa Ling Lingfa dan Nyonya Fa hanyalah orang biasa? Kitab rahasia yang disimpan orang biasa biasanya tidak lebih dari barang pasaran dan tidak memiliki nilai baginya.
Namun, ketika pandangannya jatuh pada sampul buku itu, Lin Anzhi kembali tercengang. Rasanya seperti ribuan binatang berlari melintasi dadanya.
Pada sampul buku itu tertulis empat kata besar: Dewa Terbang dari Langit!
“Kak Fa, kau tidak salah, kan? Ini kitab rahasia Dewa Terbang dari Langit?” Suara Lin Anzhi bahkan sedikit terbata-bata. Rasanya seperti melihat seorang miskin tiba-tiba mengeluarkan harta senilai puluhan triliun sebagai hadiah. Siapa pun pasti akan sulit mempercayainya.
“Dulu, aku menangkap beberapa ahli bela diri. Mereka memberikannya kepadaku,” jelas Ling Lingfa.
Lin Anzhi segera bertanya, “Sebenarnya siapa saja yang kau tangkap?”
Ling Lingfa mengingat-ingat. “Ada empat orang. Yang satu bernama Ye Gucheng, yang satu Ximen Chuixue, yang satu Lu Xiaofeng, dan yang terakhir Hua Manlou. Kitab rahasia ini diberikan Ye Gucheng kepadaku.”
“Di mana kau menangkap mereka?” tanya Lin Anzhi lagi.
“Di istana kekaisaran,” jawab Ling Lingfa. “Adikku, terus terang saja, sebenarnya aku adalah anggota Klan Pelindung Naga, yang bertugas menjaga keselamatan keluarga kerajaan. Hari itu anggota Klan Pelindung Naga sedang mengadakan rapat. Kebetulan aku melihat mereka berkelahi di atas istana dan hendak menangkap mereka. Sayangnya, pada akhirnya aku gagal menangkap mereka dan hanya memperoleh kitab rahasia ini. Kakakmu ini tidak pernah belajar ilmu bela diri, jadi kitab ini tidak berguna bagiku. Karena itu, kuberikan kepadamu.”
Lin Anzhi merasa pusing dan pening. Apa maksud semua ini? Klan Pelindung Naga saja belum pernah didengarnya. Lagi pula, Ye Gucheng, Ximen Chuixue, Lu Xiaofeng, dan Hua Manlou adalah para ahli dari Kekaisaran Daming. Bagaimana mungkin mereka datang ke istana Kekaisaran Song untuk bertarung?
Kalau bukan karena wajah Ling Lingfa tampak begitu tulus, Lin Anzhi pasti mengira lelaki itu sedang mempermainkannya.
“Kalau ingin tahu kitab ini asli atau tidak, bukankah cukup dengan memeriksanya?”
Lin Anzhi perlahan membuka kitab rahasia Dewa Terbang dari Langit. Begitu sampulnya terbuka, ia langsung merasakan niat pedang yang menjulang dari dalam buku. Niat pedang seperti ini sama sekali bukan sesuatu yang dapat dimiliki ahli biasa. Hanya seseorang yang telah mencapai tingkat mahaguru dalam ilmu pedang yang mampu meninggalkan niat pedang dalam bentuk tulisan.
Lin Anzhi menenangkan diri, lalu membaca seluruh kitab itu dengan saksama sembari menganalisis ilmu pedangnya dalam hati. Setelah beberapa saat, ia akhirnya dapat memastikan bahwa ini benar-benar ilmu pedang Dewa Terbang dari Langit!
“Bagaimana mungkin ilmu pedang sehebat ini jatuh dari langit?” Kepala Lin Anzhi dipenuhi tanda tanya. Sebenarnya, yang paling membuatnya penasaran adalah bagaimana Ling Lingfa dapat menangkap keempat ahli itu, dan bagaimana ia membuat Ye Gucheng meninggalkan kitab Dewa Terbang dari Langit.
Dengan kekuatan Ye Gucheng dan yang lainnya, satu pancaran tenaga pedang saja sudah cukup untuk membunuh Ling Lingfa puluhan kali!
“Kak Fa, hadiah ini terlalu berharga...” kata Lin Anzhi perlahan.
Ling Lingfa hanya tersenyum santai. “Kita ini saudara. Selama kau menyukainya, itu sudah cukup. Sebenarnya, dibandingkan ilmu bela diri, menurutku penemuan jauh lebih penting. Terus terang, belakangan ini aku memiliki sebuah penemuan yang sangat hebat. Aku menemukan bahwa jika arang, sendawa, dan belerang diletakkan di ruang kecil, lalu ditambahkan sebuah bola baja dan dinyalakan, ledakan di dalamnya akan mengubah benda padat menjadi gas. Kekuatan besar yang dihasilkan akan melontarkan bola baja itu keluar. Daya hancurnya bahkan tidak dapat ditahan oleh ahli mana pun...”
Lin Anzhi benar-benar kagum kepada Ling Lingfa. Di dunia persilatan seperti ini, lelaki itu ternyata ingin menciptakan senjata api dan meriam. Ini benar-benar tindakan yang menentang langit!
Melihat Ling Lingfa begitu bersemangat, Lin Anzhi sekalian memberinya beberapa petunjuk. Ia pura-pura bertanya secara sambil lalu, tetapi pertanyaan-pertanyaan itu memberikan ilham besar kepada Ling Lingfa. Ling Lingfa menyatakan bahwa tidak lama lagi ia pasti dapat menciptakan senjata yang mengerikan.
Lin Anzhi dan Huang Rong hanya menginap semalam di rumah Ling Lingfa. Keesokan harinya, mereka meninggalkan Bianliang. Saat berpisah, Ling Lingfa dan Nyonya Fa tampak sangat enggan melepas mereka.
Sebagai anggota Klan Pelindung Naga, Ling Lingfa selalu dipandang rendah karena tidak memiliki kemampuan bela diri. Bahkan, ia pernah diusir dari istana oleh kaisar. Selain Nyonya Fa, Lin Anzhi adalah orang kedua di seluruh dunia yang mengakui kemampuannya.
Adapun Nyonya Fa, ia merasa kecewa karena tidak dapat pergi berbelanja bersama Huang Rong untuk membeli pakaian dan kosmetik.
“Benar-benar keluarga yang ajaib.” Setelah mengucapkan perpisahan kepada Ling Lingfa, hanya itulah yang dapat dikatakan Lin Anzhi.