Bab tiga puluh satu: Keheningan Chen Mo
Chen Mo membuka daftar teman di dalam gim, lalu menemukan sebuah ID bernama Hantu yang sedang bermain dan mengirim pesan padanya.
Setelah berbasa-basi sejenak, Chen Mo pun menyampaikan maksudnya, “Besok kau datang ke klub e-sport, daftar jadi anggota, ikut saja kegiatan mereka, nanti ikut bertanding bersama mereka.”
“Bro, mereka semua terlalu lemah.”
“Lemah apanya? Kau jangan cuma main gim sendirian terus, ikutlah lebih banyak kegiatan, nanti kalau kau sampai kena autisme bagaimana?”
“Iya, iya, besok aku datang. Malam ini kita berdua main bareng dua ronde. Penampilanmu malam ini bagus! Posisi utama sudah aman, kan!”
“Sudahlah, tidak usah ngomong soal itu. Nanti ada kesempatan kita kumpul, aku mau lihat sejauh mana kemampuanmu sekarang.”
Chen Mo lalu menoleh pada Jessica dan berkata, “Lihat, kan? Sudah beres, bukan?”
“Orang itu dari kampus kita juga? Hebat, ya?” Jessica bertanya penasaran.
“Dia itu adik kelasku di SMA, sekaligus muridku. Tenang saja, insting dan kemampuannya mendukung tim bahkan lebih hebat daripada aku,” kata Chen Mo sambil masuk ke dalam gim dan memperkenalkan Ghost pada Jessica.
Jessica melirik Chen Mo sebal, “Makasih ya!”
“Bagaimana kalau waktu itu—” Chen Mo langsung menelan kembali kata-kata nakalnya saat melihat tatapan marah Jessica, lalu berkata, “Bagaimanapun juga, kau pemilik rumahku. Kalau waktu itu kau tidak setuju untuk sewa bareng, aku pasti tidur di pinggir jalan.”
Chen Mo sambil mengobrol dengan Jessica, juga bermain dua ronde dengan Ghost. Mereka berdua dengan mudah meraih kemenangan di setiap pertandingan.
...
Keesokan paginya, Chen Mo tetap menjalani rutinitas lamanya: berlatih bersama Jordan, lalu ikut latihan tim, kemudian bersiap untuk pertandingan besok melawan San Antonio Spurs.
Seharusnya, hari itu adalah hari yang biasa saja. Laga kandang Charlotte Bobcats menghadapi San Antonio Spurs pun bukanlah pertandingan yang menjadi sorotan di liga. Meski Bobcats memiliki Chen Mo yang sedang jadi buah bibir, di mata kebanyakan orang, pertandingan ini hanyalah laga reguler yang akan menambah satu kemenangan lagi bagi San Antonio Spurs.
Namun di San Antonio yang jauh di sana, media lokal membocorkan sebuah berita yang membuat pertandingan ini menarik perhatian banyak orang.
“Pemain tahun kedua Charlotte sesumbar akan mengalahkan Spurs!”
“Dia benar-benar berkata seperti itu, bahkan memberiku tiket pertandingan. Dia terlalu sombong, saking sombongnya sampai aku yang orang Texas saja tak tahan melihatnya. Aku mohon kalian beritakan ini dan kabarkan pada tim, supaya mereka memberi pelajaran kepada pemain Cina yang pongah itu.”
Setelah media mengonfirmasi, staf internal Bobcats membenarkan bahwa tiket itu memang jatah dari tim untuk Chen Mo, sebab di pojok kiri atas tiket tertulis angka 23 dengan pensil.
Setelah berita itu tersebar, wartawan segera mewawancarai pelatih kepala Spurs, Popovich.
“Ini cuma pertandingan biasa di musim reguler, lagipula dia juga tidak mengatakannya langsung. Menurut saya, ini bahkan bukan berita,” kata Popovich dengan tenang pada wartawan.
“Memang sulit dianggap sebagai berita,” jawab Duncan, power forward andalan Spurs, tanpa ekspresi pada pertanyaan wartawan.
Gaya permainan Spurs memang seperti warna kaus mereka: hitam dan putih yang sederhana dan klasik. Mereka stabil, tradisional. Musim lalu, mereka menembus playoff dengan menempati urutan ketujuh di wilayah barat, menyingkirkan Mavericks yang ada di urutan kedua, sebelum akhirnya disapu bersih oleh Suns, rival lama mereka.
Musim ini pun mereka tak banyak melakukan perubahan dalam susunan tim, hanya saja setelah masalah cedera terselesaikan, mereka tetap menjadi tim yang mampu bersaing memperebutkan gelar juara.
Bobcats, sebagai tim lemah, kini rookienya malah sesumbar bakal mengalahkan Spurs. Meski para pemain dan pelatih Spurs tak terlalu menanggapi, dunia ini memang penuh orang yang suka mencampuri urusan orang lain, terlebih di lingkaran ini, banyak yang senang mencari sensasi demi menambah sorotan.
Sir Charles Barkley pun dalam salah satu acara di TNT, langsung menyerang Chen Mo.
“Sebelum musim dimulai, aku pikir dia tak ada gunanya, ternyata aku mungkin salah. Tapi rasanya aku masih terlalu lembut waktu itu, karena aku cuma bilang dia tak berguna. Sekarang? Dia sudah bikin masalah di tim Michael Jordan.”
“Memprovokasi penonton melempar pelatih pakai sepatu hak tinggi, lalu sesumbar habis-habisan setelah main bagus satu kali. Aku yakin, ke depan dia bakal bikin lebih banyak masalah.”
Begitu Barkley membuka mulut, tentu ada yang membalas. Michael Jordan langsung berkata, “Sudah bertahun-tahun si gendut itu belum juga belajar menutup mulut? Dulu nebeng Hakeem saja tak dapat gelar juara, sekarang cuma bisa nyinyir doang? Jack bikin masalah aku senang kok, aku senang menanggung risikonya!”
Perseteruan antara Jordan dan Barkley karena Chen Mo pun semakin memanas.
...
Di Tiongkok, di forum Siput, perdebatan para akun bayaran semakin sengit.
Setelah “Pecinta Basket” membuat postingan terakhirnya, ia untuk sementara tak perlu lagi menyalakan lima kipas angin, tapi setelah masalah Spurs ini mencuat dan makin banyak orang yang membenci dan menghujat Chen Mo, ia kembali melancarkan aksi balasan.
Kali ini, “Pecinta Basket” langsung menandai seorang ID bernama “Jack Chen adalah Sun Wukong.” Sekilas ID itu tampak biasa, tapi sebenarnya bermakna menghina ibu Chen Mo (karena Sun Wukong lahir dari batu yang meledak).
“Laga kandang Bobcats lawan Hornets, cuma pertandingan itu, Chen Mo harus jadi pemain terbaik dan membawa timnya menang. Kalau Bobcats menang, kau harus siaran langsung makan kotoran. Kalau Bobcats kalah, aku yang makan, berani tidak?”
Orang itu biasanya paling lantang menghina Chen Mo, dan kali ini ada yang menantangnya secara langsung. Para pengguna lain pun ramai-ramai membalas sambil menandai ID tersebut.
Akhirnya di balasan ke-21, dia muncul dan menjawab dengan tegas, “Hadapi saja, aku belum pernah takut sama siapa pun. Aku terima tantangannya.”
Balasan-balasan selanjutnya pun semakin meriah, dan antusiasme orang-orang untuk menantikan pertandingan itu semakin tinggi.
Setelah selesai latihan hari itu, Chen Mo pulang ke rumah. Ia sudah tahu seluk-beluk masalah ini. Ia sadar dirinya kembali berhasil menarik perhatian khalayak, dan ia juga tahu siapa yang membocorkan masalah ini ke wartawan: Terry.
Namun Chen Mo tak menghubungi wartawan untuk klarifikasi, juga tak mengunggah video Terry yang melakukan pelanggaran. Ia memilih diam sepenuhnya, dan akan membuktikan segalanya lewat tindakannya.
Malam itu, Chen Mo tidak menemani Jessica bermain gim, bahkan tak berbagi kegembiraannya karena Ghost, sang midlaner hebat, telah bergabung. Ia pulang, mandi, lalu langsung tidur; semuanya terasa begitu sunyi.
Andai Ghost ada di sana dan melihat Chen Mo malam itu, ia pasti akan sangat terkejut. Sebagai salah satu dari sedikit orang yang benar-benar mengenal Chen Mo, ia sangat paham bahwa kondisi Chen Mo seperti itu menandakan sesuatu: Chen Mo benar-benar marah, dan ia akan mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk membalas semua orang dan segala hal yang mengusiknya!