Bab Tujuh Puluh Enam: Aku Datang!
Jackson terkenal sebagai sosok yang sangat menjunjung persahabatan di dalam liga. Ketika ia baru masuk ke liga, konon katanya ia membawa sepuluh saudara laki-laki bersamanya. Orang-orang itu makan dari hasil jerih payahnya, menggunakan apa yang ia miliki, sepenuhnya bergantung pada penghidupan yang ia berikan.
Allen Iverson juga dikenal sebagai contoh dari orang yang setia kawan. Meski kepribadiannya yang keras kepala membuatnya bermusuhan dengan banyak orang, namun ia tahu cara berterima kasih, tahu bahwa kebaikan sekecil apapun harus dibalas dengan sepenuh hati. Hal ini jauh lebih baik dibandingkan banyak eksekutif kulit putih yang setiap hari hilir mudik di gedung perkantoran.
Dulu, ayah tiri Iverson sampai rela menjual narkoba demi menghidupi keluarga, namun pada akhirnya harus mendekam di penjara. Saat hari pemilihan pemain usai, Iverson langsung pergi ke penjara untuk menjenguk ayah tirinya. Melihat sepatu ayah tirinya yang sudah rusak, Iverson pun melepas sepatunya sendiri dan memberikannya. Ia pun pulang dengan kaki telanjang.
Jackson juga memiliki rasa kekeluargaan yang tak kalah kuat. Ketika badai Katrina menghantam kota tempat keluarganya tinggal, Jackson langsung menyewa dua helikopter untuk mengevakuasi semua kerabatnya ke rumahnya sendiri.
Konon katanya, Johnny adalah sepupu Jackson. Melihat Jackson begitu marah gara-gara Johnny memberinya ganja, Chen Mo justru merasa cukup tersentuh.
Setelah amarahnya reda, Jackson menenggak habis minuman keras di cangkirnya, lalu berkata, “Udah, gak seru. Mending kita cari hiburan lain, ayo main sama cewek-cewek. Pilih aja yang kamu suka, nanti aku yang bayar. Tenang aja, gak mungkin ada wartawan yang bisa masuk ke sini.”
Chen Mo menggaruk kepala. “Stephen, sudahlah! Aku gak suka cewek-cewek itu.”
“Heh! Playboy terkenal kayak kamu ternyata bisa juga malu-malu begitu! Kalau gitu, pulang aja naik taksi. Kamu habis minum, jadi mobilku gak bisa aku pinjemin.” Selesai bicara, Jackson langsung berjalan ke arah lain. Chen Mo menebak, pasti ke tempat yang menawarkan layanan khusus.
Keluar dari pintu utama, Chen Mo baru sadar setelah melihat papan nama, ternyata ini adalah sebuah klub tari telanjang. Tadi mereka masuk lewat pintu belakang, jadi Chen Mo sama sekali tidak tahu Jackson membawanya ke tempat apa.
Jackson sengaja membawa Chen Mo lewat belakang untuk menghindari wartawan, namun sekarang Chen Mo justru keluar lewat pintu depan, bahkan dengan santainya menatap papan nama klub itu.
Chen Mo merasa tidak enak, buru-buru berlari menjauh, lalu naik taksi dan segera pergi.
Chen Mo merasa, malam ini bermain bersama Jackson cukup menyenangkan. Setidaknya, ia bisa melihat langsung seperti apa kehidupan orang kulit hitam, sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Namun, ketika akhirnya Jackson mengajaknya bermain dengan para wanita, ia memilih mundur. Bukan karena takut, toh sekarang ia hidup sendiri dan tidak ada yang mengatur, tapi ia khawatir terkena penyakit. Banyak pemain NBA yang tertular penyakit seperti itu, dan Chen Mo tidak ingin menjadi salah satunya.
Lagipula, tertular penyakit kelamin masih mending, kalau sampai seperti Magic Johnson yang terkena HIV, maka hidupnya bisa berakhir dengan tawa getir.
Sesampainya di rumah, Jessica sepertinya sedang asyik bermain solo dengan seseorang. Chen Mo, yang sedikit pusing karena efek minuman, memilih tidak peduli, hanya mandi lalu ingin segera tidur. Namun, setelah selesai mandi, Jessica tiba-tiba memanggil-manggil namanya dengan suara keras.
“Jack—Jack—Jack—”
“Ada apa?” Chen Mo buru-buru mengenakan celana lalu berlari menghampiri.
“Jack, bantu aku mainkan ronde ini, orang ini benar-benar menyebalkan.”
Chen Mo menunduk melihat catatan obrolan di pojok kiri bawah, isinya penuh dengan kata-kata kasar dari lawan.
“Kamu top lane kayak begini masih berani rebut posisi?”
“Enak gak dibunuh sama aku? Ini pertandingan bapak dan anak, satu ronde lagi, cepat panggil aku ayah!”
“Sampah, kamu pakai Riven masih mau main sama aku?”
“Ibumu di kuburan meledak, masih gak mau tengok?”
Nama lawan itu adalah rapist, yang artinya pemerkosa dalam bahasa Indonesia.
Melihat makian lawan, Chen Mo pun jadi emosi. Apa-apaan orang ini?
“Biar aku yang main!” kata Chen Mo. Lalu ia mengetik, “Bapakmu waktu bikin kamu pasti lagi mabuk, ya?”
Kemudian Chen Mo mulai membalas makian lawan, mereka saling adu mulut hingga minion sampai di lane. Begitu minion tiba, Chen Mo mulai serius. Melihat kecepatan mengetik lawan, ia tahu tangan lawannya juga sangat cepat.
Mereka berdua sama-sama memilih Riven, duel dua hero yang sama sangat menguji kemampuan.
Sejak minion pertama, pertarungan mereka pun dimulai.
Chen Mo bermain sangat agresif, sementara rapist juga tidak kalah ganas. Pertarungan berlangsung sengit. Namun ketika keduanya mencapai level tiga, Chen Mo memanfaatkan keunggulan sekitar dua puluh poin darah serta timing ketika minion lawan sudah habis, lalu memaksa maju untuk duel.
Akhirnya, Chen Mo dengan cerdik memanfaatkan cooldown perisai E, berhasil menghindari serangan terakhir minion, kabur dengan darah tersisa, dan meraih first blood.
“Satu ronde lagi, cepat!” kata Chen Mo sambil keluar dari permainan.
Untuk menang di level tiga, Chen Mo sudah memperhitungkan banyak hal—darah lawan, darah minion, serangan, hingga cooldown skill-nya.
Pertandingan best-of-three kini skor imbang satu sama.
Jessica yang duduk di samping Chen Mo menyaksikan semuanya, dari saat ia membela Jessica, cara Chen Mo membalas makian lawan, hingga fokusnya saat bermain. Semua itu terpatri dalam ingatan Jessica dan sulit untuk dihapus.
“Ganteng banget!” Semua adegan itu akhirnya melebur menjadi dua kata saja di benak Jessica.
Manusia memang selalu mengagumi hal-hal indah. Walaupun Jessica menyukai sesama wanita, itu tidak menghalanginya untuk mengagumi pria tampan.
Pada ronde kedua, rapist bermain lebih agresif, namun ia justru melakukan kesalahan fatal dan Chen Mo berhasil membunuhnya di level dua.
Setelah kalah di ronde kedua, rapist langsung keluar dari permainan. Chen Mo mendorong keyboardnya, bangkit dengan gaya—“Terlalu lemah.”
“Jack, kamu hebat sekali!” seru Jessica antusias memeluk Chen Mo.
Chen Mo ingin mengambil kesempatan itu untuk melanjutkan ke langkah berikutnya, namun Jessica langsung mendorongnya pergi.
Sedikit canggung, Chen Mo mengalihkan topik, “Jessica, kenapa kamu bisa sampai duel sama orang brengsek begitu?”
Jessica menjawab, “Gara-gara rebutan posisi. Dia bilang kalau aku gak kasih Riven, dan gak bisa bunuh dua puluh orang, seluruh keluargaku bakal mati. Tapi waktu itu sisa posisi cuma support, aku gak bisa main, jadi terpaksa pakai Riven.”
“Terus, begitu masuk game, dia langsung maki-maki dari awal sampai akhir?” tanya Chen Mo.
Jessica mengangguk. “Orangnya parah banget, tapi memang aku gak bisa menang lawan dia.” Nada Jessica terdengar kecewa.
Chen Mo tersenyum, “Tapi aku sudah balas dendam buat kamu, kan? Gak usah dipikirin!”
Jessica menimpali, “Iya! Temani aku main dua ronde lagi ya!” katanya penuh semangat.
Chen Mo mengangguk, “Oke! Besok libur, malam ini temani kamu main sampai puas.”
Namun Chen Mo menemukan, saat bermain bersama Jessica malam itu, pikirannya seolah melayang. Beberapa kali saat duel di lane, bahkan setelah diingatkan, ia tetap saja tertangkap dan mati oleh jungler lawan.
Padahal, Chen Mo sudah bermain dengan kecepatan tangan maksimal, otaknya juga berusaha keras membaca pergerakan lawan di peta. Meski ia tampil luar biasa dan membantu tim unggul, tetap saja dari tiga ronde, mereka kalah satu. Di ronde itu, Jessica benar-benar tidak fokus. Ia tetap memakai Riven, dan Riven yang tertekan di awal akan sulit bangkit di akhir, sehingga mereka pun akhirnya kalah.
Chen Mo tidak tahu, seluruh isi pikiran Jessica malam itu hanyalah bayangan saat Chen Mo membelanya. Sehebat apapun kemampuan analisis Chen Mo, ia tidak akan pernah bisa menebak apa yang ada di benak Jessica...