Bab 124: Pemanggilan
Siang itu, matahari bersinar begitu terik seolah membakar bumi. Bahkan jika seseorang jatuh tersungkur, kulitnya bisa langsung melepuh. Jangkrik-jangkrik bernyanyi dengan semangat seolah takut orang lain tidak tahu kalau mereka memiliki suara yang lantang. Pohon dedalu terkulai lemas, bagaikan seorang pria yang baru pulang mabuk semalaman dan kini harus menunduk patuh saat dimarahi istrinya. Ikan-ikan di kolam pun tak berani bergerak, memilih bersembunyi di bawah daun teratai, menanti sinar surya meredup.
Saat itu, Pendeta Liuyun sedang mendirikan lapak ramalannya di bawah naungan pohon dedalu. Di atas meja terdapat tabung bambu untuk mengocok ramalan, serta perlengkapan menulis. Sang pendeta duduk sembari membaca buku dengan khusyuk. Hari itu, ia mengenakan jubah abu-abu muda dan menggoyangkan kipas bulunya dengan santai. Kipas itu tidak hanya berfungsi untuk menghalau panas, tetapi juga untuk mengusir lalat yang sesekali hinggap di dekatnya.
"Pendeta Liuyun, suasana hatimu sangat bagus hari ini," sebuah suara memecah lamunannya.
Ia mendongak dan melihat Si Gendut berdiri di depan mejanya dengan senyum lebar. Muridnya, Ding Hao, berada di sampingnya dengan ekspresi yang tampak sedikit canggung. Melihat keduanya, Pendeta Liuyun tersenyum maklum. "Kalian berdua, kenapa ada waktu untuk mengunjungiku?"
Si Gendut menarik kursi dan duduk. "Aku merindukanmu, jadi aku datang menjengukmu. Apa tidak boleh?"
Meski Si Gendut bersikap santai, Ding Hao tidak berani bertindak lancang. Melihat keberanian temannya itu saat berbicara dengan gurunya membuatnya merasa ngeri. Walaupun Si Gendut memberi isyarat agar dia duduk, dia hanya berdiri kaku di samping dengan senyum kecut.
"Dasar kau ini..." Pendeta Liuyun hanya bisa menggeleng pasrah menghadapi Si Gendut.
Si Gendut mengambil buku yang baru saja diletakkan pendeta itu di meja. Ternyata itu adalah kitab klasik berjudul *Taishang Ganying Pian*. Setelah membalik beberapa halaman, ia mendapati isinya tentang ajaran kebaikan dan menghindari kejahatan. Si Gendut bertanya dengan bingung, "Pendeta, apa gunanya buku ini? Kelihatannya bukan tentang latihan bela diri atau kultivasi keabadian."
Pendeta Liuyun mengangguk. "Benar, ini adalah kitab ajaran Tao. Membacanya tiga kali saat pikiran sedang kacau bisa membuat hati menjadi tenang dan damai."
Mendengar itu, Si Gendut menjadi tertarik. Biasanya, setiap kali teringat kata-kata Kakak Seperguruan Qiao Ruyan, hatinya terasa sakit seperti ditusuk pisau. Untuk melupakan kenangan itu, ia sering mabuk-mabukan. Namun, ia sadar bahwa minum untuk melupakan justru membuat kesedihan semakin dalam. Karena buku ini bisa menenangkan hati, ia pun berniat meminjamnya.
"Pendeta, bolehkah aku meminjam buku ini selama dua hari?"
Pendeta Liuyun terkejut. Ia sudah sering bertemu Si Gendut dan belum pernah melihatnya tertarik pada buku. Apakah matahari terbit dari barat? Namun, karena kitab ini bukanlah naskah kuno yang langka dan bisa dibeli di toko buku mana pun, ia pun setuju, "Baiklah, kau boleh meminjamnya selama beberapa hari."
Si Gendut sangat senang dan segera memasukkan buku itu ke dalam sakunya, seolah takut pendeta itu berubah pikiran. Setelah itu, ia bertanya, "Pendeta, aku punya satu pertanyaan lagi, entah boleh atau tidak aku menanyakannya."
Pendeta Liuyun mengerti bahwa meskipun ia melarang, Si Gendut yang tidak tahu malu ini pasti tetap akan bertanya. Maka ia menjawab, "Apa pun yang ingin kau ketahui, tanyakan saja sekaligus."
Karena sang pendeta begitu lugas, Si Gendut pun berhenti berbasa-basi. "Pendeta, mengapa kau memutuskan untuk menjadi pendeta?"
Pertanyaan ini terasa seperti mengorek privasi orang lain, namun Si Gendut tidak peduli. Jika ia tidak tahu alasannya, ia tidak akan bisa tidur. Seperti lelucon tentang pasangan suami istri: sang suami tidak bisa tidur karena memikirkan hutang sepuluh ribu koin kepada tetangganya, Wang, yang harus dibayar besok. Sang istri kemudian membuka jendela dan berteriak ke arah rumah tetangga, "Tuan Wang, suamiku besok tidak punya uang untuk membayar hutangmu!" Setelah menutup jendela, ia berkata pada suaminya, "Sekarang kau bisa tidur tenang, karena sekarang Tuan Wang yang tidak bisa tidur."
Jelas, Si Gendut memiliki mentalitas yang sama; ia lebih suka orang lain tidak nyaman daripada dirinya sendiri.
Pendeta Liuyun menunduk, mengenang masa lalu. Setelah terdiam cukup lama, ia menjawab perlahan, "Ini bermula saat aku masih muda. Dulu, aku adalah orang yang sombong dan penuh bakat. Aku merasa tidak ada yang bisa menandingiku. Aku yakin masa depanku akan sangat cemerlang. Namun, kenyataannya sulit bagi orang berbakat untuk menemukan tempatnya. Aku memiliki semangat dan ambisi, namun tidak ada jalan untuk mengabdi. Suatu hari, aku menyadari sesuatu. Sepanjang sejarah, banyak tokoh hebat seperti Jiang Taigong yang memancing di Sungai Wei, Zhang Zifang yang menyusun strategi, Zhuge Kongming yang mengendalikan cuaca, hingga Liu Bowen yang memiliki perhitungan dewa—mereka semua adalah pendeta. Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa semua orang jenius pasti adalah seorang pendeta. Karena merasa diriku jenius, aku pun memutuskan untuk menjadi pendeta."
Mendengar itu, Si Gendut merasa geli sekaligus tidak percaya. Alasan yang sesungguhnya ternyata begitu konyol. Setelah rasa penasarannya terjawab, ia merasa sangat lega. Mereka berbincang dan tertawa hingga waktu berlalu cepat. Entah karena kehadiran dua pembawa sial seperti mereka atau bukan, tidak ada satu pun pelanggan yang datang sore itu. Untungnya, pendeta itu tidak menggantungkan hidup dari sana. Menjelang malam, mereka makan bersama, lalu Si Gendut pamit pulang agar Pendeta Liuyun bisa mengajar Ding Hao latihan di malam hari.
Musim panas berlalu, berganti hawa musim gugur yang sejuk. Langit seolah bocah yang mudah berubah suasana hatinya; cuaca yang tadi cerah tiba-tiba berubah menjadi hujan badai. Si Gendut yang belum sampai di rumah terpaksa berteduh di bawah atap sebuah bangunan besar. Hujan turun begitu deras, membuat orang-orang di jalan basah kuyup. Si Gendut sendiri juga basah, sehingga ia tidak lagi bisa menertawakan orang lain. Pemilik rumah itu mungkin seorang tuan tanah kaya, karena di depan rumahnya tertanam deretan pohon bambu yang bergoyang hebat diterjang angin. Si Gendut selalu menyukai bambu karena ketangguhannya yang tetap hijau sepanjang musim. Setelah beberapa lama, hujan mulai mereda, menyisakan pemandangan yang berkabut.
Si Gendut kemudian menutupi kepalanya dengan ujung pakaian dan berlari menuju penginapan untuk beristirahat.
Malam itu, suara angin dan hujan berpadu bagaikan pertunjukan opera. Si Gendut terlelap dalam suara bising tersebut. Keesokan paginya, langit sudah cerah, hanya menyisakan genangan air di sana-sini. Setelah makan pagi, ia bergegas ke kantor pemerintahan. Di sana, ia melihat Ding Hao sudah menunggu dengan mata bengkak dan wajah pucat, terus-menerus menguap—tampaknya ia benar-benar disiksa oleh Pendeta Liuyun semalam. Sembari menunggu Gubernur datang, Si Gendut mengeluarkan kitab yang dipinjamnya dan membacanya dengan saksama.
Tak lama kemudian, Gubernur masuk dengan langkah mantap. Semua orang segera berdiri tegak dengan hormat. Gubernur tidak duduk di mejanya, melainkan berdiri di tengah ruangan dan berkata dengan ramah, "Hari ini tidak ada urusan resmi, kalian tidak perlu terlalu kaku. Nanti, bagilah diri kalian menjadi kelompok-kelompok kecil untuk berpatroli di jalanan."
Pandangan Gubernur beralih ke arah Si Gendut dan Ding Hao. "Si Gendut, Ding Hao, ikuti aku ke ruang belakang. Ada sesuatu yang perlu kubicarakan."
Gubernur berjalan lebih dulu, diikuti oleh keduanya yang merasa bingung. Setelah melewati koridor dan sampai di taman belakang, Si Gendut terkejut melihat seseorang berdiri di sana.