Bab 126: Suap
Si pemuda tambun mendengar ketukan pintu. Saat ia membukanya, tampaklah pelayan kedai tadi berdiri di ambang pintu dengan senyum yang ganjil. Ia bertanya, "Dua tamu, apakah kalian memerlukan layanan istimewa?"
Si pemuda tambun tertegun dan bertanya, "Layanan istimewa? Layanan istimewa apa itu?"
Pelayan itu, entah karena si pemuda benar-benar tidak mengerti atau hanya berpura-pura, tetap menjelaskan dengan sabar, "Tuan, malam masih panjang dan perjalanan terasa sepi. Di kedai kami ada beberapa gadis muda yang cantik, khusus melayani tamu untuk makan, minum, dan menemani tidur, agar tamu tidak kesepian dan bisa bersenang-senang sampai puas."
Si pemuda tambun segera sadar. Ia baru mengerti apa yang dimaksud dengan layanan istimewa itu—tidak lain adalah wanita penghibur, atau kasarnya, pelacur. Ia segera menolak, "Tidak perlu, pergilah. Jika kami butuh sesuatu, kami akan memanggilmu."
Pelayan itu pergi dengan perasaan tidak puas sambil menggerutu. Maklum, dari setiap "layanan istimewa" yang disediakan bagi tamu, para pelayan kedai mendapatkan komisi. Melihat kedua tamu itu tidak tertarik, ia tentu merasa kecewa.
Karena lelah akibat perjalanan yang terguncang-guncang, si pemuda tambun dan Ding Hao sudah sangat letih. Malam itu mereka tidak berselera makan dan langsung tertidur pulas hingga keesokan harinya. Saat terbangun, langit sudah cerah, namun sisa kantuk masih tampak di wajah mereka.
Mereka bergegas bangun dan keluar kamar. Barulah mereka tahu bahwa semalam sempat turun hujan, namun karena terlalu lelah, mereka tidak menyadarinya. Matahari baru saja terbit, sinarnya yang hangat menyentuh kulit lengan mereka dengan lembut. Angin sepoi-sepoi bertiup menyejukkan. Tanah yang basah belum sepenuhnya kering, dan dedaunan yang masih berhias titik-titik embun tampak malu-malu seperti gadis remaja.
Saat itu mereka baru merasakan lapar. Untungnya, di depan kedai terdapat ruang makan. Mereka memesan makanan dan menyantapnya dengan lahap. Karena restoran kedai ini terbuka untuk umum dan susu kedelainya sangat terkenal dengan harga terjangkau, pagi itu tempat tersebut sudah cukup ramai. Sembari makan, mereka bertanya kepada pelayan tentang arah menuju Kediaman Pangeran Penglai. Pelayan itu, mengira mereka hanyalah orang asing biasa, memberitahu arahnya tanpa curiga. Setelah membayar, mereka pun berangkat mengikuti petunjuk tersebut.
Kota Penglai sungguh makmur. Pagi-pagi sekali, jalanan sudah dipenuhi orang yang memulai aktivitas. Dalam perjalanan menuju Kediaman Pangeran, mereka melewati sebuah sungai kecil yang diapit pepohonan hijau dan bunga-bunga merah, lengkap dengan taman batu dan air yang jernih, sungguh menyejukkan mata. Beberapa orang tua yang sedang berolahraga pagi tampak sedang melakukan peregangan atau Tai Chi di pinggir sungai. Terpesona oleh pemandangan indah itu, si pemuda tambun dan Ding Hao memutuskan untuk berhenti sejenak di atas batu besar di tepi sungai.
Keduanya duduk terdiam, memandang rerumputan dan bunga-bunga dalam lamunan. Si pemuda tambun teringat masa lalu ketika ia dan Kakak Seperguruan Qiao Ruyan sering bermain di bukit belakang setelah hujan. Memikirkan bahwa Kakak Qiao sebentar lagi akan menikah, hatinya terasa sesak. Sejak zaman dahulu, wanita mana yang tidak menyukai harta? Banyak wanita yang mengaku menyukai pria berkarisma, namun di mata kebanyakan wanita, karisma setara dengan uang. Pria berbakat namun miskin dianggap tidak punya masa depan, sementara pria kaya meski tidak berotak, dianggap sebagai pria sukses yang memikat. Sulit sekali mencari wanita yang mau hidup susah bersama. Jika bisa menemukannya, meski ia tidak cantik, hidup akan terasa bahagia selama mereka saling mencintai. Memikirkan hal ini, si pemuda tambun terdiam cukup lama.
Sebuah puisi "Wu Ye Ti" berbunyi: "Menyusuri jalan sunyi setelah hujan, bunga merah dan dedaunan hijau di tepi sungai. Burung pipit terbang di langit cerah, laut biru memantulkan pegunungan. Mengenang masa lalu, air mata menetes tak tertahankan. Bersama kekasih berbagi suka dan duka, tawa bahagia pun merekah."
"Kakak Zhu, kita harus pergi," potong Ding Hao, memecah keheningan. Si pemuda tambun baru tersadar bahwa matahari sudah tinggi. Ia mengangguk dan mereka pun melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian, pemandangan di depan mata terbuka lebar. Deretan bangunan megah dengan dekorasi emas dan ukiran naga-phoenix tampak menjulang. Itu pasti Kediaman Pangeran Penglai. Saat mendekat, mereka melihat dua penjaga bersenjatakan tombak di depan gerbang. Di atas gerbang tertulis empat karakter besar "Kediaman Pangeran Penglai", dengan tulisan kecil "Anugerah Kekaisaran" di sampingnya.
"Hei, kalian berdua, sedang apa kalian mengintai di sini?" teriak seorang penjaga dengan kasar. Mereka rupanya sudah diawasi. Melihat wajah asing, kedua penjaga itu tampak waspada.
Si pemuda tambun dan Ding Hao mendekat dengan sopan. "Maaf Tuan, kami pedagang dari luar kota. Kapal kami terkena badai dan semua barang tenggelam. Karena tidak punya uang untuk pulang, kami ingin mencari pekerjaan di sini sampai akhir tahun. Kami hanya ingin bertanya, apakah kediaman ini sedang membuka lowongan?"
Kebohongan si pemuda tambun meluncur dengan mulus. Ding Hao kagum dengan kecerdikan kakaknya itu. Wajah kedua penjaga itu sedikit melunak, namun salah satunya membentak, "Pergilah!"
Ding Hao yang tidak terbiasa diperlakukan kasar merasa marah, namun si pemuda tambun segera memberinya isyarat untuk tenang. Penjaga itu berwajah garang dengan bekas luka memanjang di wajahnya. Si pemuda tambun, dengan wajah yang tetap tenang, mendekat dan menyelipkan kepingan perak ke tangan masing-masing penjaga.
"Uang bisa membuat hantu bekerja," ujar pepatah, dan itu terbukti benar. Para penjaga itu menerima perak tersebut. Si penjaga berbekas luka berkata, "Kalian kurang beruntung, lowongan baru saja penuh kemarin. Tinggalkan saja alamat kalian, nanti akan kami kabari."
Si pemuda tambun tidak menyerah dan kembali menyelipkan perak lagi. "Tolonglah, bantu kami sedikit."
Akhirnya, si penjaga berkata, "Baiklah, tunggu di sini. Aku akan bertanya pada Pengurus Wang apakah masih ada pekerjaan yang cocok."
Si pemuda tambun berterima kasih dengan wajah penuh rasa syukur. Penjaga itu masuk ke dalam. Sembari menunggu, si pemuda tambun mengintip ke dalam kediaman yang tampak mewah dan megah. Tak lama kemudian, penjaga itu kembali dengan wajah yang lebih ramah. "Kalian beruntung, ada dua orang yang batal datang, kalian bisa mengisi posisi tersebut."
Si pemuda tambun girang bukan main. Mereka pun diajak masuk. Meski sudah menduga akan kemewahan di dalamnya, mereka tetap terpukau. Di dalam terdapat taman yang sangat indah dengan berbagai tanaman langka. Saat melewati sebuah taman, mereka melihat kolam dengan patung naga emas seukuran manusia yang memancarkan air dari mulutnya.
"Itu Pengurus Wang di sana," ujar si penjaga.