Bab 142 Dadu yang Aneh
Si bocah gemuk terkejut bukan main. Baru saja ia berbicara, sebuah tuduhan perampokan dan pembunuhan langsung disematkan kepadanya. Terlebih lagi, ini berada di wilayah kekuasaan mereka. Jika ia sampai dijebloskan ke dalam penjara oleh mereka, di bawah siksaan dan interogasi paksa, ia tidak akan memiliki kesempatan untuk membela diri.
Tepat saat sang bocah gemuk merasa bingung dan kehilangan akal, tiba-tiba seseorang memanggil, "Paman Kedua, Kakak Gemuk!"
Bocah gemuk itu menoleh dan melihat Zhao Qian serta Qiuju sedang berlari cepat mendekat. Mereka mengenakan gaun, dan saat berlari, pita gaun mereka berkibar bagaikan dua ekor kupu-kupu warna-warni yang saling kejar dan bermain-main. Ternyata, setelah menunggu cukup lama di rumah namun Li Jun dan sang bocah gemuk tak kunjung kembali, karena khawatir terjadi sesuatu pada mereka, kedua gadis itu datang kemari untuk melihat-lihat sesuai dengan tempat yang dikatakan oleh Li Fei.
"Ah..." Qiuju dan Zhao Qian menjerit kaget, keduanya buru-buru memalingkan wajah. Jika diamati raut wajah mereka, keduanya sama-sama dipenuhi rasa ngeri yang teramat sangat hingga pucat pasi. Ternyata, mereka melihat mayat wanita di atas tanah.
Hakim wilayah itu mencibir dan berkata, "Ternyata masih ada dua orang buronan wanita lagi, prajurit, tangkap mereka semua!"
Wajah bocah gemuk berubah drastis dan bersiap untuk melawan, ketika ia melihat Zhao Qian mengulurkan tangan mengambil sesuatu dari pinggangnya. Benda itu panjangnya sekitar empat inci dan lebarnya tiga inci, memancarkan cahaya keemasan di bawah terik matahari. Saat sang hakim wilayah pertama kali melihat benda itu, ia awalnya tidak terlalu memedulikannya. Namun, ketika ia mengamatinya lebih dekat, matanya langsung mendelik lebar, bibirnya bergetar, dan seluruh tubuhnya gemetar tidak keruan.
Sang hakim wilayah langsung berlutut di tanah dengan bunyi gedebuk, bersujud bagaikan orang menumbuk padi. Sambil bersujud, ia memohon dengan iba, "Bawahan pantas mati! Bawahan memiliki mata tetapi tidak mengenali Gunung Tai! Telah lancang menyinggung Nona, mohon Nona bermurah hati dan ampuni bawahan ini!"
Sambil berkata demikian, ia bahkan menampar wajahnya sendiri secara bergantian dengan tangan kanannya dan kirinya, *plak plak plak*, beberapa kali berturut-turut. Seketika itu juga, wajahnya membengkak sangat tinggi. Dia tadinya sudah berwajah tambun dengan telinga besar, dan kini setelah wajahnya mendadak membengkak, penampilannya seketika tampak seimbang dengan tubuhnya yang gempal.
Ternyata itu adalah sebuah token. Sang bocah gemuk merasa sangat heran, token apa yang mampu membuat hakim wilayah yang tadinya bersikap arogan luar biasa kini berubah menjadi bagaikan anjing kudisan?
Bocah gemuk itu melirik ke arah tangan Zhao Qian, dan melihat di tangan giok Zhao Qian yang lentik tergenggam sebuah plakat emas yang diukir dengan tiga karakter besar: "Raja Penglai".
Bocah gemuk itu pun mendadak paham. Ternyata ini adalah token Raja Penglai. Tempat ini berada dalam wilayah yurisdiksi Raja Penglai. Di sini, jika Raja Penglai menghentakkan kakinya, tanah setempat pun akan bergetar tiga kali. Jika Raja Penglai berkata ya, tidak seorang pun yang berani membantah. Meskipun sang kaisar agung berada di atas Raja Penglai, namun bagaimanapun juga, istana pusat terletak jauh di seberang sana, dan Raja Penglai adalah penguasa sejati di tempat ini. Token Raja Penglai jauh lebih berkuasa daripada dekrit kekaisaran sang kaisar. Hakim wilayah ini hanyalah seorang pejabat rendahan di bawah naungan Raja Penglai. Pantas saja ia begitu ketakutan saat melihat plakat emas Raja Penglai.
Zhao Qian mengerutkan keningnya sedikit dan berkata, "Sudahlah, bangunlah!"
"Terima kasih, Nona!" Hakim wilayah itu bersujud beberapa kali lagi sebelum berdiri dengan tubuh gemetar. Ia menatap Zhao Qian, merasa kebingungan sesaat.
Zhao Qian saat ini tidak berani memandang mayat wanita itu. Ia menatap sang bocah gemuk dengan pandangan penuh perhatian dan berkata, "Kakak Gemuk, ayo kita pulang ke rumah."
Bocah gemuk itu menoleh ke belakang untuk memandang mayat wanita tersebut, menatap matanya yang belum terpejam dalam kematian, seolah-olah sedang menceritakan keluh kesah yang tak berujung di dalam hatinya. Beralih menatap sang hakim wilayah, pria itu kini tampak sangat patuh dan penakut, memandang sang bocah gemuk dan Zhao Qian dengan ngeri, sangat takut pemuda ini mengucapkan satu atau dua patah kata yang merugikan, yang akan membuat topi pejabatnya dicopot dan dipulangkan untuk berjualan ubi.
Bocah gemuk itu berkata, "Qian'er, kembalilah duluan bersama Qiuju. Kasus ini, menurut pengamatanku, agak ganjil. Aku ingin memechannya dan melihat apa sebenarnya yang terjadi."
Mendengar perkataan sang bocah gemuk, Zhao Qian mengangguk dan berkata, "Baiklah! Kakak Gemuk, bawalah plakat emas ini. Jika pejabat wilayah ini tidak patuh, gunakan plakat ini untuk menyuruh para algojo menghukumnya."
Mendengar hal itu, butir-butir keringat dingin bercucuran di dahi sang hakim wilayah. Dengan bibir yang bergetar, ia berkata, "Bawahan tidak berani."
Bocah gemuk itu juga melihat bahwa plakat emas ini memiliki kekuatan yang luar biasa, maka ia mengulurkan tangan untuk menerimanya. Saat plakat emas itu berpindah ke tangannya, terasalah kehangatan yang merambati kulit. Tampaknya karena baru saja digenggam oleh Zhao Qian, suhu tubuh gadis itu telah berpindah ke plakat emas tersebut.
Melihat sang bocah gemuk telah menerima plakat emas itu, Zhao Qian bersama Qiuju dan Paman Kedua pun berlalu pergi. Bocah gemuk itu memandangi punggung ketiga orang itu, dan secercah kehangatan merayap di dalam hatinya. Saat ini, otak sang bocah gemuk seolah-olah kosong, melupakan segalanya, dan di dalam matanya hanya tersisa sosok Zhao Qian yang semakin menjauh.
Hingga bayangan tubuh Zhao Qian benar-benar menghilang, barulah bocah gemuk itu sadar kembali. Ia menoleh dan mendapati sang hakim wilayah sedang menatapnya penuh harap. Selama sang bocah gemuk tidak berbicara, ia sama sekali tidak berani menyela sembarangan. Para algojo melihat sang hakim wilayah saja tidak berani bersuara, sehingga mereka semakin saling bertukar pandang dengan cemas dan menatap sang bocah gemuk penuh rasa gentar.
Bocah gemuk menyadari bahwa orang-orang ini telah memerhatikannya sejak tadi, dan ia pun merasa sedikit canggung. Ia berdehem kecil dan berkata, "Hakim wilayah, mari kita mulai menyelidiki kasus ini!"
Hakim wilayah itu buru-buru mengangguk dan berkata, "Segalanya tunduk pada perintah Tuan Gemuk."
Mendengar sebutan itu, sang bocah gemuk merasa geli. Awalnya, pejabat brengsek ini memanggilnya "si gemuk sialan" di setiap kesempatan. Sekarang, setelah melihat plakat emas ini, ia begitu ketakutan hingga mengubah panggilannya menjadi "Tuan Gemuk". Pantas saja begitu banyak orang menyukai kekuasaan. Karena dengan kekuasaan, seseorang mendapatkan hak untuk diagung-agungkan dan dijilat.
Bocah gemuk itu melangkah kembali ke sisi mayat dan merenung dalam hati sambil menatap mayat wanita tersebut. Kasus ini, jika ini adalah perampokan dan pembunuhan biasa, sang perampok pastinya tidak akan melewatkan gelang di tangan wanita ini. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kemungkinan ini adalah perampokan murni sangat kecil. Wajah wanita ini memiliki banyak memar, tampaknya sebelum tewas, ia sempat disiksa oleh pelakunya. Apakah ini pembunuhan berencana karena dendam?
Tepat saat sang bocah gemuk merasa kebingungan tanpa jalan keluar, tiba-tiba ia mendengar seseorang berseru, "Tuan, masih ada benda di bawah peti!"
Hati sang bocah gemuk tergerak. Ia melangkah cepat ke sisi peti kayu dan melongok ke dasarnya. Terlihat di dasar peti tersebut, tergeletak diam tiga buah dadu. Angka mata pada ketiga dadu tersebut masing-masing adalah empat, lima, dan enam.
Ternyata, ketiga buah dadu ini senantiasa berada di bawah tubuh mayat wanita itu. Sebelumnya, karena mayat belum dipindahkan, sang bocah gemuk tidak melihatnya. Sekarang, setelah mayat diangkat keluar dari peti, ketiga buah dadu yang tadinya tersembunyi di bawah tubuh mayat pun tersingkap. Namun, apakah ketiga dadu ini ada hubungannya dengan kasus ini? Jika ada hubungannya, hubungan seperti apa? Mungkinkah ketiga dadu ini menyimpan makna tertentu?
Saat sang bocah gemuk sedang mengerutkan kening untuk berpikir, sang hakim wilayah menyela, "Tuan Gemuk, mungkinkah ketiga buah dadu ini memberi tahu kita bahwa si pembunuh bernama Shunzi?"
Bocah gemuk tidak menjawab, dan seseorang di sampingnya kembali bersuara: "Menurut pandangan orang kecil ini, wanita ini pasti dibunuh karena terlibat pertengkaran saat berjudi."
Bocah gemuk melirik orang yang berbicara dan mendapati bahwa ia adalah Zhang San, orang yang baru saja disebut-sebut oleh sang hakim wilayah. Bocah gemuk merenung; perkataan hakim wilayah ini ada benarnya, dan perkataan Zhang San ini pun ada rasionya. Kasus yang tadinya sudah rumit, kini dengan kemunculan ketiga buah dadu ini, menjadi semakin membingungkan dan penuh misteri.
Bocah gemuk saat ini justru sedang memikirkan kemungkinan bahwa ketiga buah dadu ini mungkin sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Seandainya si pelaku pembunuhan benar-benar meninggalkan petunjuk, maka orang ini adalah seorang detektif amatir yang psikopat. Namun, apakah orang seperti itu benar-benar ada di Tianhua? Bocah gemuk merasa kurang mempercayainya. Dilihat dari gelang yang tidak diambil, ini jelas bukan kasus perampokan biasa. Berdasarkan analisisnya terhadap luka-luka pada mayat, sang pembunuh pasti sangat membenci si korban, makanya ia menyiksanya sebelum membunuhnya.
Prioritas utama saat ini adalah segera menemukan identitas asal mayat tersebut. Oleh karena itu, sang bocah gemuk berkata kepada hakim wilayah, "Tuan Hakim..."
Hakim wilayah itu buru-buru memotong perkataan sang bocah gemuk dan berkata, "Aduh, Tuan Gemuk, Anda benar-benar menghancurkan bawahan ini. Julukan 'tuan' ini sungguh tidak pantas saya sandang. Begini saja, panggil saya Xiao Zhou saja."
Tampaknya "Zhou si Pemeras" ini benar-benar telah dibuat ciut oleh plakat emas tersebut. Bocah gemuk tidak keberatan dan berkata, "Xiao Zhou, utuslah orang untuk memanggil para pemimpin desa di empat penjuru dan sekeliling kemari, biarkan mereka mengenali mayat ini."
Mendengar perintah itu, hakim wilayah berkata kepada belasan prajurit di sana, "Apakah kalian semua mendengarnya? Masing-masing dari kalian pergi ke satu desa, panggil kepala suku atau kepala desa kemari!"
"Baik, Tuan!" Para prajurit mengikuti perintah, berunding untuk menentukan desa tujuan masing-masing, lalu bergegas pergi.
Kini di tempat kejadian hanya tersisa sang bocah gemuk dan sang hakim wilayah yang berpipi tembam serta berbadan tambun. Hakim wilayah itu menemani sang bocah gemuk di sisi dengan hati-hati, kedua bola matanya berputar-putar liar, entah tipu muslihat apa yang sedang direncanakannya. Bocah gemuk pun malas meladeni pejabat brengsek itu. Ia tetap berjaga di dekat peti, memandangi ketiga buah dadu di dalamnya sambil mengerutkan kening, tidak mampu menemukan jawabannya sama sekali.
Tidak lama kemudian, para prajurit datang silih berganti membawa kepala desa atau ketua suku. Para tetua ini adalah para sesepuh yang sudah tua renta. Setelah memeriksa mayat tersebut, mereka menggelengkan kepala satu persatu, menyatakan bahwa mereka tidak mengenali wanita tersebut. Sebagian besar prajurit yang diutus telah kembali, dan kini hanya tersisa dua orang saja.
Hingga saat ini, belum ada seorang pun yang mengenali mayat wanita itu. Mungkinkah wanita yang tewas ini bukan penduduk setempat? Memikirkan hal ini, suasana hati sang bocah gemuk menjadi semakin berat.
Tepat pada saat itu, sang bocah gemuk mendongak dan melihat dua orang berjalan dari kejauhan. Salah seorang dari mereka adalah Li Si, prajurit yang diutus oleh hakim wilayah, sementara satu orang lainnya adalah seorang lelaki tua berwajah keriput yang berjalan pincang mengenakan jubah panjang berwarna hijau.
Begitu mereka mendekat, barulah terlihat jelas bahwa lelaki tua ini berusia sekitar tujuh puluh tahun, dengan rambut dan janggut yang telah memutih seluruhnya. Dahinya dipenuhi oleh kerutan yang tampak begitu dalam seolah-olah dipahat dengan pisau. Setibanya di tempat, lelaki tua itu terengah-engah tanpa henti. Li Si di sampingnya menggerutu dengan nada tidak puas, "Aku bilang Kakek Shen, perjalanan tidak seberapa jauh ini saja sudah membuatmu kelelahan seperti ini."
Ternyata, lelaki tua ini adalah Shen You, yang dipanggil Kakek Shen dari Desa Shenjia yang terletak sejauh empat mil lebih ke arah selatan. Kakek Shen menarik napas sejenak untuk menenangkan diri, lalu berkata dengan suara gemetar, "Aku sudah berusia tujuh puluh tahun lebih, tulang-belulangku sudah tua, bagaimana bisa dibandingkan dengan kalian para pemuda yang kuat dan bugar?"
Mendengar hal itu, sang hakim wilayah merasa tidak sabar dan berkata, "Orang tua, telah terjadi sebuah kasus pembunuhan di sini, korbannya seorang wanita. Datanglah dan amati, apakah kau mengenali mayat wanita ini?"
Kakek Shen buru-buru membungkuk dan mengangguk patuh seraya berkata, "Baik."
Kakek Shen melangkah mendekati mayat wanita itu, mengamati dengan seksama, dan seketika itu juga wajahnya berubah drastis. Ia berseru kaget, "Bukankah ini Nyonya Yang, istri Shen Kui dari desa kita!"