Jilid Pertama: Anak Harimau Mengaum di Lembah, Seluruh Binatang Gemetar Ketakutan! Bab 38: Tang Ning, Kau Bukan Manusia
Qi Xianyu merasa sangat kesal, pengalaman hari ini seolah melengkapi semua hal yang belum pernah dialaminya selama dua puluh satu tahun hidupnya. Sejak kecil ia adalah seorang anak yang dibuang, ditemukan oleh seorang biksuni baik hati dan dibawa ke wihara. Ia pernah mencukur rambut seperti biksuni lainnya, namun seiring bertambahnya usia dan kecantikannya yang kian bersinar, gurunya mulai memiliki niat lain.
Wihara Mian'an dan Bilik Sunyi hanya dipisahkan satu gunung, dan kedua kepala wihara memiliki hubungan yang erat. Jarang sekali ada yang datang ke Bilik Sunyi untuk bersembahyang, sehingga kehidupan para biksuni di sana kebanyakan bergantung pada suplai uang dan makanan dari Wihara Mian'an.
Sudah disebutkan sebelumnya, walau Wihara Mian'an bukanlah wihara besar, namun para biksunya tersebar di berbagai penjuru Dinasti Song, sehingga kabar apa pun cepat sampai ke sana. Misalnya saja, jika pemerintahan akan mengirim pasukan ke suatu daerah, mereka seringkali sudah mengetahuinya lebih awal.
Karena itu, Wihara Mian'an menjual kabar-kabar tersebut kepada para perampok di Gunung Selatan maupun kelompok bandit lain, menukar informasi itu dengan uang dan makanan.
Pada dasarnya, itu adalah jalan terpaksa. Tanpa melakukan hal tersebut, baik biksu maupun biksuni tak akan mampu bertahan hidup. Di wilayah Liangzhe, Taoisme sangat populer, pengikut Buddha memang ada, tapi terlalu sedikit. Baru pada masa Dinasti Song Selatan, ketika rakyat Song mengalami bencana besar hingga kehilangan harapan, ajaran reinkarnasi Buddha mulai memancarkan secercah cahaya, dan saat itulah agama Buddha benar-benar berkembang.
Di Bilik Sunyi, banyak biksuni seperti Qi Xianyu. Tugas utama mereka adalah menggoda para pemimpin kelompok bandit. Misalnya saja, ketika Han Xiong sudah tak berniat lagi memberikan suplai makanan ke Wihara Mian'an, di situlah Qi Xianyu berperan.
Mereka lebih mirip bidak catur, menjadi penghubung antara perampok dan wihara.
Qi Xianyu adalah wanita yang sangat cerdas. Sejak kecil ia tertarik pada ilmu pengobatan, dan juga sedikit mempelajari racun. Seorang biksu yang dikirim ke Guangnan Barat membawa sesuatu yang mirip kelengkeng, tapi ternyata bukan kelengkeng. Konon, di daerah asalnya, buah itu disebut buah gila. Setiap orang yang memakan buah itu, tanpa terkecuali, akan kehilangan akal dalam waktu singkat.
Ada yang tak percaya, diam-diam mencoba memakan satu, dan hasilnya sangat buruk...
Setelah itu tak ada lagi yang berani menyentuh buah itu, kecuali Qi Xianyu yang justru tertarik. Ia menemukan bahwa orang yang makan buah gila menunjukkan gejala yang berbeda saat kehilangan akal, tapi semuanya merasakan kepuasan luar biasa setelahnya—seperti perasaan lega setelah menyelesaikan sesuatu yang sangat diinginkan.
Qi Xianyu pun berpikir, mungkinkah buah itu bisa membantunya dalam menjalankan tugas? Hasilnya bisa dilihat dari kenyataan bahwa ia hingga kini masih menjaga keperawanannya.
Sejak gurunya mendidiknya menjadi biksuni "bidak catur" seperti itu, dari kecil hingga besar, tak ada satu pun pria yang tidak bersikap sangat sopan dan tunduk di hadapannya.
Apa yang ada di pikiran mereka, Qi Xianyu sangat paham. Semuanya pria bejat, dipenuhi pikiran kotor, sehingga lama-kelamaan Qi Xianyu merasa bahwa semua pria di dunia ini menjijikkan.
Hingga ia bertemu dengan Tang Ning, barulah ia dengan jengkel menyadari bahwa di antara sekawanan gagak hitam, mungkin masih ada satu dua yang berwarna putih.
Awalnya Qi Xianyu ingin memanfaatkan Tang Ning, tapi tak disangka ia justru berbalik dipermainkan. Ketika tadinya ia hanya berpikir cara untuk bertahan hidup, Qi Xianyu malah menjadi sangat tertarik pada Tang Ning setelah menyadari pemuda itu tidak berniat membunuhnya.
Memang ia adalah wanita yang penuh rasa ingin tahu, jika tidak, mana mungkin terpikir menggunakan buah gila untuk menjerat pria-pria busuk yang sangat ia benci.
Di sarang perampok tiba-tiba muncul seseorang seperti Tang Ning, baginya itu hal yang sangat langka. Terlebih lagi, ketika Tang Ning dengan wajah sedih berkata bahwa dirinya menyebabkan kematian seseorang, Qi Xianyu menjadi semakin penasaran.
Dalam pandangannya, semua yang hidup di sarang perampok pasti adalah penjahat yang tak pernah merasa bersalah atau menyesal setelah membunuh. Rasa bersalah dan penyesalan tidak semestinya ada di dunia mereka.
Tingkah laku Tang Ning memang sesuai dengan usianya yang masih muda, ditambah wajah tampannya, Qi Xianyu mengakui bahwa di suatu saat ia pernah merasa iba pada Tang Ning.
Sebenarnya ia sudah cukup menyukai Tang Ning, jika tidak, ia tak akan mengganggu Tang Ning saat sedang membaca buku.
Namun rasa suka itu sirna seketika begitu Tang Ning, dengan wajah usil, tiba-tiba mencubit bokongnya...
“Kau dasar mesum! Tak tahu malu!”
“Cuma dicubit sedikit saja, perlu marah sampai segitunya? Sudah hampir setengah jam kau mengomeliku, kalau begitu kau cubit balik saja, bagaimana?”
“Pergi sana!”
“Tuh kan, disuruh balas cubit malah tak mau, sebenarnya kau maunya apa sih!”
“Dasar mesum! Tak tahu malu! Mati saja sana!”
“Itu... sepertinya agak sulit,” Tang Ning menggaruk kepalanya dengan frustasi. Sudah setengah jam ia membujuk wanita ini dengan kata-kata manis, tapi tetap saja yang ia dapat hanya makian. Hal itu benar-benar membuat Tang Ning terluka hati dan menyesal.
Saat wanita itu menyebut dirinya belum dewasa, entah datang dari mana amarahnya, Tang Ning langsung berjalan dan mencubit keras bokong biksuni itu, hingga akhirnya selama setengah jam berikutnya ia harus rela dihujani makian.
Bahkan setelah kembali melempar wanita itu ke ruang bawah tanah, makian itu belum juga berhenti.
Entah kenapa wanita itu begitu marah. Di atas panggung tadi, ia sendiri yang menempelkan tubuh ke Han Xiong, tapi giliran dirinya mencubit sedikit saja, malah seperti orang gila, seolah ingin menggigitnya sampai mati.
“Kau lapar tidak? Biar aku buatkan makanan ya?” Tang Ning memaksakan senyum. Bagaimanapun, sebelum ia berhasil memancing pertikaian di antara para perampok Gunung Selatan, mereka masih harus hidup bertetangga, jadi tak baik kalau hubungan mereka terlalu tegang.
Qi Xianyu memang benar-benar lapar, kalau tidak ia pasti masih ingin mengomeli Tang Ning satu dua jam lagi. Ia menatap tajam dengan mata membelalak, lalu berkata dengan galak, “Lapar!”
Tang Ning lega, segera berkata, “Kalau begitu tunggu sebentar di sini, aku buatkan bubur untukmu. Tapi kita sepakat dulu, kalau aku sudah buatkan bubur, kau tak boleh memaki lagi. Kalau masih memaki, aku tak akan buatkan makanan.”
“Kalau saja kau tidak bertindak kurang ajar, aku tak akan memaki. Siapa kau, sampai aku repot-repot memakimu?”
“Aduh, Dinda, aku tadi lihat sendiri, Han Xiong memegangimu seperti itu kau diam saja, kenapa giliran aku jadi dianggap melecehkan?”
Qi Xianyu diam, hanya melirik sekilas pada Tang Ning, lalu membalikkan badan membelakangi pemuda itu.
Tang Ning yang merasa ada sesuatu yang aneh, menggaruk kepala dan menghela napas, lalu naik ke rumah panggung untuk memasak bubur bagi biksuni itu.
Ia sama sekali tak memperhatikan bahu Qi Xianyu yang bergetar menahan tangis.
Ketika Liu Ling masuk, Tang Ning sedang menambah kayu bakar ke tungku. Rumah panggung itu sudah dipasangi cerobong asap, jadi asap tidak memenuhi ruangan, melainkan langsung keluar. Setiap kali memasak, Tang Ning selalu teringat pada rumah panggung di desa pelarian dulu yang tidak memiliki cerobong.
“Kau sedang memasak bubur?” Liu Ling tersenyum setelah melihat sekilas. Bubur buatan Tang Ning menurutnya bisa disejajarkan dengan juru masak istana. Bahkan bisa jadi lebih enak dari bubur juru masak istana. Ia menggosok-gosok tangan, duduk dengan patuh di samping, siap-siap menyantap makanan lezat.
Tang Ning melirik Liu Ling, “Kenapa kau ke sini? Bukannya Han Xiong menyuruhmu menyelidiki urusan Zhang Qi?”
“Tak ada yang perlu diselidiki, kita kan sudah tahu masalahnya. Cari saja Wang Liang, tanya sedikit, lalu karang cerita, sudah bisa kembali lapor pada Han Xiong.”
“Pandai juga kau mengakali orang. Heran aku, bagaimana bisa jadi tangan kanan Han Xiong?”
“Hehe, kalau saja saat dikejar pejabat satu hari satu malam, tiba-tiba ada yang muncul menyelamatkan nyawamu dan sampai terluka parah demi kau, kau juga pasti percaya padanya.”
“Han Xiong tak pernah curiga?”
“Kenapa harus curiga? Aku memang hidup dari keahlian mengakali orang. Kalau setiap orang bisa membongkar tipuanku, rumput di atas kuburanku pasti sudah setinggi pohon.”
“Jangan-jangan kau juga menipuku? Kau gali-gali ceritaku sampai habis, padahal aku sudah sering cerita padamu!”
“Jangan suudzon, aku kapan pernah menipumu? Kau memang cerita banyak padaku, tapi aku juga banyak bercerita padamu, kecuali beberapa rahasia yang memang tak bisa diceritakan ke siapa pun, semua yang seharusnya kau tahu sudah aku sampaikan.”
“Itu benar juga, kalau tidak aku tak akan menceritakan soal guruku,” kata Tang Ning, sambil membungkus guci tanah liat dengan kain dan mengangkatnya dari tungku.
Setelah tutupnya dibuka, aroma nasi mengepul harum keluar. Liu Ling sudah siap dengan mangkuk, siap menyantap. Ia melihat Tang Ning memasukkan cukup banyak daging asap hari ini.
Baru saja ingin mengambil, tangannya ditepis oleh Tang Ning. Ia menatap Tang Ning dengan kesal, “Kenapa? Mau makan saja tidak boleh?”
Tang Ning menjawab dengan ketus, “Siapa bilang ini untukmu?”
“Mau makan sendiri? Tang Ning, kau manusia atau bukan?!”
“……”