Buku Kedua: Berjalan di Samping Bunga dan Mengikuti Pohon Willow, Awan Tipis dan Angin Semilir! Bab Tujuh Puluh Tujuh: Bersiap Membuat Tahu
Dulu, saat Tang Ning menghadiri kelas di akademi, ia entah menguap, tidur bersandar di jendela, atau berbalik untuk berbisik-bisik dengan Zhu Mian.
Namun hari ini, ia kembali membuat ulah baru.
Tiga hari yang lalu, ia pergi membantu di kediaman Shen Kuo untuk menyembuhkan gangguan kepribadian ganda Nyonya Zhang—atau lebih tepatnya, bukan disembuhkan, melainkan untuk sementara waktu meredam kepribadian ganda Nyonya Zhang tersebut.
Ia memanfaatkan keimanan Nyonya Zhang yang begitu taat kepada Sang Buddha untuk memperdayanya. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan dan psikologis di masa depan sebagian besar memang diobati dengan cara seperti ini.
Hanya saja, orang-orang di masa depan tidak percaya pada hantu dan dewa, serta tidak memiliki keyakinan keagamaan yang begitu teguh seperti Nyonya Zhang. Oleh karena itu, pengobatannya tentu tidak akan semudah pada kasus Nyonya Zhang ini.
Setelah diundang oleh Shen Kuo, Tang Ning sendiri merasa sangat takjub dengan hasil pengobatan tersebut. Nyonya Zhang, sesosok wanita yang mampu merenggut janggut Shen Kuo beserta kulit dan dagingnya secara mentah-mentah, ternyata bisa bersikap selunak kelinci putih kecil.
Dibandingkan dengan wanita itu, gelar istri teladan dan ibu bijak yang disandang oleh istri gurunya sendiri sepertinya harus rela diserahkan.
Sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, Shen Kuo mengirimkan lima ratus tael perak ke kediaman Tang Ning. Tang Ning, yang sedang pusing memikirkan menu makan malam, seketika menjadi riang gembira. Selain itu, kedai minuman keluarga Shen juga mulai dibangun di kota Runzhou.
Memiliki banyak uang membuat keluarga Tang Ning mendadak lupa diri. Detik sebelumnya masih memikirkan apa yang hendak dimakan malam nanti, detik berikutnya mereka langsung berlari ke kota untuk membeli belasan ekor ayam yang sudah disembelih, serta membawa pulang minyak dalam jumlah berlimpah, bersiap untuk membuat ayam goreng.
Maka hari ini, Tang Ning yang keluar terburu-buru tanpa sempat sarapan akhirnya memakan potongan ayam goreng di dalam kelas.
Agar tidak ketahuan oleh Wang Zhongxian, Tang Ning menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Wang Cang.
Aroma harum ayam goreng itu melayang masuk ke hidung Wang Cang, membuat hidungnya yang mungil mengerut. Ia memiringkan kepalanya, lalu dengan alis bertaut berbisik kepada Tang Ning, "Jangan menggangguku mendengarkan pelajaran!"
Tang Ning mengangguk serampangan, lalu meraih sepotong ayam goreng dan tanpa basa-basi langsung menyuapkannya ke mulut Wang Cang.
Mula-mula Wang Cang berniat menolak, namun ia juga merasa penasaran dengan makanan yang disantap Tang Ning, sehingga tanpa sadar ia membuka mulutnya.
Begitu sepotong ayam itu masuk ke dalam mulutnya, wajah Wang Cang langsung merona merah. Apa yang sedang kulakukan ini! Ia ingin memuntahkannya, namun pendidikan yang ia terima sepertinya tidak pernah mengajarinya untuk membuang-buang makanan. Mau tak mau, ia terpaksa mengunyahnya di dalam mulut.
Kelezatan itu menyebar di rongga mulutnya, membuat mata Wang Cang seketika berbinar. Ia cukup puas dengan rasa tersebut, hanya saja ia tidak begitu menyukai daging.
Jari telunjuk dan ibu jari Tang Ning penuh dengan minyak. Sambil memegang wadah makanan di tangan satunya, ia berbisik, "Bagaimana, enak, kan?"
"Hm, rasanya lumayan, tapi aku tidak suka makan daging." Wang Cang sendiri tidak mengerti mengapa ia malah mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Tang Ning.
Tang Ning berpikir sejenak lalu berkata, "Oh, kalau begitu besok aku akan membawakanmu tahu goreng. Apakah kamu suka makan tahu?"
Pada saat itu, Wang Zhongxian sedang mulai melantunkan bait *Jalur Sulit di Shu* karya Li Bai. Tiga aksara *Yi Xu Xi* diteriakkan oleh Wang Zhongxian hampir seperti raungan, membuat kaget semua orang. Tepat ketika Wang Cang hendak mengatakan kepada Tang Ning bahwa ia menyukai segala sesuatu yang serba nabati, suara Wang Zhongxian sudah telanjur berkumandang.
Wajah Wang Cang terasa terbakar. Sebenarnya apa yang sedang kulakukan ini, mengapa aku malah asyik mengobrol dengan orang menyebalkan ini, bahkan mengabaikan pelajaran ayahku sendiri.
Maka ia pun mendengus pelan, membuang muka, dan tidak lagi memedulikan Tang Ning.
Tang Ning merasa keheranan. Ia semakin mendapati bahwa Wang Cang ini selalu bersikap seperti seorang wanita. Mungkinkah ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua ini? Kudengar kemarin Wang Zhongxian masih menginap di rumah gurunya, kalau begitu haruskah hari ini aku pergi berkunjung ke kediamannya?
Ia kembali mengambil sepotong ayam goreng untuk dilemparkan ke dalam mulutnya, lalu menyerahkan wadah makanan itu kepada Zhu Mian di belakangnya. Zhu Mian dengan sigap menyerahkan sehelai sapu tangan. Tang Ning menyeka tangan dan mulutnya, lalu menyelipkan sapu tangan itu ke dalam jubahnya.
Sepulang sekolah, Tang Ning menyuruh Zhu Mian pulang terlebih dahulu, sementara ia sendiri mengikuti langkah Wang Cang dari belakang sambil tersenyum menyeringai, "Kakak Wang, sudah beberapa hari ini aku tidak berjumpa dengan ibunda tercinta. Adik berniat berkunjung hari ini, bagaimana menurut Kakak Wang?"
Wang Cang melirik Tang Ning sekilas dan berkata, "Tidak usah datang, rumahku tidak menyambutmu."
Tang Ning melangkah maju dan berniat merangkul bahu Wang Cang untuk berbicara, namun Wang Cang dengan gesit merendahkan tubuhnya dan berhasil menghindar. Wang Cang lantas berkata dengan nada geram kepada Tang Ning, "Kau... kau... kau kalau ingin bicara, bicara saja! Kenapa selalu suka meraba-raba orang!"
Tang Ning mengamati Wang Cang dari atas ke bawah, pandangannya sempat berhenti sejenak di bagian dadanya, lalu ia menggelengkan kepala.
"Bagian mana yang kau amati sampai menggelengkan kepala begitu!" ucap Wang Cang dengan nada marah, namun di dalam hatinya ia merasa sangat gelisah. Jangan-jangan pria ini telah mengetahui rahasianya?
"Aku mengerti, Kakak Wang, aku mengerti." Tang Ning berkata dengan nada penuh pemahaman, "Kakak Wang, aku akhirnya tahu mengapa dirimu begitu mirip dengan seorang perempuan."
Wang Cang menelan ludahnya dengan tegang, berusaha memasang sikap tenang sambil berkata, "A... a... aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!"
"Itu karena Tuan Zhu Liu sama sekali tidak punya pengaruh di rumah!"
"Ha?"
"Begini, Tuan di rumah selalu ditindas oleh Nyonya, dan berdasarkan apa yang kulihat hari itu, Nyonya dan kakak perempuan kita memiliki hubungan yang sangat baik.
Dirimu, seorang pemuda laki-laki, seharusnya memiliki hubungan yang lebih dekat dengan ayah. Namun jika kau menjalin hubungan dekat dengan Tuan, Nyonya dan kakak perempuan akan mengucilkanmu.
Oleh karena itu, agar tidak dikucilkan, kau jadi sering menghabiskan waktu bersama kakak perempuan. Lama-kelamaan, kau pun berubah menjadi sosok yang kemayu seperti sekarang ini.
Bukannya aku ingin mencela, Kakak Wang. Kita ini sesama lelaki sejati, bersikap layaknya perempuan sungguh tidak menarik. Yang ini tidak boleh disentuh, yang itu tidak boleh dipegang. Mana bisa begitu kalau ingin berteman? Jangankan berteman, pacaran saja tidak sedibgkat itu susahnya, benar kan?
Merangkul bahumu kulakukan karena aku menganggapmu sebagai saudara baikku. Coba lihat, apa aku pernah merangkul bahu orang lain?"
"Zhu Mian."
"Nah, benar. Coba lihat betapa baiknya hubunganku dengan Zhu Mian. Belakangan ini aku menyadari bahwa kau juga tidak memiliki banyak teman di akademi. Ketika orang lain datang mencarimu, kau justru melemparkan beberapa patah kata dengan dingin.
Kau hanya mengurung diri belajar dengan tekun seperti seorang kutu buku. Cara seperti itu tidak akan berhasil, Kakak Wang.
Akademi adalah tempat berkumpulnya orang-orang sebayanya, dan masa-masa ini adalah waktu yang tepat untuk mencari teman. Entah kau berminat atau tidak, memberikan senyuman kepada orang lain selalu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?
Bayangkan jika seandainya orang-orang di sini kelak menjadi pejabat tinggi di istana, lalu kau hendak merajut persahabatan dengan mereka, tentu kau tidak ingin mereka menuding hidungnya ke arahmu seraya berkata, 'Ah, kau adalah si brengsek yang dulunya tidak pernah memberiku senyuman ramah!' Kan tidak mungkin begitu?"
Wang Cang melirik Tang Ning sekilas. Dalam ingatannya, orang ini tampaknya memang tidak pernah menunjukkan raut wajah ramah kepada siapa pun selain Zhu Mian. Tentu saja, kecuali dirinya sendiri.
Memikirkan hal itu, Wang Cang mendadak teringat: untuk apa juga aku sengaja mengurusi urusan orang ini? Lagi pula, bagaimana bisa tanpa disadari aku sudah mengetahui begitu banyak hal tentangnya?
Rasanya gawat juga...
Sambil terus berbicara, Tang Ning mendekat dengan senyum menyeringai, merangkul bahu Wang Cang, dan memasang raut wajah penuh kelicikan sembari berkata, "Adik tahu Kakak Wang menyukai gadis usia muda. Bagaimana kalau kapan-kapan kita bertiga pergi ke Paviliun Qiancui?
Zhu Mian yang akan mentraktir, kita berdua tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun!"
Awalnya, setelah mendengarkan rentetan ucapan Tang Ning tadi, Wang Cang sempat merasa bahwa dirinya selama ini terlalu kaku dan sengaja menjaga jarak. Ia tidak ingin rahasianya terbongkar, sehingga ia bersikap dingin dan acuh tak acuh kepada semua orang.
Sikap seperti itu juga keliru; konon pertapa sejati bersembunyi di tengah keramaian. Terlalu bersikap eksentrik justru akan mengundang perhatian orang. Memulai pertemanan dari Tang Ning sepertinya adalah pilihan yang cukup baik. Mencoba berteman dengannya, lalu beralih berteman dengan orang lain, dengan begitu tidak akan ada seorang pun yang dapat mendeteksi rahasianya.
Namun, kalimat terakhir Tang Ning justru membuat Wang Cang merasa geram. Burung gagak di dunia ini ternyata memang semuanya berbulu hitam! Lagipula, jangankan menyukai para wanita di tempat semacam itu, usia muda sekalipun tidak akan pernah menarik minatnya.
Dengan penuh amarah, Wang Cang mengibaskan tangan Tang Ning dan membentak, "Enyah kau!" Usai melontarkan kalimat itu, ia dengan bersungut-sungut menaiki kereta kuda yang telah menunggu di gerbang akademi untuk menjemputnya pulang.
Tang Ning ditinggalkan seorang diri berdiri mematung di gerbang sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan kuat, memasang raut wajah kebingungan.
Penjaga gerbang yang sedang bertumpu pada tongkat kayunya entah sejak kapan sudah berdiri di sisi Tang Ning. Dengan nada penuh penghayatan, ia berkata, "Aku tidak dapat melihat rupa asli Gunung Lu, hanya karena aku sendiri berada di dalam gunung ini."
"Pak Tua, hari biasanya bapak jarang sekali berpuisi, kalau mau mengucapkan 'gadis ayu pujaan para pria' saja susahnya setengah mati, tapi hari ini kemampuan sastranya mengalami kemajuan yang pesat ya. Lumayan juga! Aku mendukungmu!"
"Enyah! Pergi sana! Bocah bodoh yang tidak tahu apa-apa!"
Penjaga gerbang itu bergerak secepat kilat, mengangkat tongkatnya dan mengejar Tang Ning untuk memukulnya.
……………………
Di tengah perjalanan pulang, ia sempat mampir ke sebuah bengkel tukang kayu. Selain memantau perkembangan pekerjaan Gongshu Huan, Tang Ning juga memiliki urusannya sendiri yang harus diselesaikan di tempat tersebut.
Usai merampungkan semuanya, Tang Ning menghela napas panjang. Sisa pekerjaan ini tampaknya membutuhkan waktu setidaknya dua bulan lebih untuk bisa diselesaikan. Alangkah senangnya jika ia tidak perlu pergi ke akademi.
Terlebih lagi, hari ini ia sama sekali tidak melakukan hal lain selain membuat satu set cetakan untuk mengepres tahu. Perjalanan ini masih sangat panjang dan penuh tantangan.
Pamit undur diri kepada Gongshu Huan yang sedang terobsesi dengan sepeda karyanya, Tang Ning menyewa sebuah gerobak kuda dan pergi menuju pasar tenaga kerja. Ia membeli sebuah batu gilingan dan meminta pihak pasar untuk mengirimkannya langsung ke rumah. Tak lupa ia juga mampir ke apotek untuk membeli sedikit alkali dapur, serta membeli dua puluh kati kacang kedelai, sebelum akhirnya pulang ke rumah.